
Selama perjalanan menuju rumah orang tua Dastin yang letaknya entah di mana itu, Zuin tak berhenti-berhenti mengutuk pria itu dalam hati. Siapa yang tidak kesal coba kalau tiba-tiba mau dibawa ke rumah calon mertua tanpa persiapan apa-apa. Eh..?
Zuin menepuk-nepuk pipinya menyadarkan dirinya sendiri. Calon mertua? Tidak, tidak. Kali ini gadis itu menggeleng-geleng kepala. Ya ampun Zuin, kau terlalu percaya diri dengan mengklaim orangtua Dastin sebagai calon mertua kamu. Memangnya mereka akan menerimamu sebagai menantu mereka? Belum pasti juga. Zuin terus bergumam dalam hati.
Zuin bahkan tidak sadar saat Dastin menghentikan mobilnya didepan sebuah gerbang besar yang menjulang tinggi. Nanti setelah pria itu mengambil remote kecil dari dalam laci dasbord mobil, barulah Zuin sadar. Sepertinya mereka sudah sampai di rumah orang tua Dastin.
Zuin melihat pria itu menekan salah satu tombol di remote yang dipegangnya lalu gerbang besar itu terbuka dengan sendirinya.
Dalam hati Zuin bersorak takjub. Ternyata rumah orangtuanya Dastin memiliki kecanggihan seperti ini. Nanti kalau ayahnya telah selesai melakukan misinya dan dia sudah balik ke rumahnya lagi, Zuin akan minta ke ayahnya supaya membuatkan gerbang rumah seperti ini. Dastin melirik gadis itu sebentar sambil tersenyum kecil dengan wajah takjub Zuin yang lucu, kemudian melajukan kembali mobilnya masuk ke dalam gerbang. Rumah keluarganya ini sangat besar dan halamannya sangat luas, bahkan mereka masih harus melewati jarak kira-kira seratus meter untuk sampai ke garasi rumah.
Pandangan Zuin teralihkan pada rumah mewah yang bernuansa modern, dengan hampir sembilan puluh persen dindingnya yang terbuat dari kaca. Rumah Zuin bahkan kalah besarnya dengan rumah orangtua Dastin. Zuin sampai mangap-mangap sendiri melihatnya. Ternyata Dastin sangat kaya. Zuin kagum melihat rumah megah itu. Itu seperti rumah impiannya. Tiba-tiba gadis itu merasa iri pada Dastin. Sudah tampan, punya kerjaan bagus, latar belakang keluarganya pun tidak main-main. Cih, bikin iri.
Mata Zuin kembali fokus melihat bangunan megah dengan nuansa putih hitam dan kolam kecil didepannya. Belum lagi halaman besar yang dihiasi dengan tumbuh-tumbuhan hijau yang tertata rapi. Itu baru luar rumahnya saja. Bagaimana dengan dalamnya? Zuin jadi penasaran. Tapi gadis itu langsung sadar alasan kenapa dirinya berada di sini sekarang. Kekagumannya akan rumah megah itu tiba-tiba hilang seketika. Dirinya berubah gugup. Bisa tidak bilang ke Dastin kalau dia belum siap bertemu dengan orangtuanya lelaki itu?
__ADS_1
"Ayo turun." ucap Dastin setelah memarkir mobil di garasi mobil. Zuin tidak menjawab apa-apa, juga tidak menatap pria itu sama sekali. Pandangannya hanya lurus ke tembok didepannya sambil kedua jemarinya saling meremas.
Dastin sadar sepenuhnya kalau gadis itu mungkin belum siap bertemu orangtuanya. Kelihatan sekali dari gayanya. Tapi mereka tidak punya waktu lain. Bukan karena kesibukan Dastin, tapi papa dan mamanya yang akan segera berangkat ke Austria besok. Pasangan suami istri tersebut akan berada di sana selama sebulan karena urusan bisnis. Mama Dastin yang bilang sendiri saat menelponnya kemarin. Jadi Dastin harus memakai kesempatan hari ini untuk memperkenalkan Zuin pada kedua orangtuanya. Tidak mungkin kan pria itu mempertemukan Zuin dan orangtuanya saat keduanya sudah menjadi suami istri. Bisa-bisa mama dan papanya langsung menghapusnya dari kartu keluarga lagi.
"Zuin, ayo turun." gumam Dastin lagi. Gadis itu belum bergerak-gerak juga. Zuin malah menggeleng-geleng kuat tanda tidak mau, membuat Dastin berdecak pelan.
"Kau saja yang masuk. Aku tidak berani. Nyaliku sudah hilang. Bagaimana kalau aku tiba-tiba di usir oleh orangtuamu karena mereka menyangka kamu bawa pulang seorang pembantu? Lihat baju yang aku pakai ini, sangat biasa. Dibandingkan dengan rumahmu, pakaian aku tidak ada apa-apanya. Pokoknya aku nggak mau masuk sebelum pakaianku serasi dengan rumah ini, titik!"
ucapan panjang lebar Zuin sukses membuat Dastin tercengang. Zuin memang ahli membuatnya sampai tidak bisa berkata-kata. Darimana gadis itu bisa memikirkan ucapan seperti itu? Cara pikir gadis itu terkadang memang aneh.
"Mau turun sendiri atau kau mau aku gendong sampai ke dalam rumah?" ancam pria itu memberi Zuin pilihan.
Zuin membulatkan kedua matanya lebar-lebar, tapi hanya sebentar. Gadis itu lalu mengganti wajahnya dengan ekspresi memelas didepan Dastin.
__ADS_1
"Aku ketemu orangtua kamu lain kali aja yah?" pinta Zuin. Ia meraih pergelangan tangan Dastin sambil menggoyang-goyangkan tangan pria itu dengan wajah yang terus memelas. Dastin tertawa kecil. Zuin sangat manis kalau bersikap manja begini. Sayangnya Dastin tidak bisa mengabulkan permintaan gadis itu yang satu ini. Zuin bisa meminta apapun padanya, tapi permintaan yang ini tidak akan dia kabulkan. Demi kelancaran pernikahan mereka nanti tentu saja.
"Ayo. Aku janji akan terus disamping kamu." gumam Dastin lalu meraih pinggang Zuin, membuat gadis itu mau tak mau menurut saja dan turun dari dalam mobil sambil mengerucutkan bibir.
***
Dastin terus menggenggam jemari Zuin ketika mereka memasuki rumah besar itu. Ia ingin Zuin tahu kalau dirinya akan selalu menepati janjinya. Saat mereka sampai didepan pintu masuk, beberapa pelayan yang berbaris rapi di sana dengan kompak menunduk hormat.
"Tuan muda!" seru mereka serempak dan sama-sama membungkuk hormat. Zuin mau tertawa tapi ditahannya. Ternyata banyak pelayan di rumah ini, bahkan mereka memanggil Dastin dengan sebutan tuan muda. Seperti di film-film saja. Zuin pikir pelayan di rumah orangtua Dastin tidak akan sebanyak ini, ternyata dugaannya salah. Didepan saja yang tidak begitu kelihatan, ternyata mereka semua terkumpul di bagian-bagian tempat tertentu di dalam rumah besar itu.
Mereka melewati cukup banyak pelayan hingga keduanya sampai di ruang tamu. Di sana duduk seorang wanita paruh baya yang tampak fokus menikmati teh sorenya dengan gaya elegan. Di sisi yang lain samping kiri, duduk juga seorang laki-laki paruh baya yang tengah membaca buku dengan wajah seriusnya. Apa itu orangtua Dastin? Memang sih kalau dibanding dengan ayahnya, ayahnya jauh lebih muda dari mereka, tapi pasangan itu terlihat sangat berwibawa. Namun bukan berarti ayahnya tidak berwibawa. Sih Barry-Barry itu sangat berkarisma malah, juga tampan. Kalau tidak, dia tidak mungkin tumbuh secantik ini.
"Ma, pa, ini Zuin, calon istri yang kemarin aku bilang akan aku bawa ke sini." ucap Dastin tanpa basa-basi.
__ADS_1
Perkataan itu bukan hanya membuat pasangan paruh baya yang sedang duduk dengan kesibukan masing-masing itu menatap Zuin, tapi sukses juga membuat para pelayan yang berdiri dekat situ sama-sama menatap Zuin, seolah tidak percaya gadis itu adalah perempuan yang akan dinikahi oleh Dastin. Sementara Zuin sendiri sudah tidak sanggup membendung rasa malu dan gugupnya. Ia meremas kuat-kuat tangan Dastin yang menggenggamnya sejak masuk tadi. Dastin ini sangat ahli membuat jantungnya terasa mau copot.