
Kyle mengepal tangannya kuat-kuat, wajahnya begitu datar padahal suasana hatinya tidak datar seperti raut wajahnya saat ini. Tentu saja hatinya sangat panas mendengar pria didepannya itu berkata bahwa dirinya akan segera menikahi Zuin. Kyle tahu siapa laki-laki itu. Ia sudah melihat fotonya dan mendengar dari Lucas. Wajah itu teringat jelas dibenaknya karena Kyle sudah menandai pria itu sebagai saingannya.
Dastin Lemuel,
lelaki yang tinggal bersama Zuin. Meski emosi, Kyle berusaha bersikap tenang. Ia tidak mau lepas kontrol didepan Zuin. Ia ingin Zuin melihatnya sebagai seorang lelaki yang lembut dan penyayang. Pandangan pria itu berpindah ke Zuin, dengan memaksakan seulas senyum.
"Zuin, benar katanya?" ujar Kyle, ia sungguh ingin mendengar jawaban yang dia harapkan keluar dari mulut Zuin. Tapi gadis itu malah mengangguk. Zuin bahkan terlihat malu-malu. Kyle yang mendengar merasa sesak. Kenyataannya perkataan pria bernama Dastin itu memang benar. Sialan. Kyle memaki dalam hati. Dia terlambat selangkah.
"Kau masih terlalu muda Zuin, memangnya kau yakin ingin menikah secepat itu? Kau bahkan belum melakukan banyak hal yang kau suka. Setelah menikah, mungkin hidupmu tidak akan sebebas sekarang." kata Kyle lagi. Berusaha menghasut Zuin. Pria itu merasa sayang sekali karena dirinya bahkan belum benar-benar melakukan pendekatan yang lebih intens dengan Zuin. Sekarang, ia malah harus mendengar gadis itu akan menikah muda.
Didepan Kyle, ada Dastin yang menatapnya dengan ekspresi tidak senang. Dastin tidak suka mendengar perkataan pria itu. Kata siapa setelah menikah Zuin tidak bisa hidup bebas? Gadis itu bebas melakukan apapun yang dia mau. Dastin tidak akan membatasinya, kecuali kalau Zuin melakukan kesalahan-kesalahan yang jelas-jelas melawan dirinya sebagai suaminya nanti. Selain semua itu, Dastin akan selalu memanjakan Zuin. Memperlakukannya dengan baik, karena Dastin tidak ingin gadis yang dicintainya tidak bahagia dan tertekan ketika menikah dengannya.
"Pernikahan kami, itu urusan kami berdua. Kau tidak perlu ikut campur." ucap Dastin dengan suara tegasnya. Zuin yang mendengar hanya memilih diam saja. Gadis itu entah kenapa bisa tahu di saat mood seorang Dastin lagi baik atau buruk. Jadi, kalau ia lihat mood pria itu sedang buruk, ia lebih memilih untuk diam.
__ADS_1
"Dastin, tenanglah. Kyle hanya bermaksud baik karena Zuin sudah seperti adiknya sendiri." pungkas Ketty melirik Dastin. Dia sengaja berkata seperti itu. Ketty tahu Kyle kini menatapnya dengan wajah tidak senang, tapi dia pura-pura tidak menatap balik pria itu. Wanita itu terus menghadap ke depan, menatap Dastin dan Zuin bergantian. Rasa marah dan cemburu yang ia rasakan ke Zuin tadi kini berubah total. Ketty bahagia. Karena Zuin akan menikah dengan laki-laki lain, berarti gadis itu bukan saingannya lagi.
"Oh ya, kapan kalian akan menikah?" Ketty bertanya ingin tahu. Pandangannya lebih fokus ke Zuin. Hari ini, ia tidak akan mempedulikan perasaan Kyle. Toh, laki-laki itu sering sekali dengan sengaja melukai perasaannya. Sekali-sekali giliran dirinya. Sementara Zuin yang ditanya malah menatap kesamping. Ke Dastin. Seolah menunjuk pria itu saja yang menjawab pertanyaan Ketty.
Zuin tidak tahu tanggal pernikahan mereka. Dastin yang mengurus semuanya karena mereka baru berencana untuk menikah secara hukum.
"Dalam waktu dekat ini." Dastin menjawab mewakili Zuin. Pria itu belum memastikan tanggal. Tapi dihati Dastin, ia ingin segera membawa Zuin ke kantor catatan sipil dalam beberapa hari kedepan ini. Tentu saja untuk mendaftarkan pernikahan mereka. Ia tidak mau menunggu terlalu lama. Dastin ingin menyentuh Zuin lagi. Karena setelah kejadian malam itu, dirinya sangat tersiksa karena terus menahan diri untuk tidak menyentuh Zuin. Kalau surat nikah mereka sudah keluar, kan pria itu sudah bisa melakukan apapun yang dia inginkan. Tidur di kamar yang sama dengan Zuin, memeluk gadis itu, mencium keningnya tiap pagi sebelum berangkat kerja, bahkan melakukan yang lebih dari itu sebanyak yang pria itu mau. Dastin juga mau ketika dia pulang dari kerjanya seharian, Zuin ada disamping menemaninya.
Mendengar jawaban Dastin, Ketty manggut-manggut mengerti. Sekarang dia jadi penasaran ingin bertanya ke Zuin bagaimana ceritanya sampai gadis itu dan Dastin akan menikah. Secepat ini pula.
"Kau lupa? Pagi tadi kau memaksaku menemanimu belanja ke mall. Jadi pekerjaanku siang ini sudah di tunda besok."
Mata Zuin melebar. Kapan dia memaksa lelaki itu? Seingatnya dirinya tidak pernah meminta Dastin menemaninya belanja. Gadis itu ingin angkat suara, tapi Dastin cepat-cepat menggenggam kuat jemarinya yang berada dibawah meja. Tatapan pria itu seolah mengatakan agar Zuin bekerja sama dengannya. Keduanya saling menatap cukup lama, dan Zuin yang awal-awalnya tidak paham, kini mulai sadar kalau ada kemungkinan Dastin cemburu pada Kyle. Gadis itu senyum-senyum melihat pria itu. Oh, rupanya laki-laki itu cemburu makanya rada-rada aneh begini.
__ADS_1
"Zuin, sepertinya aku harus pergi. Ada urusan mendadak dikantor." kata Kyle bersiap-siap berdiri dari kursinya. Ia tidak tahan melihat Zuin bersama laki-laki lain, jadi pria itu memilih pergi dengan alasan pekerjaan.
"Bagaimana dengan pesanannya? Kau tidak ingin makan dulu?" tanya Zuin. Kyle tersenyum menatap gadis itu.
"Kalian yang makan saja. Kita bisa makan lain kali. Jangan khawatir, aku sudah membayar makanannya." kata pria itu.
"Tapi..." Zuin merasa tidak enak pada Kyle, berbeda dengan Dastin yang malah senang pria itu pergi.
"Dengar manis, kita masih punya banyak waktu buat ketemu. Lain kali kau yang harus mentraktirku, jangan lupa." kata Kyle lagi dan dengan beraninya mengacak-acak rambut Zuin didepan Dastin. Pria itu memang sengaja mau memanas-manasi lelaki yang katanya calon suaminya Zuin itu. Masih calon suami, bisa saja kan pernikahan mereka batal. Dalam hati Kyle malah mengharapkan itu. Kedua laki-laki itu kembali saling berpandangan lama sebelum pandangan Kyle akhirnya beralih menatap Ketty sebentar lalu membuang muka ke tempat lain.
Kyle tahu Ketty pasti sedang menertawainya sekarang, tapi ia tidak peduli. Terserah wanita itu. Tak lama sesudah itu, pria itu berbalik meninggalkan Zuin, Dastin dan Ketty. Ketty yang melihat Kyle sudah hampir mencapai pintu keluar, ikut berdiri dan berlari mengikuti pria itu.
"Nikmati waktu kalian. Aku masih ada urusan juga." ucap Ketty menatap Zuin dan Dastin bergantian kemudian berbalik pergi. Dastin akhirnya bisa tersenyum puas. Ia tidak sadar Zuin tengah menatapnya sambil bersedekap dada dan memicingkan mata.
__ADS_1
"Kau membuat teman-temanku kabur Dastiin... Sekarang siapa yang akan menghabiskan semua makanan ini?!" seru Zuin sambil menunjuk ke makanan di meja yang barusan disajikan oleh seorang pelayan wanita. Dastin malah senyum-senyum menatap gadis itu.
"Tentu saja kamu, aku masih kenyang." gumam pria itu sambil tersenyum tanpa dosa. Kalau tidak sadar mereka sedang berada di restoran, sudah Zuin lempar pria itu dengan sepatunya.