Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
61


__ADS_3

Tuan Lemuel dan istrinya saling berpandangan. Ini pertama kalinya Dastin membawa seorang perempuan ke rumah. Bahkan memperkenalkannya sebagai calon istri. Saat mereka berbicara ditelpon kemarin, pasangan suami istri itu berpikir Dastin hanya bercanda. Ternyata benar. Dastin benar-benar membawa seorang gadis.


Mama Dastin, wanita elegan yang biasa di panggil nyonya Rika itu meletakkan gelas berisi teh yang diminumnya lalu menatap lurus ke Zuin, mengamati gadis itu dengan saksama. Sejak tadi ia melihat putra tunggalnya tidak melepas-lepas genggamannya dari tangan gadis disampingnya. Nyonya Rika tertegun sebentar, benarkah laki-laki yang berdiri didepannya sekarang adalah putra kandungnya? Pria itu tampak berbeda. Putranya biasanya tidak akan pernah mau berdiri sedekat ini dengan yang namanya perempuan. Tapi sekarang malah sebaliknya. Padahal dulu, waktu Dastin mau Rika jodohkan dengan anak sahabatnya, Dastin bertingkah seolah laki-laki itu tidak akan pernah pacaran.


Entah apa yang ada dalam diri gadis muda yang dibawa Dastin ini, yang membuat sang putra tertarik. Nyonya Rika berdeham sambil berpura-pura memasang wajah datarnya. Biar terlihat berwibawa didepan gadis disamping Dastin.


"Kalian sudah ada? Duduklah." ucap tuan Lemuel, papa Dastin. Kali ini Dastin melepaskan pergelangan tangan Zuin lalu mendorong pelan bahu gadis itu duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan orangtuanya.


"Dastin, calon istrimu ini kelihatan masih sangat muda. Berapa umurmu sayang? " ujar nyonya Rika sekaligus bertanya sambil menatap lurus ke Zuin. Kali ini wanita tua itu sudah mulai terlihat bersahabat. Dimatanya Zuin memang masih terlihat sangat muda. Tapi parasnya sangat cantik. Kalau gadis itu mengandung anak dari Dastin, entah bagaimana paras anak mereka nanti.


Zuin yang mendapatkan pertanyaan itu, berdeham pelan, berusaha mengatur nafas dan menghilangkan rasa gugupnya. Ia merutuk dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia gugup begini. Pokoknya dia harus berusaha membangun citra baiknya didepan orangtua Dastin. Setelah berhasil mengontrol dirinya sendiri, Zuin mengangkat wajah menatap papa dan mama Dastin bergantian sambil menunjukkan senyum terbaiknya.


"Halo om, tante." sapanya sopan.

__ADS_1


"Perkenalkan namaku Zuin, umur aku dua puluh tahun. Belum setua Dastin." tambah gadis itu memperkenalkan diri. Dastin sampai meliriknya dengan wajah menahan kesal karena umur pria itu ikut dibawa-bawa. Ia bahkan bisa mendengar gelak tawa pelan papa dan mamanya. Pasangan itu tentu saja sedang menertawainya karena perkataan Zuin barusan.


"Kamu tahu aja kalo Dastin udah tua. Belum nikah-nikah lagi padahal umurnya udah mau kepala tiga." seru sang mama. Dia mulai merasa cocok dengan gadis yang dibawa Dastin tersebut. Pantas saja Dastin bisa kepincut sama gadis muda ini. Kelihatan menarik dan lucu begini. Secuek dan sedingin-dinginnya seorang Dastin, pasti akan luluh juga kalau gadisnya menarik semacam Zuin ini. Contohnya sudah didepan mata.


"Kalau begitu kamu masih kuliah?" giliran tuan Lemuel yang bertanya. Zuin mengangguk. Kali ini pandangan tuan Lemuel berpindah-pindah dari Dastin dan Zuin. Yang satunya sudah di umur yang pas buat menikah, yang satunya lagi masih terlalu muda. Memang untuk usia menikah gadis itu sudah bisa menikah muda, tapi bagaimana dengan orangtuanya? Apa mereka setuju?


Berbeda dengan istrinya yang tidak peduli dengan latar belakang keluarga wanita yang akan menjadi menantu mereka, tuan Lemuel malah ingin tahu seperti apa latar belakang gadis itu. Bukan tidak setuju kalau seandainya Zuin berasal dari keluarga miskin, tuan Lemuel lebih ke ingin tahu apa gadis itu berasal dari keluarga baik-baik atau tidak. Bisa saja kan perempuan yang dibawa putranya ini hanya menyukai harta Dastin, tidak benar-benar mencintai pria itu.


"Kau yakin dengan keputusanmu?" tanya tuan Lemuel menatap Dastin. Zuin juga menatap lelaki disampingnya itu, mama pria itu juga. Dastin sendiri tanpa berpikir langsung mengangguk dengan pasti. Sejak dia mengambil keputusan tersebut, pria itu tidak akan pernah mencabutnya. Apalagi Zuin sudah dirusak olehnya. Dia harus bertanggung jawab secepat mungkin untuk mencegah segala kemungkinan. Bisa saja kan gadis itu hamil. Dastin masih ingat waktu itu ia mengeluarkan sperm*nya di dalam Zuin. Kalau mereka melakukan hubungan itu di masa subur Zuin, ada kemungkinan gadis itu akan hamil.


"Bagaimana dengan orangtuanya, mereka sudah tahu?" tanya papa Dastin lagi. Dan kembali di jawab dengan anggukan kepala Dastin.


"Aku baru saja bicara dengan papanya pagi tadi, dan papanya sudah setuju kami menikah." papa dan mama Dastin lagi-lagi saling berpandangan. Mereka makin heran karena putra mereka benar-benar tidak main-main saat bilang mau menikah. Zuin sendiri merasa heran. Ia menatap Dastin dengan mata melototnya.

__ADS_1


"Kok papa langsung setuju sih? Kan dulu papa aku nggak pernah ijinin aku deket sama yang namanya laki-laki? Apa jangan-jangan kamu sengaja bilang mau beli aku yah? Dan papa setuju jual aku ke kamu?" seru gadis itu tanpa pikir panjang. Caranya menuduh sang ayah yang tidak salah apa-apa membuat orang-orang yang tidak mengenal Barry merasa kalau pria itu adalah seorang ayah yang brengsek.


"Dastin, maksud dia apa? Kamu sengaja maksa buat nikahin anak orang?!" kali ini sang mama yang berseru tidak percaya. Mana mungkin putranya melakukan hal itu.


Dastin membuang nafas kasar. Pria itu mendelik tajam ke Zuin yang kini menunduk, menyadari perkataannya yang tidak masuk akal. Ia lebih merasa berdosa ke ayahnya yang tidak salah apa-apa. Dia tahu sang ayah bukan tipe seperti itu. Hanya saja gadis itu terlalu kaget tadi, makanya perkataan ceplas-ceplosnya keluar.


"Bukan begitu ma. Profesor Barry sama sekali tidak menjual putri nakalnya ini. Yang benar itu adalah, aku ingin segera menikah dengan bocah ini karena kami sudah berhubungan, aku juga menyukainya. Dan aku harus bertanggung jawab karena sudah merusaknya. Ayahnya sudah tahu tentang itu, itu sebabnya dia setuju dengan pernikahan ini." ucap Dastin menjelaskan. Sebenarnya dia tidak mau bilang sampai sejauh itu, tapi karena Zuin... Dia harus mengatakan semuanya pada orangtuanya. Dastin bisa melihat wajah kaget papa dan mamanya seolah tidak percaya dengan apa yang baru dia katakan. Sementara wajah Zuin sudah merah seperti tomat. Tentu saja gadis itu malu.


"Hubungan maksudmu... Kalian berdua..." ucap mamanya sambil telunjuk kanan dan kirinya saling bersentuhan.


"Mm. Hubungan yang seperti itu." sahut Dastin membenarkan. Mendengar itu, mamanya langsung bersorak gembira. Sementara tuan Lemuel lebih sibuk memikirkan nama profesor Barry yang Dastin sebutkan tadi. Ia seperti mengenal nama itu.


"Kalian sudah melakukannya berapa kali? Ada kemungkinan nggak kalau cucu mama akan lahir?" seru nyonya Rika heboh. Zuin sampai terbatuk-batuk mendengarnya. Sementara Dastin? Pria itu malah senyum-senyum melihat wajah malu Zuin. Salah gadis itu sendiri yang bicara asal tadi.

__ADS_1


__ADS_2