Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
37


__ADS_3

Dastin membimbing Zuin ke kamar. Kondisi gadis itu memang sudah jauh lebih tenang dari yang dilihatnya tadi, tapi Dastin masih tidak tenang membiarkannya sendiri. Jadi pria itu memutuskan menemani Zuin sebentar sampai gadis itu benar-benar tertidur.


"Berbaringlah. Aku akan menemanimu sampai kau tertidur." gumam Dastin membantu Zuin berbaring di kasur, dan menutupinya dengan selimut tebal.


"Dastin," gumam Zuin pelan. Itu adalah kata-kata pertama yang keluar dari mulut Zuin setelah berjam-jam gadis itu diam saja. Dastin menggeser kursi di dekat meja ke sisi tempat tidur Zuin lalu menatap gadis itu lekat-lekat. Ia senang mendengar cara Zuin memanggil namanya.


"Mm?"


"Gadis itu... Menurutmu dia masih hidup atau sudah meninggal?"


Dastin menatap Zuin lama. Ia sedang berpikir bagaimana caranya membuat perempuan didepannya ini melupakan kejadian tadi. Ia tidak mau melihatnya tersiksa karena terus mengingat peristiwa mengerikan itu.


"Aku tidak bisa menyimpulkan. Lebih baik kau tidak perlu memikirkannya lagi. Lupakan kejadian tadi. Kau akan tersiksa sendiri kalau terus-terusan mengingatnya Zuin."


Zuin tidak bicara apa-apa. Ia merasa perkataan Dastin memang benar. Tapi bukan pria itu yang mengalami apa yang dirasakan hatinya. Zuin sungguh-sungguh ingin melupakan kejadian tadi, tapi semakin ingin dia lupakan, ia semakin terbayang-bayang dengan peristiwa mengerikan itu. Pada akhirnya ia tidak tahu bagaimana caranya melupakan apa yang sudah dilihatnya tadi. Ia tidak seperti Dastin dan tim pria itu yang sudah biasa menghadapi kejadian-kejadian mengerikan seperti ini. Ini adalah pertama kalinya bagi Zuin, wajar saja dia syok dan ketakutan setengah mati.


"Kau ada cara membantuku? Aku sudah berusaha keras, tapi bayangan gadis tadi terus muncul." ucap Zuin menatap Dastin lurus. Mungkin saja laki-laki itu bisa membantunya. Dia kan sudah punya begitu banyak pengalaman.

__ADS_1


Dastin menghela nafas. Sebelum gadis itu bertanya pun ia sudah berpikir keras bagaimana membantu Zuin melupakan kejadian tadi. Lalu mata Dastin berhenti tepat di bibir Zuin yang ranum. Pria itu sempat berpikir ia mungkin sudah gila karena di saat-saat seperti ini malah merasa tertarik dengan bibir merah muda yang terlihat begitu segar itu.


Dastin mencoba mengatur nafasnya. Berusaha terlihat biasa saja. Tiba-tiba ide itu muncul begitu saja di otaknya. Dastin pikir kalau dia mencium bibir Zuin tiba-tiba, mungkin gadis itu akan kaget. Bukan mungkin, Zuin pasti kaget kalau Dastin tiba-tiba menciumnya. Bisa saja dengan cara itu pikiran Zuin pada kasus bunuh diri di sungai tadi bisa teralihkan. Dastin tidak begitu yakin pendapatnya benar atau salah tapi ia sungguh ingin mencobanya. Selain itu, ia tidak yakin apakah dirinya berpikir ingin mencium Zuin hanya untuk membantu gadis itu, atau dirinya sendiri yang memang menginginkan ciuman itu. Ingin merasakan bibir manis milik Zuin. Ia tidak tahu kenapa dirinya menjadi sangat tertarik pada gadis itu, bahkan seharian tadi saat dirinya bertugas, Dastin terus memikirkan keadaan Zuin di vila. Itu sebabnya dia merasa kesal, marah dan khawatir ketika melihat gadis itu berada di sungai tadi.


"Dastin, Dastin, apa yang sedang kau pikirkan?"


Zuin menatap lelaki itu dengan raut wajah heran. Aneh. Baru sekarang ia melihat Dastin yang kelihatan seperti orang linglung.


Dastin bergeming.


"Tidak ada." jawabnya cepat. Zuin mencibir.


"Tutup matamu." kata pria itu. Zuin balas menatapnya dengan alis terangkat.


"Kenapa harus tutup mata?"


"Kau ingin aku membantumu kan? Aku sudah punya cara. Tutup saja matamu." Zuin merasa curiga. Tapi kecurigaan apa itu ia sama sekali tidak terpikir. Ia hanya merasa Dastin pasti mau berbuat iseng. Mungkin saja kan saat dirinya membuka mata, pria itu sudah keluar meninggalkannya sendirian. Atau mengagetkannya dengan kecoa dan apa saja itu.

__ADS_1


"Kau mau tutup mata atau tidak?" mau tak mau Zuin menutup matanya perlahan. Awas saja kalau sampai laki-laki itu menjahilinya. Ia tidak akan tinggal diam. Entah sudah berapa menit Zuin terdiam dengan mata tertutup. Ia hampir saja membuka matanya kalau Dastin tidak bersuara.


"Jangan dibuka." kata Dastin. Pria itu masih sedikit ragu tapi ia benar-benar ingin mencicipi bibir indah itu. Kepalanya turun perlahan, mendekatkan wajahnya ke Zuin. Lalu ia menempelkan bibirnya perlahan pada bibir Zuin.


Zuin yang merasa sesuatu yang basah menempel dibibirnya terdiam sebentar. Ia membiarkannya sampai semakin lama ia merasakan sesuatu benda kenyal itu mulai bergerak dan  bermain di atas bibirnya. Melum*t  bahkan menggigit-gigit kecil dan tiba-tiba menerobos masuk ke dalam mulutnya, bertautan dengan lidahnya. Mata Zuin terbuka lebar.


Ia kaget bukan main. Matanya melotot sempurna. Dastin menciumnya? Dan ciuman itu bukan sekedar ciuman biasa. Pria itu menghis*p, *******, menggigit, dan mencicipinya mulai dari permukaan bibirnya sampai setiap bagian yang ada di dalam rongga mulutnya. Astaga! Apa-apaan ini?


"Mmph..." Zuin mencoba mendorong tubuh pria itu menjauh, tapi tenaganya tentu saja jauh lebih lemah dari pria yang memiliki tubuh kekar nan indah itu. Dastin terus menciuminya habis-habisan sampai Zuin merasa sesak nafas dan memukul-mukul dada pria itu.


Saat Dastin berhenti, ia menempelkan dahinya di dahi Zuin. Nafas mereka terengah-engah. Terutama Zuin. Ini ciuman pertamanya yang gilanya dilakukan dengan sangat hot. Zuin langsung mendorong kuat tubuh Dastin agar menjauh darinya.


"Kau gila!" tukasnya marah. Ia memegangi bibirnya yang terasa bengkak karena perbuatan pria itu. Ya ampun, apa yang harus dia lakukan dengan laki-laki sinting ini? Kenapa juga jantungnya berdebar-debar begini. Harusnya dia sudah membenci Dastin dan melaporkannya dengan tuduhan pelecehan. Tapi... Ada sesuatu yang membuatnya hatinya bergetar, perasaan apa ini? Zuin menatap Dastin aneh. Ia tidak bisa mengartikan perasaannya saat ini.


"Aku yakin ciuman itu sudah cukup untuk membuatmu lupa pada peristiwa di sungai tadi." Dastin membungkuk lagi. Kali ia mendekatkan wajahnya ditelinga Zuin.


"Ciuman itu hanya untuk mengalihkan perhatianmu terhadap kejadian mengerikan tadi. Tapi kalau kau ingin aku bertanggung jawab, kau bisa bilang. Aku tidak akan lari." bisik Dastin parau dan terkesan menggoda Zuin. Ia masih terbuai dengan ciuman panasnya tadi. Itu ciuman yang luar biasa. Tentu saja Dastin sangat menikmatinya. Kalau tidak, dia tidak akan menggoda Zuin seperti ini. Padahal ia hanya bermaksud mencium ringan bibir Zuin, tapi entah apa yang merasukinya tadi, Dastin malah mencicipi dengan rakus bahkan belum puas sampai sekarang.

__ADS_1


Wajah kesal Zuin membuatnya menyeringai senang. Dastin bisa merasakan Zuin benar-benar tidak menolaknya. Jadi ia tidak perlu meminta maaf. Mungkin dirinya sendiri sudah memiliki rasa pada Zuin, Dastin tidak memungkirinya. Ia sadar sejak dirinya mulai banyak memperhatikan gadis itu bahkan ciuman tadi... Sungguh membuatnya menginginkan lebih. Zuin adalah wanita pertama yang membuatnya tertarik.


"Keluar dari sini. Aku tidak ingin melihatmu!" usir Zuin mendorong tubuh Dastin lagi. Wajahnya sudah memerah seperti tomat. Membuat Dastin makin senang untuk menggodanya.


__ADS_2