
Sudah tengah malam. Tapi Zuin tidak bisa tertidur sama sekali. Ia masih mengingat kejadian ketika Dastin menciumnya tadi dan terus bergerak gelisah di tempat tidur. Sari dan Ayyara sudah masuk sejam yang lalu. Mereka tidak banyak bicara karena sudah kelelahan. Kedua wanita itu sudah ketiduran sekarang.
Zuin membuka matanya lalu menatap langit-langit kamar. Ia menghembuskan nafas berat. Ya ampun, apa yang harus dia lakukan untu melupakan ciuman panas Dastin tadi?
Laki-laki itu benar. Zuin sudah lupa pada gadis yang melompat ke sungai tadi. Karena ciuman pria itu tentu saja. Ia tidak bisa melupakan ciuman itu begitu saja. Kenapa Dastin menciumnya? Memangnya lelaki itu menyukainya? Sepertinya tidak. Dastin mungkin melakukan itu hanya untuk mengalihkan perhatiannya terhadap kejadian di sungai tadi. Kan lelaki itu yang bilang sendiri. Tapi Zuin bingung kenapa dengan dirinya? Entah kenapa ia malah berharap kalau Dastin menciumnya karena memiliki perasaan terhadapnya.
Ah... Gadis itu memilih duduk lalu keluar dari kamar. Mulutnya sudah kering. Ia perlu sesuatu untuk minum. Zuin membuka pintu kamar perlahan-lahan, sangat berhati-hati agar tidak mengganggu dua wanita yang ketiduran tersebut. Ia melangkah ke arah dapur. Mencari-cari dimana letak gelas untuk mengisi air minumnya.
"Kau sedang apa?" bisikan ditelinganya tentu saja mengagetkan Zuin yang tengah serius mencari-cari gelas. Gadis itu terkesiap dan bersiap-siap untuk berteriak kencang namun seseorang yang berbisik padanya tadi cepat-cepat membekap mulutnya.
"Ini aku, jangan teriak." gumam Dastin dengan suara pelannya. Sebelah tangannya tetap setia menutupi mulut Zuin. Ia takut gadis itu akan berteriak dan membuat heboh vila ini. Apalagi ini sudah tengah malam.
Zuin sendiri terus memukul lengan Dastin, seolah menyuruh pria itu untuk menurunkan tangan dari mulutnya. Dastin lalu menurunkan tangannya perlahan, membuat Zuin beraksi cepat mencubit perut Dastin hingga lelaki itu meringis kesakitan.
"Auww... apa yang kau lak..." pekik Dastin pelan. Kalimatnya terhenti saat menatap Zuin yang berkacak pinggang dengan wajah galak didepannya. Dastin jadi ingin tertawa. Ia merasa gemas dengan ekspresi dan penampilan Zuin dalam balutan baju tidurnya. Gadis itu tampak begitu menarik di mata Dastin, bahkan hanya dengan memakai piyama, gairah Dastin seolah bangkit. Keinginannya untuk menyentuh gadis itu makin menjadi-jadi tapi mati-matian ditahannya.
Dastin berusaha sangat keras untuk meredam niatnya menyentuh Zuin. Jangan sampai ia berakhir dengan menyakiti gadis itu. Dastin sadar keberadaan Zuin dalam hidupnya sudah mengubah sebagian besar kebiasaannya. Tapi pria itu tidak menyesal bertemu dengan gadis itu. Meski Zuin sering sekali membuatnya sakit kepala, namun Dastin sama sekali tidak pernah merasa gadis itu mengganggu. Ia telah terbiasa dengan kehadiran Zuin. Dastin yakin kalau suatu hari Zuin tidak tinggal dengannya lagi, dirinya pasti merasa kesepian. Dastin cepat-cepat membuyarkan lamunannya, sekarang ini dia ingin memakai waktunya sebaik mungkin untuk membuat Zuin menyukainya juga.
"Siapa suruh menggangguku. Rasakan itu." pungkas Zuin dengan sikap menantang. Dastin terkekeh. Ia terus mengamati Zuin yang kembali mencari-cari sesuatu. Ketika gadis itu menemukan barang yang dicarinya, ia bersorak gembira.
__ADS_1
"Oh, jadi kau mau minum." ujar Dastin melihat gelas ditangan Zuin. Gadis itu cepat-cepat memasukan air ke dalam gelas tersebut dan meminumnya dalam sekali teguk.
Zuin meletakkan gelas bekas minumnya di atas meja lalu melirik Dastin lagi. Matanya berhenti di bibir laki-laki itu. Ingatan ciuman panas tadi kembali berkelabat dalam pikirannya. Jantungnya kembali berdebar-debar keras. Ya ampun, kenapa dengannya? Niatnya keluar minum untuk menetralkan pikirannya, tapi malah bertemu dengan pria itu lagi.
"A..aku balik ke kamar aja." kata Zuin ingin buru-buru pergi dari hadapan Dastin. Pokoknya dia harus menghindari pria itu. Namun sebelum berhasil meninggalkan tempat itu, Dastin sudah menggenggam pergelangan tangannya. Tidak membiarkan gadis itu pergi.
"Jangan pergi dulu, temani aku sebentar. Kau mau kan?" pinta Dastin menatap Zuin dengan wajah penuh harap. Pikirannya sudah penuh dengan pekerjaan seharian ini dan pria itu merasa kelelahan. Dastin yakin kalau Zuin tidak keluar kamar, pasti dirinya akan terus berkutat dengan pekerjaannya sampai pagi. Untung gadis itu keluar, jadi Dastin bisa sedikit bersantai ditemani gadis itu.
Zuin tidak menjawab. Gadis itu terus menatap Dastin. Kenapa dengan pria itu? Wajahnya kelihatan sangat lelah.
"Ayo." tanpa menunggu jawaban Zuin, Dastin menarik lembut pergelangan tangan gadis itu. Membimbingnya menuju ruang tengah. Mereka duduk bersebelahan di sofa. Zuin tidak menolak. Lagipula dia juga belum mengantuk sama sekali.
"Kenapa?" gumam pria itu.
"Hah?" balas Zuin bingung. Dastin tertawa kecil lalu mengacak-acak rambut ikal yang berkilau indah itu.
"Lupakan. Kenapa belum tidur?" tanya pria itu kemudian.
"Belum ngantuk. Kau sendiri?"
__ADS_1
Dastin menunjuk laptop di atas meja sofa dengan dagunya.
"Pekerjaanku masih menumpuk."
"Kalau begitu kenapa memintaku menemanimu? Bukankah keberadaan aku di sini akan menghambat pekerjaan kamu?"
Dastin melirik Zuin lagi dan menggelengkan kepala.
"Aku ingin bersantai sebentar," ucapnya. Alis Zuin terangkat.
"Terus apa hubungannya denganku?" gadis itu jadi makin bingung.
"Aku hanya ingin kau menemaniku di sini. Tapi kalau kau keberatan, kau bisa masuk." walau gaya bicaranya terkesan cuek, dalam hati Dastin ia berharap Zuin tidak pergi. Dia masih ingin gadis itu bersamanya di sini. Zuin menghela nafas. Baiklah. Dia akan menemani pria itu sebentar.
"Zuin.."
Zuin melirik Dastin. Cara lelaki itu memanggilnya lebih lembut dari biasanya. Tumben sekali. Kedengarannya sedikit aneh.
"Aku mau tidur sebentar. Bangunkan aku tiga puluh menit lagi." lalu tanpa ijin Dastin membaringkan kepalanya di paha Zuin. Menjadikan paha gadis itu sebagai bantalnya.
__ADS_1
Zuin sendiri langsung melotot menatap ke Dastin yang sudah menutup matanya. Oh, jadi ini maksudnya laki-laki itu memintanya menemani pria itu? Cuma untuk menjadi penjaga tidurnya? Ini sih sama saja menyamakan dirinya dengan pembantu. Dastin sialan. Zuin menjadi kesal. Ia berusaha mendorong kepala Dastin dari pahanya tapi lelaki itu sengaja membenamkan kepalanya kuat-kuat hingga Zuin tidak bisa berbuat apa-apalagi. Astaga. Zuin membuang nafas kasar. Akhirnya ia memilih membiarkan pria itu. Ya sudah. Tiga puluh menit tidak terlalu lama. Gadis itu lalu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Ia sama sekali tidak melihat Dastin yang sedang mengulum senyum dengan mata tertutup. Pria itu merasa sangat nyaman berada didekat Zuin. Dia akan tidur sebentar sebelum kembali berkutat dengan pekerjaannya.