
Sudah dua hari berlalu semenjak Zuin pergi menemui Ketty di tempat tinggal gadis itu. Semenjak itu, saat Zuin menelpon Ketty, Ketty tak pernah angkat. Zuin pun tak menyerah dan mengirimi Ketty pesan what's up, Ketty memang membalasnya. Namun gadis itu terus beralasan kalau akhir-akhir ini dia lagi sibuk sekali membantu mamanya.
Tentu saja Zuin makin merasa ada yang aneh. Sebenarnya ada apa dengan Ketty? Kenapa semenjak dia kembali dari pedesaan, Ketty seperti terus menghindarinya? Padahal dia ingin sekali curhat dan meminta pendapat Ketty tentang Dastin. Sudah dua hari lewat dan Zuin janji akan memberikan Dastin kepastian besok. Dalam hati Zuin, gadis itu memang sudah punya jawaban sendiri. Tapi dia juga perlu meminta pendapat orang lain. Seperti Ketty atau orang terdekat lainnya, yang bisa memberinya masukan-masukan.
Zuin berpikir keras. Ia mengambil ponsel di tas tangannya dan membuka daftar panggilan. Ketty tidak bisa lagi menjadi harapannya untuk meminta pendapat, kira-kira siapa yang bisa selain Ketty? Gadis itu melihat nama-nama siapa saja yang ada dalam daftar panggilan hpnya.
Kak Nevan? Zuin menimbang-nimbang sebentar. Kak Nevan memang jauh lebih dewasa dan lebih berpengalaman dari Ketty, tentu saja pendapatnya pasti akan sangat berguna buat Zuin. Tapi pria itu akhir-akhir ini sedang sibuk sekali membantu ayahnya.
Ngomong-ngomong soal ayahnya, Zuin jadi sadar sendiri. Bukannya yang pertama kali itu dia harus bertanya pada sang ayah? Kan tidak mungkin dirinya menikah tanpa bilang-bilang pada keluarga satu-satunya itu. Apa dia menemui ayahnya saja? Tapi Zuin merasa dia juga perlu bertanya pada orang dekat lainnya selain sang ayah.
Kalau kak Nevan sibuk... Pandangan Zuin berhenti ke nama Nako yang ada di daftar panggilannya. Oh iya! Kenapa dia jadi lupa sama Nako? Pria itu kan termasuk sahabatnya. Baiklah. Zuin sudah mengambil keputusan. Ia akan curhat dan meminta pendapat laki-laki itu. Semoga saja Nako bisa memberikan pendapat yang baik. Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu langsung menghubungi Nako.
***
Di tempat lain,
__ADS_1
"Kau bilang apa? Kau ingin segera menikahi putriku?" profesor Barry melepaskan semua pekerjaannya sebentar dan menatap Dastin dengan raut wajah seolah tidak percaya.
Pria paruh baya itu ingat beberapa minggu lalu ia pernah meminta Dastin untuk menjalin hubungan yang dekat dengan Zuin. Tapi ia tidak menyangka hari ini Dastin tiba-tiba datang dengan kalimat yang membuatnya terheran-heran. Barry tidak akan menentang hubungan Zuin dan Dastin kalau mereka memang benar-benar saling menyukai. Pria itu juga memang mengharapkan hal itu terjadi. Tapi, segera menikah? Kenapa secepat itu?
"Rencana awalku adalah menikah secara hukum dulu. Pesta resepsinya akan diadakan setelah tugas anda selesai." jawab Dastin tanpa basa basi. Ia tidak merasa gugup sama sekali berhadapan dengan profesor terhormat itu.
"Kenapa terburu-buru? Zuin sudah setuju? Apa pendapatnya?" tanya Barry lagi. Ia sedikit ragu dengan putri nakalnya yang mau menikah di umur yang terbilang masih masih muda. Zuin tumbuh dengan pemikirannya yang sangat bebas. Ingin melakukan apa saja yang dia mau. Jadi, wajar Barry berpikir kalau putrinya itu tidak ingin menikah muda. Namun sekali lagi, itu hanya pendapatnya. Mungkin saja pendapat Zuin berbeda.
"Aku sudah berhubungan dengan Zuin, dan aku harus bertanggung jawab untuk itu." jawab Dastin mengatakan yang sebenarnya. Profesor Barry mengerutkan kening.
"Berhubungan? Maksudmu kalian... jangan bilang hubungan yang kau maksud adalah... Kau meniduri putriku?!" kalimat terakhir Barry ia ucapkan dengan nada tinggi. Ya ampun. Apa-apaan ini. Putrinya yang polos sekali dalam hal berhubungan dengan pria itu sudah tidak perawan lagi? Dia salah dengar bukan?
Barry mengusap wajahnya kasar. Ia tampak sangat kesal.
"Kalau anda ingin memukulku silahkan. Aku memang salah." kata Dastin lagi dengan sikap jantan.
__ADS_1
Barry menatap Dastin. Terlepas dari rasa marahnya dengan apa yang pria itu lakukan terhadap putrinya, Barry merasa sikap Dastin sangat gentle dan bertanggung jawab. Jarang ada laki-laki seperti itu di jaman sekarang ini. Itu sebabnya sejak awal dia sengaja membuat Zuin di jaga oleh lelaki seperti Dastin. Bahkan berharap mereka cocok dan bisa menjalin hubungan. Selain itu, Dastin juga berasal dari latar belakang keluarga yang terhormat. Kalau Zuin bersama dengan pria seperti Dastin yang memiliki paket lengkap itu, Barry sudah tenang.
"Aku menyuruhmu menjaganya, tapi kau malah merusaknya." ujar profesor Barry menatap Dastin tajam. Sementara Dastin hanya diam, apapun yang akan di katakan oleh laki-laki paruh baya itu, dia akan mendengarnya.
"Bagaimana keadaan putriku? Dia baik-baik saja bukan? " tanya Barry kemudian. Dastin menganggukkan kepala.
"Zuin sangat baik. Akhir-akhir ini dia tidak mengacau lagi. Gadis itu mulai patuh padaku." kata Dastin. Barry tertawa kecil.
"Awal-awal kalian bertemu, aku lihat Zuin sangat memusuhimu. Aku tidak menyangka saja anak nakal itu akan patuh secepat itu padamu. Mungkin dia memang menyukaimu." ucap lelaki tua itu. Dia kenal sekali putrinya gadis yang seperti apa. Kalau tiba-tiba dia patuh pada orang, artinya dia menyukai orang tersebut.
Seperti pada Nevan. Namun cara Zuin menyukai Nevan dan Dastin tentu saja berbeda. Dari kecil Zuin menganggap Nevan lebih seperti kakak, sedang Dastin, tentu saja gadis itu menganggap Dastin berbeda. Lebih ke seorang pria yang dia sukai.
"Satu hal lagi yang perlu kutanyakan." kata profesor Barry lagi menghadap Dastin.
"Apa kau menyukai putriku, atau kau menikahinya hanya karena kau ingin bertanggung jawab?" setidaknya Barry harus memastikan, karena dia tidak ingin putrinya menikahi dengan pria yang tidak mencintainya.
__ADS_1
"Setelah Zuin tinggal bersamaku, aku sadar aku mulai menyukainya. Perasaan itu perlahan-lahan tumbuh makin besar sampai aku ingin memilikinya." balas Dastin tulus, sesekali ia tersenyum ketika Zuin hadir dalam ingatannya. Barry tercengang menatap laki-laki itu. Ia bisa lihat ketulusan dalam mata Dastin. Tidak perlu mengujinya lagi. Barry menarik nafas panjang.
"Baiklah. Kalau kalian memang sudah tidur bersama, cepat urus pernikahan kalian. Aturlah seperti rencanamu tadi. Dan ingat, kalau kau berani menyakiti Zuin, kau tahu aku tidak akan tinggal diam kan?" kata pria itu. Kalimat terakhir ia ucapkan dengan nada penuh peringatan. Dastin langsung menunduk hormat sambil berterimakasih pada sang profesor. Ia merasa lega sekaligus senang karena berhasil mendapat ijin laki-laki tua itu. Sekarang tinggal menunggu jawaban setuju dari Zuin, gadis yang akan dia nikahi.