Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
48


__ADS_3

Zuin masih tidak mengerti kenapa Dian langsung mengiyakan permintaannya saat dia bilang Dastin ingin bicara dengan gadis itu. Kenapa bisa segampang itu? Seolah Dian memang sudah menunggu pertemuan tersebut. Semakin Zuin berpikir keras, semakin ia merasa pusing. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk tidak memikirkan apapun lagi. Lagipula tidak begitu penting juga. Meski kadang-kadang dirinya masih merasa penasaran.


Sepulang sekolah, sesuai perjanjian mereka, Dian ikut dengan Zuin. Gadis itu sudah bertanya ke Dastin mau ketemu dimana. Karena Dastin bilang ketemu di vila saja, maka Zuin membawa Dian ke vila tempat mereka tinggal. Mereka naik ojek dari pangkalan dekat sekolah. Zuin menolak pulang bersama Dastin dan Gean karena takut mereka dilihat oleh para murid sekolah itu.


Ketika mereka sampai di vila, tidak ada orang lain di sana. Hanya ada Dastin, Gean, Zuin, dan Dian tentu saja. Mungkin tim Dastin yang lain masih sibuk dengan tugas mereka. Keempat pernah tersebut saling tatap-tatapan. Lebih tepatnya Gean, Dastin dan Zuin yang terus menatap Dian.


Gean mengernyitkan dahi. Entah kenapa wajah Dian tidak asing dimatanya. Apa mereka pernah bertemu sebelumnya? Tapi dimana? Kalau berpapasan di sekolah, Gean tidak pernah ingat sama sekali. Tapi Gean yakin sekali ia pernah melihat Dian di suatu tempat yang lain, bukan di sekolah.


"Namamu Dian?" Dastin bertanya. Suaranya datar dan serius seperti biasa. Dian mengangkat wajahnya menatap pria itu dan mengangguk. Caranya memandang Dastin seperti menghormati lelaki itu, tidak seperti saat ia melihat Zuin tadi. Zuin sedikit kesal melihatnya. Giliran Dastin, gadis itu malah bertingkah sopan dan ramah. Beda sekali perlakuan Dian pada Dastin dan padanya. Huh! Menyebalkan. Dastin yang diam-diam memperhatikan gadis itu tersenyum tipis, sesaat kemudian ekspresinya berubah datar lagi menatap Dian.


"Nama lengkapku adalah Diani Putri." ujar Dian menatap Dastin dan Gean bergantian. Gadis itu ingin melihat bagaimana ekspresi kedua pria itu saat ia mengungkapkan nama lengkapnya. Apa mereka akan mengenalnya atau tidak. Meski ia tidak terlalu berharap mereka akan mengingat namanya.


"Diani putri?" pandangan Dian kini fokus ke Gean. Lelaki itu terlihat mengingat-ingat. Sepertinya Gean mengingat nama itu. Berbeda dengan Dastin yang sama sekali tidak memiliki kesan apapun. Pria itu tidak pernah mengingat siapapun yang tidak berkaitan dengan dirinya.


"Kau mata-mata BIN yang ditugaskan memata-matai sebuah genk mencurigakan di daerah ini?" sekarang Gean sudah mengingatnya. Ia ingat Dian pernah diperkenalkan pada mereka di kantor oleh salah satu atasan. Juga pernah dengar gadis itu diutus menjadi mata-mata di desa ini. Tapi karena itu sudah tiga bulan lalu, jadi Gean rada-rada lupa. Setelah bertemu lagi dan mendengar nama lengkapnya, Gean baru ingat kembali.

__ADS_1


Dian tersenyum lalu mengangguk mengiyakan. Ia senang karena ada yang mengenalinya.


"Oh, jadi kamu mata-mata? Berarti nyamar juga dong jadi anak sekolah? Bukan anak sekolah beneran." giliran Zuin yang angkat suara. Pantas saja dia kenal Dastin dan Gean. Tapi, kenapa Dian juga kenal dirinya? Kan dia bukan anggota BIN.


"Tunggu-tunggu," kata Zuin lagi. Ia menyipitkan matanya menatap Dian.


"Kalau kau kenal Dastin dan Gean itu hal yang wajar, karena mereka bekerja dikantor yang sama denganmu. Tapi, bagaimana kau bisa mengenalku? Kau kan baru melihatku kemarin." tanya Zuin ingin tahu. Dian tersenyum. Kali ini tidak secuek seperti di sekolah tadi. Sikapnya berubah jadi lebih ramah.


"Mungkin kau tidak mengingatku Zuin, aku pernah mengunjungi rumahmu bersama Nevan. Sebelum bekerja di BIN, aku juga adalah salah satu pengacara yang bekerja di perusahaan ayahmu. Jelas aku tahu siapa kamu. Putri tunggalnya profesor Barry." Dian menjelaskan. Kening Zuin terangkat terus menatap Dian lama.


"Jelaskan kenapa kau menyamar sebagai anak sekolah?" tanya Dastin. Dibandingkan Zuin, wajah Dian memang lebih terlihat dewasa. Tapi kalau sudah memakai seragam sekolah, wajahnya jadi terlihat awet muda. Umurnya mungkin lebih muda dari Sari dan Ayyara, makanya masih cocok-cocok saja memakai seragam sekolah.


Dastin langsung menanyakan keberadaan Dian di sekolah. Kenapa perempuan itu menyamar juga. Apa ada kaitannya dengan kasus mereka atau tidak. Kalau berkaitan, mereka mungkin bisa bekerja sama. Dastin tidak mau berbasa-basi jika sudah bicara tentang pekerjaan. Ia juga tidak mau berlama-lama di daerah ini. Ia ingin kasus itu cepat selesai dan kembali ke rumahnya.


Pandangan Dian berpindah ke Dastin, melirik Gean sebentar lalu mulai bercerita panjang lebar.

__ADS_1


"Minggu pertama sejak aku berada di desa ini, aku menyadari genk yang diam-diam aku selidiki berjualan narkoba. Aku juga mengetahui beberapa gadis SMA di sekolah itu terlibat dengan mereka. Ketika tahu itu, aku menyamar jadi anak sekolah. Aku ingin mendekati mereka untuk bisa menemukan markas kelompok pengedar narkoba tersebut. Sayangnya sebelum berhasil, dua gadis itu malah meninggal. Yang pertama meninggal adalah korban pembunuhan yang sementara kalian selidiki, satunya lagi gadis yang bunuh diri di sungai. Nama mereka Nia dan Alika. Mereka sengaja diperkosa beramai-ramai oleh para anggota genk itu. Bahkan Nia sampai dibunuh dengan sadisnya karena berusaha melawan." Dian jeda sebentar lalu kembali melanjutkan. Pandangannya berpindah-pindah antara Dastin dan Gean.


"Kalau kalian memang ingin menangkap pelakunya, yang pertama harus kalian lakukan adalah mengambil bukti rekaman perbuatan bejat orang-orang brengsek tersebut." kata Dian. Ia dan Alika cukup dekat selama dirinya berada di sekolah tersebut.


Bahkan sebelum Alika bunuh diri, gadis itu pernah bilang pada Dian kalau seseorang dikelas mereka, pacar dari sih ketua genk, sengaja merekam perbuatan bejat anggota-anggota genk tersebut. Tentu saja untuk dijadikan tontonan buat bersenang-senang. Sinting. Tiap kali Dian memikirkan itu, gadis itu merasa sangat marah. Bahkan kasus yang beredar tentang Alika bunuh diri karena hamil, itu sengaja di rekayasa oleh mereka semua. Alika tidak pernah menulis buku harian.


Padahal siswi yang merekam itu adalah sahabat baiknya Alika dan Nia juga. Tapi karena cemburu, siswi itu sengaja menghasut anggota genknya memperkosa teman mereka sendiri.


"Ya ampun, kenapa ada orang sekejam itu di dunia ini? Astaga, aku tidak habis pikir." ujar Zuin menggeleng-geleng tidak percaya. Dastin sendiri tampak berpikir.


"Kau tahu siapa siswi yang merekam itu?" kali ini Gean yang bertanya. Dian mengangguk.


"Dia ketua kelas di kelasku. Namanya Maria." sahut Dian. Zuin yang mendengarnya terkejut bukan main. Jelas dia kenal siapa Maria. Gadis yang pertama kali bertemu dengannya ketika ia berada di sekolah, juga memperlakukannya dengan sangat ramah dan bersahabat.


"Maria? Kau yakin siswi kejam itu Maria?"

__ADS_1


__ADS_2