Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
36


__ADS_3

Gadis remaja itu...


Gadis itu dengan nekatnya terjun bebas ke sungai. Ya Tuhan... Dastin mengusap wajahnya kasar. Ia sudah tidak melihat tubuh gadis remaja yang jatuh kira-kira sebelas meter jaraknya dari mereka. Arus sungai sangat kuat sehingga gadis itu langsung terbawa arus. Sialan.


Dastin menurunkan sebelah tangannya yang mendekap Zuin, pria itu cepat-cepat mengeluarkan ponsel dari sakunya. Setidaknya dia harus melapor pada pihak kepolisian daerah itu sekarang juga.


"Halo, aku ingin membuat laporan." Dastin melirik jam tangannya sebentar lalu kembali bicara lagi.


"Sekitar pukul empat lima puluh, seorang remaja melompat ke sungai. Tubuhnya terbawa arus. Aku tidak tahu dia masih hidup atau tidak."


Dastin menjelaskan. Pria itu menunggu jawaban dari pihak kepolisian yang dia telpon tersebut sebelum akhirnya menutup telpon. Setelah itu Dastin menghubungi salah satu anggota timnya. Tim mereka harusnya ikut membantu.


Dastin menghembuskan nafas kasarnya. Ia masih tidak menyangka akan melihat kejadian ini secara langsung. Astaga, bisa-bisanya gadis remaja itu mengakhiri hidupnya dengan cara mengerikan seperti ini. Mata pria itu turun ke bawah. Pada Zuin yang kepalanya terus bersandar di dadanya. Sejak tadi gadis itu tidak bicara sepatah kata pun.


Dastin memegangi kepala Zuin, membuat gadis itu menatapnya untuk mencari tahu kondisinya. Ia merasakan tubuh gadis itu sedikit bergetar. Pasti Zuin sangat syok. Seberani apapun juga, kejadian seperti tadi pasti pertama kalinya di alami oleh gadis itu, wajar kalau dia kaget dan syok.


"Hei, kau tidak apa-apa kan?" tanya Dastin menangkup wajah Zuin. Gadis itu masih diam tidak bicara sama sekali. Ia menatap Dastin lama dan sedikit gemetar. Dastin sendiri terus menatapnya. Pria itu ingin berbicara lagi namun suara mobil polisi menghentikannya. Ada sekitar tiga mobil yang datang. Jumlah mereka cukup banyak.


Tim penyelamat dari kepolisian setempat itu datang dengan membawa perahu karet. Salah satu pria yang berdiri didepan mereka yang berpakaian lengkap itu langsung memberi perintah setelah mendatangi Dastin dan berbicara sebentar dengannya. Setelah itu, para tim penyelamat tersebut beraksi turun ke sungai. Mereka terlihat sangat profesional.


"Pak Dastin, gadis ini..." polisi itu menatap Zuin yang terus melekat pada Dastin. Polisi itu sudah mengenal Dastin. Ia juga tahu tentang Dastin dan timnya yang sedang menyelidiki kasus pembunuhan di desa ini. Pembunuhan yang baru terjadi beberapa waktu lalu. Kepala Bin sempat menelpon kantor mereka untuk bekerja sama. Mereka juga sudah bertemu siang tadi dengan tim lengkap Dastin. Tapi gadis yang bersama Dastin ini wajahnya asing. Pria itu ingat kalau ada dua wanita yang bekerja di tim Dastin, tapi bukan gadis itu. Gadis itu pun tidak terlihat seperti penduduk di daerah ini. Jadi kemungkinan besar dia dan Dastin saling kenal. Apalagi mereka tampak dekat. Atau mungkin mereka malah pacaran.

__ADS_1


"Dia adalah gadis yang kujaga. Aku harus memastikan keselamatannya jadi aku membawanya bersamaku." Dastin menjelaskan.


Oh begitu rupanya. Polisi itu mengangguk-angguk mengerti. Sepertinya memang pacar laki-laki itu.


"Aku sudah menelpon timku. Mereka akan datang membantu." kata Dastin lagi.


"Baik terimakasih pak Dastin. Tapi, apa gadismu ini baik-baik saja? Sepertinya dia mengalami syok berat."


polisi itu terus memandang Zuin. Dastin ikut melirik gadis itu. Dari tadi Zuin memang sudah terlihat seperti mayat hidup saja. Tidak bicara, tidak bergeming sama sekali dan terus menempel pada Dastin. Tampak sekali gadis itu syok berat. Dastin menghela nafas dan mengusap-usap punggung Zuin, berusaha membuat gadis itu merasa nyaman. Pria itu kembali melirik kepala polisi didepannya.


"Aku harus mengantarnya pulang dan menemaninya. Tapi timku akan membantu kalian. Aku sudah menghubungi mereka." katanya.


Kepala polisi tersebut mengangguk mengerti. Ia bahkan menyuruh Dastin untuk cepat pergi, takutnya gadis yang ia tidak tahu namanya itu kenapa-napa.


"Dastin!" Rivo, Gean dan yang lain tiba di tempat itu. Mereka berhenti didepan Dastin, menatap bergantian pria itu dan Zuin yang sedang dia gendong. Sepertinya Zuin memiliki berat badan yang ringan, karena Dastin tidak terlihat kesusahan sama sekali menggendong gadis itu. Mata Zuin terbuka tapi tidak memberi respon sama sekali. Seperti sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Dia kenapa?" Sari menatap bingung ke Zuin. Tidak biasanya gadis itu diam begini. Gean ikut mengamati gadis itu. Pria itu lulusan kedokteran. Itu sebabnya di BIN dia bekerja lebih ke bagian medis, tugasnya adalah memeriksa keadaan mayat dan semua kasus yang berhubungan dengan medis. Gean lulusan terbaik dengan IQ tertinggi di jamannya. Oleh sebab itu ia bekerja di BIN karena jalur rekomendasi, tidak perlu susah-susah untuk ikut tes masuk, wawancara dan sebagainya.


"Gean,"


Gean mengangkat kepalanya menatap Dastin.

__ADS_1


"Mereka punya tim medis khusus. Kau ikut denganku ke vila, yang lain tetap di sini. Bantu mereka." Dastin memberi perintah. Gean setuju-setuju saja lalu berjalan balik ke arah mobil. Dastin mengikutinya dari belakang. Sesekali ia melirik Zuin. Ia berharap gadis itu baik-baik saja.


                                  ***


Zuin sudah lebih tenang ketika mereka masuk mobil. Wajahnya masih pucat pasi, tubuhnya masih sedikit gemetar. Ia sama sekali masih tidak bersuara selama perjalanan pulang, gadis itu juga tidak menarik diri dari pelukan Dastin. Dastin pun tidak memaksanya bicara, hanya terus merangkulnya. Gean sesekali melirik dari balik spion, lebih ke memperhatikan gerak-gerik Zuin kalau ada yang aneh atau tidak.


Ketika mereka sudah masuk ke dalam vila, Dastin menyalakan lampu dan menuntun Zuin ke sofa di ruang duduk.


"Tunggu sebentar di sini. Aku akan mengambilkanmu air hangat."


Zuin mendongak menatap Dastin lalu mengangguk kecil memeluk dirinya sendiri yang terasa sedikit menggigil ketika Dastin menghilang ke balik dapur. Zuin masih tidak menyangka akan melihat seseorang bunuh diri didepan matanya. Itulah yang membuatnya syok. Apalagi mereka sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan gadis itu.


Zuin masih ingat jelas bayangan gadis yang melompat tadi. Oh astaga, mengingat itu membuat seluruh badannya terasa kaku, lututnya lemas dan denyut jantungnya berdebar-debar.


"Bisa aku memeriksamu sebentar?" suara Gean membuat fokus Zuin terbagi. Gadis itu hanya diam tidak menjawab. Gean yang kini berdiri didepannya kemudian mengambil pergelangan tangannya dan memeriksa nadi Zuin dengan serius.


Di saat yang sama, Dastin kembali ke ruang duduk dengan membawa segelas air panas untuk Zuin. Ia duduk di samping Zuin sambil mengamati gadis yang tengah di periksa oleh Gean tersebut. Setelah Gean selesai memeriksa, Dastin memberi gelas berisi air hangat itu ke Zuin agar gadis itu bisa meminumnya. Pandangannya berpindah ke Gean dengan sorot mata ingin tahu hasil pemeriksaan kilat pria itu.


Alasan Dastin ingin Gean ikut balik ke vila dengannya karena itu juga. Agar lelaki itu bisa memeriksa keadaan Zuin dan berjaga-jaga seandainya sesuatu terjadi pada gadis itu.


"Dia masih cukup syok." ucap Gean. Pandangannya berpindah ke Zuin.

__ADS_1


"Setelah ini sebaiknya kau langsung istrihat. Berusahalah melupakan kejadian tadi, agar kau tidak dibayang-bayangi oleh rasa takut. Ingat, kau harus melupakannya. " kata Gean lagi.


__ADS_2