
Besoknya, Dastin telah menghubungi ketua BIN dan mengumpulkan beberapa atasan lain serta timnya yang terlibat dengan penelitian obat yang dilakukan oleh profesor Barry. Penelitian ini sangat rahasia, jadi tidak semua pekerja BIN terlibat. Yang tahu tentang penelitian tersebut hanya orang-orang yang terpilih.
Rapat dadakan itu dilakukan di ruangan tersembunyi yang ada dalam kantor BIN. Dan profesor Barry harus datang dengan sembunyi-sembunyi. Mereka melakukan itu agar tidak ada yang curiga.
Tim Dastin yang ada sudah lengkap. Semuanya duduk berhadap-hadapan di meja persegi panjang. Jumlah kursinya kira-kira ada sekitar dua belas. Tentu saja diatur sebanyak orang yang akan ikut pertemuan penting tersebut. Ketua BIN duduk di kepala meja, dan asistennya setia berdiri disampingnya. Ada juga beberapa atasan yang punya status tinggi di BIN. Wajah mereka semua tampak serius, termasuk Dastin.
Di antara semuanya, ada Ayyara dan Sari yang saling berpandangan. Meskipun tegang, keduanya merasa senang dan bersemangat. Iyalah pasti. Siapa yang tidak senang coba kalau bisa bertemu dan duduk bersama dengan orang-orang penting yang sulit sekali ditemui itu. Bahkan tidak bisa ditemui oleh sembarangan orang, apalagi anggota biasa yang sama sekali tidak punya nama seperti mereka. Menjadi anggota yang bekerja langsung di tim Dastin memang sangat beruntung. Karena Dastin sendiri bukan ketua tim biasa.
Kabarnya Dastin dan ketua BIN masih ada hubungan keluarga. Namun Dastin bekerja sebagai agen di kantor tersebut murni karena kemampuannya yang luar biasa. Pria itu tidak mau memakai hubungan dekatnya dengan ketua dari kantor tersebut. Lagipula BIN sendiri tidak pernah mengerjakan sembarang orang. Semua yang bekerja di kantor itu adalah orang-orang berbakat. Waktu pertama kali bekerja pun Dastin memulainya dari bawah. Posisinya tidak langsung seperti sekarang ini.
"Dastin, kau sudah menghubungi profesor Barry?" tanya sosok berwibawa yang duduk di kepala meja. Yang berstatus sebagai ketua, dan biasa dipanggil dengan sebutan prof Daniel. Daniel sendiri yang memberikan tanggung jawab pada Dastin untuk mengatur kerjasama mereka dengan profesor Barry.
Yang lain kompak menatap Dastin. Mereka ikut penasaran kenapa profesor Barry belum sampai-sampai juga. Tinggal pria itu yang mereka tunggu. Dastin ingin bersuara menjawab pertanyaan Daniel, namun detik itu juga pintu ruangan tersebut terbuka.
__ADS_1
Semua orang dalam ruangan itu sama-sama menatap ke sosok tegak dan jangkung yang berjalan masuk. Pria tampan berumur tiga puluh delapan tahun itu memiliki kharisma yang sangat kuat. Sekilas terlihat seperti aktor. Bahkan sosok tersebut mampu membuat lima orang berjenis kelamin perempuan dalam ruangan itu terpesona. Sulit sekali menolak kalau wajah setampan ini.
Mulut Sari terbuka. Ia pernah dengar dari Gilang kalau Zuin adalah putri satu-satunya pria itu. Awalnya Sari merasa biasa saja karena dalam bayangannya sosok profesor yang sangat dihormati seperti ayah Zuin itu pasti sudah tua, memiliki tubuh gempal dan berkepala botak seperti profesor pada umumnya. Siapa yang mengira ternyata ayah Zuin adalah sosok yang atletis, berparas tampan tak kalah dari Dastin dan sangat berkharisma. Pantas saja Zuin secantik itu. Lihat saja ayahnya. Kalau diperhatikan mereka memang mirip. Astaga. Sari jadi penasaran berapa umur Barry. Dari wajahnya pria itu masih terlihat di awal tiga puluan. Tapi tidak mungkin bukan? Karena Zuin sudah dua puluh tahun sekarang. Ataukah Barry memiliki Zuin di umur yang sangat muda?
"Maaf, aku terlambat." kata Barry. Dastin menarik kursi khusus pria itu di dekat ketua BIN sementara Nevan berdiri dibelakang Barry dengan memegangi beberapa map ditangannya.
"Tidak apa-apa. Kau bisa langsung memulai." balas prof Daniel. Barry mengangguk lalu memberi kode ke Nevan. Nevan mengangguk dan dengan cekatan membagikan map ditangannya, kemudian menghidupkan layar LCD. Setelah itu Barry berdiri. Layar didepan mereka menunjukkan hasil penelitiannya. Suasana berubah tenang, semuanya fokus mendengar. Dan Barry mulai berbicara dengan serius.
"Hasilnya sudah keluar. Obat itu benar-benar virus. Aku sudah menghubungi beberapa dokter ahli dari luar negeri. Semuanya menyimpulkan hal yang sama, itu adalah virus Voa. Kemungkinannya sekitar 95% virus tersebut ditularkan antarmanusia. Tujuannya tentu saja untuk menimbulkan pandemi, dengan begitu, kemungkinan besar mereka akan membuat vaksin untuk dijual habis."
"William, bagaimana keadaan di sana? Apalagi yang kau curigai?" tanya Daniel.
"Baru-baru ini ada beberapa barang yang dikirim dari luar negeri. Tapi semua karyawan biasa tidak diberitahu barang apa itu. Aku sendiri belum bisa memastikan." sahut William. Daniel memandang ke yang lain.
__ADS_1
"Kita harus bergerak cepat, menghentikan niat jahat mereka. Membasmi semua obat yang sedang mereka kembangkan sebelum tersebar luas ke masyarakat. Barry, bagaimana pendapatmu?"
"Agar tidak ada kepanikan yang terjadi di masyarakat, lab tempat pengembangan obat mereka harus di basmi. Buktinya memang ada namun tidak begitu kuat, aku takut sulit bagi kita untuk menangkap mereka. Satu-satunya cara adalah membakar lap tersebut diam-diam. Setidaknya menghentikan niat jahat mereka untuk sementara, selagi mengumpulkan banyak bukti." ujar Barry memberi pendapat. Menurutnya tidak apa-apa melakukan sebuah tindakan ilegal demi keselamatan banyak orang dan kedamaian dunia.
Dastin setuju dengan pendapat mertuanya itu. Apalagi dia tahu perusahaan yang mengembangkan obat tersebut bukan perusahaan biasa. Mereka terkait dengan jaringan mafia besar. Kalau tidak berhati-hati, bisa-bisa semua kerja keras mereka akan jadi sia-sia belaka.
"Menurutku saat ini, itu adalah ide yang paling baik. Tapi harus dilakukan dengan sangat berhati-hati." ucap Dastin. Yang lain ikut mengangguk setuju. Demi kebaikan banyak orang.
"Baiklah kalau begitu, aku setuju. Kita akan menambah tim." Daniel melirik Dastin.
"Dastin, mulai sekarang kau dan timmu akan fokus dengan kasus ini. Ingat, nyawa kalian yang paling utama." Dastin mengangguk.
"Baik." balasnya. Yang lain ikut menunduk hormat ke Daniel. Ketua BIN tersebut beralih menatap Barry.
__ADS_1
"Barry, terimakasih banyak atas bantuanmu. Sekarang kasus ini akan beralih ke BIN. Kami akan menghubungimu lagi kalau perlu bantuan. Aku berharap kau tidak keberatan membantu kami. Mulai besok, namamu akan dibersihkan dari kasus korupsi. Kau bisa kembali mengambil alih perusahaanmu." Barry tersenyum. Ia juga senang karena bisa membantu banyak orang. Akhirnya pria itu bisa bernafas lega sekarang. Bukan seratus persen lega karena kasus ini belum selesai. Tapi dia senang sekarang dirinya bisa kembali bekerja seperti biasa menjadi kepala perusahaan. Terutama bertemu dengan putri nakal yang sangat dia cintai.