Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
89


__ADS_3

"Dastin kau di mana?" tanya Gean dengan earpiece ditelinganya. Lelaki itu saat ini bersembunyi di pohon besar bagian tengah di antara pohon-pohon yang berjejer lainnya. William dan Rivo sudah bersama mereka. Tinggal Dastin yang belum ada. Entah pria itu sudah keluar atau masih terjebak di dalam.


Mereka harus segera pergi dari tempat ini sebelum ada yang melihat. Suasana yang kacau didepan sana adalah kesempatan yang baik bagi mereka untuk segera pergi. Gean bergerak gelisah. Api makin besar hampir membakar seluruh gedung lab dan Dastin belum muncul-muncul juga. Sama sekali tidak ada jawaban dari pertanyaannya.


"Atau aku memeriksanya ke dalam?" ujar Rivo bersiap-siap masuk lagi tapi langsung dicegah oleh Gean.


"Apinya makin besar. Kau hanya akan menjadi abu kalau masuk sekarang." kata Gean. Rivo berdecak kesal. Gean benar. Tapi bagaimana dengan Dastin?


"Itu Dastin!" tunjuk William ketika melihat Dastin muncul dari arah kiri. Gean dan Rivo akhirnya bernafas lega. Mereka sudah berfirasat buruk tadi. Syukurlah ketua mereka tidak kenapa-napa.


"Ayo pergi dari sini." kata Dastin ketika langkahnya berhenti di dekat timnya. Mereka semua bersiap-siap pergi lewat jalan belakang. Namun sebuah teriakan menghentikan langkah Dastin. Gean, Rivo dan yang lain ikut berhenti.


"Nona Zuin, jangan ke sana!"


langkah Dastin terhenti. Ia pikir dirinya salah ketika mendengar seseorang memanggil nama Zuin. Ternyata tidak. Dia tidak salah dengar. Dastin kaget bukan main saat melihat Zuin ada di lokasi itu. Sang istri sekarang sedang berlari mendekati kerumunan orang-orang yang berdatangan ke tempat tersebut. Ada yang mengikuti dibelakangnya. Seingat Dastin mereka adalah pengawal yang di pekerjakan oleh Barry untuk menjaga Zuin.


Menjaga apanya. Dastin menahan emosinya. Jelas-jelas ini tempat berbahaya, tapi para pengawal itu sama sekali tidak mengingatkan Zuin. Gadis itu juga, kenapa bisa kebetulan ada di sini. Dastin sungguh ingin tahu, tapi yang harus ia pikirkan pertama adalah membawa Zuin pergi dari tempat ini dengan selamat. Beruntung di sana sudah ramai dengan orang-orang yang berdatangan, jadi tidak ada yang akan mencurigainya kalau dia ikut berdiri di kerumunan.

__ADS_1


"Kalian pergilah lebih dulu. Aku akan segera menyusul." kata Dastin melirik yang lain. William dan dua pria lain tampak bingung, sedang Gean dan Rivo mengangguk mengerti. Mana mungkin Dastin meninggalkan Zuin sendirian di sana.


Dastin lalu berlari sambil menunduk, melewati pohon-pohon besar yang berjejer di lahan itu sambil terus mengamati gerak-gerik beberapa penjaga lab yang berjaga tadi. Satu di antara mereka tampak menelpon dan yang lain hanya bisa melihat api yang melahap lab tersebut tanpa bisa berbuat apapun. Lab itu sudah tidak bisa diselamatkan. Sekalipun pamadam kebakaran datang sekarang, Dastin bisa memastikan obat-obatan di dalam sana sudah hancur lebur.


Sekarang ini fokus utama Dastin adalah Zuin. Gadis itu hampir menghilang di antara kerumunan orang, semakin mendekat ke depan lab. Dastin menggeram kesal. Apa gadis itu tidak ada rasa takut sama sekali? Kenapa juga dia malah mendekat ke bangunan yang sedang terbakar itu. Dastin mempercepat langkahnya dan ikut menembus kerumunan.


Pengawal Zuin langsung mengenalinya dan menunduk takut.


Apalagi tatapan tajam Dastin yang seperti akan menghabisi mereka saat itu juga. Gagal, mereka gagal mendapat kepercayaan Dastin.


Dastin terus menerobos kerumunan dan ketika Zuin hampir mencapai tempat paling depan didekat orang-orang yang menjaga lab tersebut, Dastin langsung menariknya kuat hingga tubuh gadis itu menabrak dada bidangnya.


"Dastin, aku pikir kamu terjebak di dalam." seru Zuin pelan. Dastin tidak membalas perkataannya sama sekali. Hanya terus menatapnya dengan raut wajah emosi. Lalu mereka mendengar bunyi sirene pemadam kebakaran datang.


Para kru pemadam kebakaran segera bergegas setelah melihat apa yang terjadi. Mereka mengusir orang-orang yang terlalu dekat dengan lab. Dastin melihat seorang pria turun dari sebuah mobil mewah bersamaan dengan bergeraknya tim pemadam kebakaran.


Pria itu terus memandang ke arah lab yang terbakar. Ekspresi wajahnya tampak tenang namun ketika salah satu dari penjaga lab tersebut mendatanginya, pria tersebut langsung menendangnya kuat-kuat. Hanya Dastin yang memperhatikan sebab orang-orang yang lain lebih tertarik dengan api yang melahap habis bangunan di depan sana.

__ADS_1


Lelaki itu pasti bos mereka. Entah bos utama atau hanya salah satu dari atasan yang memberikan perintah. Pandangan Dastin berpindah ke Zuin lagi. Misi pertamanya sudah selesai, ia bisa menyelidiki pria di ujung sana nanti. Saat ini mereka harus segera keluar dari tempat ini. Dastin lalu menggunakan kesempatan tersebut untuk membawa pergi Zuin dari kerumunan. Mereka melewati jalan utama karena saat ini ada banyak orang yang berdatangan lewat tempat itu. Dastin pikir sih tidak ada yang akan mencurigai mereka.


Tangan pria itu terus menggenggam Zuin kencang. Pengawal Zuin mengikuti dari belakang. Tak butuh waktu lama mereka tiba di area timnya berkumpul tadi.


"Zuin?" seru Sari menatap heran Zuin yang datang bersama Dastin dan empat orang yang tak mereka kenal. Tentu hanya Dastin dan Zuin yang kenal mereka. Zuin melambai ke Sari dengan senyuman lebar. Sedang Ayyara tampak kesal melihat gadis yang tidak ia sukai tersebut. Malah Dastin terus menggenggam tangannya lagi.


"Kita harus segera pergi dari sini. Jangan sampai ada yang lihat." kata Dastin kemudian. Yang lain mengangguk setuju. Lalu pandangan Dastin berpindah ke para pengawal Zuin.


"Kalian berempat, pulanglah ke rumah Zuin. Ceritakan pada papanya apa yang terjadi dan katakan dia aman bersamaku. Malam ini kami akan tidur di apartemenku." katanya tegas.


"Baik tuan muda." balas Wina mewakili teman-temannya yang lain.


"Aku mau pulang ke rumah saja." kata Zuin. Dari tadi Dastin tampak cuek dan tak mau bicara dengannya. Pria itu pasti marah. Jadi lebih baik dia pulang ke rumah saja dan berada didekat papanya terus. Dastin tidak mungkin berani memarahinya didepan papanya.


"Diam, aku belum bikin perhitungan denganmu." tekan Dastin menatap Zuin tajam. Gadis nakal. Jangan harap bisa lolos darinya begitu saja.


"Jadi bagaimana, kita pergi sekarang?" tanya Rivo.

__ADS_1


"Hmm, malam ini pulang dulu. Besok kumpul lagi di markas." balas Dastin kemudian membuka pintu depan mobilnya memasukkan Zuin lebih dulu.


__ADS_2