
Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya Dastin mengambil keputusan timnya akan bergerak malam ini. Ia rasa sudah jelas sekali penjelasan Dian tadi. Mereka tidak perlu lagi menyelidiki siapa pelaku pembunuhan tersebut. Karena Dian sudah memberitahukan semuanya. Beberapa anggota timnya juga telah berhasil mengumpulkan bukti-bukti kejahatan lain geng tersebut, termasuk transaksi jual beli narkoba. Sekarang, mereka tinggal menemukan bukti rekaman dan mengepung markas para penjahat-penjahat itu untuk menangkap mereka. Tentu saja Dastin dan timnya bekerja sama dengan polisi daerah.
Dastin telah mengatur posisi masing-masing anggota timnya. Sari dan Ayyara dia perintahkan ikut bersama Dian untuk menemukan rekaman cctv. Dian memang bilang bahwa dia terus mengamati Maria dan mencari tahu di mana gadis itu menyimpan video yang dia rekam. Tapi gadis itu tidak menemukan video yang dia cari di laptop Maria, ataupun ponsel gadis itu yang pernah diam-diam dia curi. Entah dimana Maria menyimpannya. Mungkin juga Maria sudah menghapus rekaman tersebut karena Nia dan Alika sudah meninggal.
Dian merasa dirinya sangat jauh berbeda dengan Dastin yang begitu pintar. Padahal dia tahu lokasi pemerkosaan dua remaja tidak bersalah tersebut, dan berkali-kali datang ke tempat itu. Tapi matanya tidak jeli melihat bahwa ternyata ada cctv dari arah toko bagian utara. Yang jaraknya sangat dekat dengan TKP. Kalau orang-orang tidak memperhatikan, mereka tidak akan tahu kalau di tempat itu ada cctv nya.
Mereka sudah cek dan cctv tersebut tidak ada kerusakan sama sekali. Artinya, kemungkinan besar kejahatan yang dilakukan para anggota genk berandalan itu terekam dengan jelas dari arah cctv. Mudah-mudahan saja para pelaku kejahatan tersebut tidak menyadari ada cctv dibagian situ. Dastin berharap malam ini semua akan berjalan lancar sesuai dengan keinginannya. Para manusia-manusia jahanam itu bisa tertangkap, dan mereka bisa menghukum berat para bandar narkoba dan pelaku pembunuhan tersebut.
"Bagaimana? Sudah ada kabar dari Sari?" tanya Rivo menoleh ke Gilang. Mereka sekarang sedang bersembunyi diluar markas genk tersebut. Menunggu laporan Sari dan perintah Dastin. Saat Gilang hendak menggeleng, ponselnya bergetar. Ia dan Rivo saling menatap. Lalu Gilang merogoh ponsel disakunya dan menempelkan ke pipi. Ia sudah tahu kalau itu Sari.
"Gimana Sar?" tanyanya setengah berbisik.
__ADS_1
"Kami sudah menemukan cctv nya, kalian bisa bergerak sekarang."
Gilang tersenyum puas. Setelah lebih dari seminggu mereka bekerja mati-matian di desa ini, akhirnya hari ini datang juga. Pria itu langsung menutup telpon dan memberi kode pada Dastin di ujung sana. Setelah itu, Dastin mengatur posisi kemudian mulai memberi kode dengan walkie-talkie, sesudah itu Dastin mengeluarkan pistol dari jaket anti pelurunya. Beberapa polisi daerah bersembunyi di tempat-tempat yang tidak terlihat dan akan keluar saat dibutuhkan. Sesaat kemudian mulai terdengar suara-suara tembakan dari berbagai sisi. Aksi saling tembak itu berlangsung lama karena genk tersebut memiliki cukup banyak anggota, mereka juga memakai senjata yang kemungkinan dibeli secara ilegal. Sungguh, Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang. Namun akhirnya, tim Dastin dibantu polisi daerah tersebut berhasil meringkus belasan orang anggota genk tersebut. Termasuk seorang perempuan. Satu-satunya perempuan yang sengaja bersembunyi namun ketahuan juga. Mungkin itu Maria yang disebutkan Dian siang tadi, pacarnya ketua genk.
***
Sementara itu dikantor polisi, Zuin terus bergerak-gerak gelisah. Gadis itu merasa kesal bukan main. Berani-beraninya Dastin menitipnya dikantor polisi bahkan di jaga ketat oleh lelaki tua berbadan gempal didepannya sekarang ini. Dastin sialan. Padahal baru kemarin dia memuji lelaki itu. Tapi sekarang dirinya dibuat kesal lagi.
Zuin membanting-banting kakinya saking kesalnya. Ia makin kesal karena polisi bertubuh gempal didepannya terlihat sedang menertawainya.
__ADS_1
"Tenanglah nona, tidak usah khawatir. Pacarmu pasti balik kok, tidak akan terjadi apa-apa pasti." ujar polisi didepannya itu. Polisi itu hanya menambah rasa kesal di hati Zuin. Apa katanya? Siapa yang khawatir? Dan... Dastin pacarnya? Sejak kapan?
"Aku single om! Laki-laki tembok itu bukan pacarku, om jangan ngarang deh!" ketus Zuin memanggil polisi didepannya itu dengan sebutan om. Beberapa petugas yang berada di dalam situ sampai takjub seketika mendengar perkataannya. Pantas saja ketua tim BIN itu menitipkan gadis itu. Polisi bertubuh gempal itu hanya tertawa. Sesaat kemudian tim Dastin muncul dari pintu arah masuk. Para anggota polisi membawa belasan remaja tersebut untuk dimasukkan ke dalam sel sebelum di sidang.
Zuin berdiri dari kursinya dan menoleh ke belakang. Pandangannya tanpa sengaja bertemu dengan Maria. Ia merasa serba salah dan bingung harus tersenyum pada gadis itu atau tidak. Kan Maria itu ternyata jahat, sudah melakukan hal yang keji dan tidak merasa bersalah sama sekali.
Maria sendiri merasa bingung melihat Zuin yang berada dikantor polisi. Dia pikir gadis itu melakukan pelanggaran dan ditangkap, namun ketika melihat seorang laki-laki tinggi tampan yang meringkus mereka tadi mendekati dan berbicara dengan Zuin, Maria langsung tahu menyimpulkan kalau Zuin juga adalah salah satu dari mereka. Seperti Dian yang menyamar. Maria membuang mukanya dengan emosi, dan menatap ke arah lain sampai mereka menghilang dari situ dan di masukkan ke sel bersama-sama.
Zuin sendiri yang dihampiri Dastin cepat-cepat membuang muka tidak mau melihat lelaki itu. Ia masih kesal karena kejadian pria itu dengan tegas mengatakan jangan membantahnya. Dastin terkekeh. Biarkan saja gadis itu marah padanya. Dia lebih memilih Zuin marah, daripada gadis itu harus berada di tempat yang tidak aman. Pandangan Dastin berpindah ke polisi berbadan gempal didepan mereka. Ia membungkuk hormat pada pria tua yang ternyata kepala polisi daerah itu.
"Aku ingin berterimakasih atas kerjasama anda dan tim anda terhadap kasus ini. Semua bukti yang kami perlu untuk persidangan akan segera kami kirim ke kejaksaan." kata Dastin menjelaskan. Kepala polisi itu mengangguk sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
"Kami juga berterimakasih atas kerjasama kalian." ucapnya. Pandangannya berpindah ke Zuin. Kepala polisi itu tertawa pelan karena sejak Dastin bicara tadi, ia melihat gadis yang berdiri dibelakangnya terus meniru gaya bicara pria itu dengan gaya meledeknya. Kening Dastin terangkat, ia lalu menoleh kebelakang. Zuin yang menyadari cepat-cepat bersikap seperti biasa, tapi Dastin tentu saja langsung tahu apa yang sedang dilakukan gadis itu tadi. Ia sempat melihatnya walau hanya sebentar.
Tak lama kemudian, Gean, Gilang dan Rivo kembali ke situ setelah membantu memasukkan para tahanan ke sel. Sari, Ayyara dan Dian juga muncul dari depan bersama-bersama. Mereka semua berjalan mendekat Dastin dan Zuin. Setelah itu, mereka pamit dari kantor polisi tersebut dengan perasaan lega.