
"Sayang..." desis Dastin berat. "Boleh aku sedikit kasar?"
Zuin tidak menjawab. Namun gadis itu juga tidak ingin menolak. Ia tidak tega menolak Dastin. Melihat istrinya hanya diam saja, Dastin bertanya lagi.
"Zuin?" kali ini Zuin akhirnya mengangguk. Dastin tersenyum mengecup dahinya sekilas. Kemudian pria itu mulai bergerak, menyentak kuat, sedikit kasar, tapi langsung membuat Zuin serasa hampir melayang sampai ke langit.
"Dastin! Zuin menjerit. "Hhh... I..istirahat sebentar..." pintanya tersengal.
Dastin menggeleng. Tidak sanggup mengendalikan dirinya. Zuin menyentuh bahunya berusaha menenangkan Dastin supaya bisa mengendalikan dirinya. Namun pria itu memindahkan tangan Zuin agar melingkar di lehernya. Kemudian gerakannya semakin hebat, menghentak makin kuat yang akhirnya membuat Zuin menjerit-jerit tak karuan.
Bibir Dastin kembali menelusuri leher Zuin. Menj*lat dan menggigitnya sensual untuk kepuasan pribadinya. Dastin merasakan seluruh tubuh Zuin begitu manis, membuatnya makin menggila dan semakin menginginkan gadis itu. Tak puas dengan leher, mulut pria itu ikut bermain di pay*dara Zuin, mengemutnya seperti dia sedang memakan permen.
Seluruh tubuh Zuin bergetar saking tak sanggup menghadapi kegilaan Dastin. Hari ini gadis itu akhirnya sadar. Dastin bukan hanya laki-laki yang hebat dalam pekerjaannya sebagai penyidik, tapi juga sangat hebat membuatnya menggila di atas ranjang. Bahkan, jeritan Zuin yang terdengar hampir memohon supaya Dastin sedikit lebih memelankan hantamannya malah membuat suaminya semakin menggila. Zuin tak karuan dibuatnya.
"Sstt.. ahh.." erang Zuin, pasrah akan apa yang akan dilakukan Dastin.
"Sebentar sayang," Dastin mengecup kening Zuin lembut. "Sebentar lagi selesai."
__ADS_1
Namun Dastin berbohong. Sebentar yang dia bilang tadi tidak pernah datang. Malam itu, ranjang mereka sudah seperti kapal pecah saja. Zuin bahkan tidak tertidur hampir sepanjang malam karena ulah Dastin. Sampai-sampai tubuhnya terus bergetar hebat. Zuin tak menyangka ia akan sampai seperti ini. Entah berapa kali ia mengalami org*sme semalam.
Dastin benar-benar tidak terkendali. Malam ini pria itu seperti banteng liar. Mereka baru selesai setelah lewat tengah malam, ketika Zuin sudah kehabisan seluruh tenaganya dan Dastin merasa kasihan betapa lelahnya Zuin melayani kebutuhannya. Mereka baru tertidur setelah Dastin membantu Zuin membersihkan tubuhnya yang lengket akibat pergulatan panas itu.
***
Zuin menggeliat ketika terbangun dari tidurnya. Dan langsung merasakan rasa tidak enak dibagian bawah. Kewanitaannya terasa tidak nyaman dan seluruh tubuhnya terasa pegal. Dia membuka matanya dan mengernyit. Kemudian baru menyadari bahwa Dastin masih ada di sebelahnya. Lelaki itu masih tel*njang dengan selimut putih membungkus pinggangnya, dia berbaring miring dengan bertumpu siku dan telapak tangannya menopang kepalanya.
Lelaki itu tampaknya sudah mengamati Zuin dari tadi, matanya pria itu begitu indah, apalagi dengan senyuman tipis yang menghiasi wajah tampannya. Zuin berbaring diam, tiba-tiba merasa malu. Semalam mereka begitu intim dan diliputi gairah. Dan sekarang ketika mereka terbangun dengan logika. Zuin sangat malu dengan ketelnj*ngan mereka yang diterangi sinar matahari yang menyusup remang-remang dari jendela.
Tetapi sepertinya Dastin tidak merasakan itu. Jemarinya menelusuri leher Zuin, lalu menurunkan selimutnya ke buah dadanya, jemarinya menelusuri di sana, mengusap dengan lembut ke buah dada dan turun ke perutnya, selimutnya makin diturunkan ke bawah, ke pahanya.... dan Zuin melihat semakin jauh selimutnya turun, mata Dastin tampak makin berkabut gairah. Ia ingin melanjutkan lagi kegiatan semalam, namun ketika pria itu melihat bekas-bekas merah di tubuh Zuin, ia jadi tidak tega. Dia menyesali perbuatannya yang terlalu kasar semalam.
"Untuk apa?"
Dastin menghela napasnya dengan berat, dia lalu mengecup bibir Zuin lembut, dan mengelus pipinya,
"Untuk semua kekasaranku.... ini... bekas-bekas ini... Aku minta maaf sayang..." Zuin menatap Dastin bingung, lalu dia menundukkan kepalanya dan menatap tubuhnya yang tadi di elus oleh Dastin. Matanya membelalak, ada bekas-bekas merah ciuman ditubuhnya, dan juga beberapa memar di lengan dan pahanya, mungkin akibat cengkeraman yang terlalu keras. Tetapi Zuin semalam tidak merasakannya, dia terlalu larut dalam gairah, hingga tidak menyadari kalau sentuhan dan ciuman pria itu terlalu keras hingga menimbulkan bekas.
__ADS_1
Mungkin hal inilah yang menyebabkan tubuhnya terasa pegal dan tidak nyaman ketika bangun pagi tadi.
"Aku kasar dan melukaimu...kamu memar-memar seperti ini." Dastin menarik Zuin ke dalam pelukannya, memeluknya dengan erat,
"Maafkan aku sayang, tapi semalam itu.. kamu terlalu nikmat."
Zuin tersenyum dan membalas pelukan Dastin,
"Asal kamu nggak bikin aku pingsan saja." ucapnya. Zuin tidak mempermasalahkannya sama sekali. Ia juga merasa semalam itu sangat luar biasa. Dia dan Dastin... Zuin membenamkan kepalanya di dada Dastin. Pria itu tersenyum sambil mengelus-elus punggung Zuin penuh sayang.
"Jangan masuk kuliah dulu. Kalau kau pergi dengan kondisi tubuhmu yang begini, orang-orang bisa tahu kamu baru habis melakukan adegan dewasa." bisik Dastin pelan ditelinga Zuin. Menggoda gadis itu. Sebenarnya dia hanya ingin Zuin beristirahat dulu di rumah sampai Zuin tidak merasakan kelelahan lagi. Namun terlalu sulit baginya untuk tidak menggoda Zuin.
Gadis itu memukul pelan dada Dastin. Sengaja memasang tampang ngambeknya.
"Semua ini gara-gara siapa coba." celotehnya. Dastin malah tertawa lalu mencubit pelan pipi Zuin.
"Iya-iya aku yang salah." katanya. Pria itu kemudian melirik jam dinding yang menunjukkan hampir pukul tujuh pagi. Ia terkesiap dan cepat-cepat bangun dari ranjang menuju kamar mandi. Ia harus segera bersiap karena jam delapan nanti tim mereka akan ada pertemuan penting di kantor BIN.
__ADS_1
"Sayang, siapin baju kerja aku. Aku hampir terlambat kerja." katanya sebelum hilang ke dalam kamar mandi. Kali ini Zuin tidak keberatan sama sekali. Ia malah senang. Zuin lalu ikut bangkit dari kasur, memakai baju tidurnya yang berserakan di lantai dan membuka lemari Dastin.