Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar

Agen Tampan Dan Gadis Pembuat Onar
95


__ADS_3

"Keluar negeri?" Zuin menatap Dastin. Pria itu baru saja pulang kerja dan menjemputnya yang sedang berada di rumah sang papa. Sekarang mereka sudah kembali ke apartemen Dastin dan pria itu bercerita tentang rencananya yang akan berlibur keluar negeri dengan timnya. Tentu saja Zuin merasa tertarik mendengar kata liburan keluar negeri.


Kalau dihitung-hitung, gadis itu baru dua kali keluar negeri. Yang pertama ke Jepang dengan papanya, kedua kalinya dia berlibur ke Disneyland masih dengan papanya juga. Tapi setelah itu ia tidak pergi lagi karena kesibukan sang papa. Zuin suka berlibur keluar negeri, itu sebabnya ia tampak tertarik ketika Dastin bercerita tentang rencana liburan mereka. Bisa saja kan pria itu mau membawanya ikut juga.


"Mm, aku akan pergi dengan timku mungkin tiga atau empat hari di sana." kata Dastin lagi.


Sayangnya Zuin harus melupakan semua keinginannya untuk ikut karena sepertinya Dastin tidak akan mengajaknya. Gadis itu mendesah pelan, sedikit cemberut. Dastin sendiri terlihat santai. Pria itu kembali bicara.


"Selama aku tidak ada, kau akan tinggal dengan papamu. Tapi ingat, jangan keluyuran kemana-mana. Apalagi masuk club di tempat kerjanya sih Nako-Nako itu." kata Dastin lagi dengan nada suara penuh peringatan. Padahal ia tahu Zuin tidak akan ada kesempatan untuk ke sana. Karena dia sudah merancang semuanya.


Pria itu berusaha menahan senyum melihat Zuin yang mengerucutkan bibirnya. Gadis itu tampak kesal sehingga Dastin harus mati-matian menjaga ekspresi wajahnya agar tidak ketahuan menertawai Zuin.


Dastin tahu Zuin pasti ingin ikut dengannya. Jelas sekali terpampang di wajah sang istri. Tapi Dastin punya rencana sendiri. Itu sebabnya ia memutuskan Zuin tidak akan pergi bersamanya. Gadis itu akan pergi, tapi bukan bersamanya.


"Keluar negeri ke mana?" tanya Zuin dengan ekspresi ingin tahunya.


"Aku juga tidak tahu. Bukan aku yang urus, hanya ikut saja. Mereka belum memberitahukan akan kemana." Zuin memicingkan mata. Sama sekali tidak mengharapkan jawaban itu, setidaknya ia perlu tahu suaminya itu akan pergi ke mana. Sementara Dastin sendiri tertawa dalam hati. Ia sudah menipu istrinya. Meski dirinya tidak tega, tapi tetap harus dilakukannya agar semua yang telah dia rencanakan berjalan dengan lancar.


"Kapan kau akan pergi?" tanya Zuin lagi jadi malas sendiri.


"Besok." sahut Dastin lalu meraih Zuin agar gadis itu bersandar dibahunya.

__ADS_1


"Kau tidak keberatan aku meninggalkanmu beberapa hari kan, sayang?" giliran pria itu yang bertanya.


Zuin mengangguk dengan berat hati. Bukannya tidak mau ditinggal pergi keluar negeri oleh Dastin, tapi karena dia tidak di ajak ikut. Pasti sangat asik di sana. Ahh, ya sudahlah. Malu juga dia memaksa Dastin untuk membawanya.


                                   ***


Sekitar jam tujuh pagi Dastin pergi. Zuin hanya mengantar sampai depan rumah. Ia tidak mau mengantar sampai bandara karena dirinya sedikit merajuk ke Dastin yang sama sekali tidak mempertimbangkan dirinya untuk ikut. Cihh...


Zuin berbalik masuk ke dalam rumah papanya setelah mobil yang membawa Dastin ke bandara menghilang dari pandangannya. Wina dan Bio, kedua pengawalnya tersebut setia mengikuti dari belakang.


"Papa ke mana?" tanya Zuin yang kini duduk bersandar di sofa dalam ruang santai. Sejak berjalan ke dalam rumah tadi, matanya memandangi ke seluruh tempat. Bahkan saat melewati ruang kerja papanya, Zuin sempat menatap ke sana. Tapi ia tidak melihat keberadaan makhluk yang di carinya itu. Tentu saja dirinya merasa penasaran mereka ke mana. Karena pagi-pagi begini biasanya papanya masih di rumah. Belum ke kantor.


"Tuan besar sudah pergi ke kantor pagi-pagi sekali nona. Tuan Nevan yang menjemputnya." jawab Wina. Zuin mengangguk-angguk mengerti. Oh, sudah ke kantor rupanya. Mendadak ia jadi bosan di rumah.


Satu jam kemudian gadis itu sudah selesai siap-siap. Bio dan Wina selalu setia mengikutinya kemanapun. Walau Zuin melarang mereka untuk ikut dengannya, nyatanya mereka tetap ikut. Katanya mereka takut dipecat kalau ketahuan membiarkannya jalan-jalan sendirian. Jadi ya sudah, apa boleh buat. Beginilah nasib jadi putri dari seorang Barry yang ternyata banyak musuhnya.


Kira-kira lima belas menit perjalanan, Zuin baru sampai di cafe tempat kerja Nako. Ia masuk dan di sambut seperti biasa oleh beberapa pelayan cafe yang sudah mengenalnya.


"Ketty?" seru Zuin melihat Ketty yang ternyata ada di sana juga. Duduk di tempat biasanya mereka duduk saat datang ke tempat itu. Ketty sedang menikmati milkshakenya. Ia melambai ke Zuin ketika melihat sang sang


"Kenapa nggak ajak-ajak aku sih kalau mau ke sini?" celetuk Zuin sengaja memasang tampang cemberut. Ketty terkekeh.

__ADS_1


"Aku pikir kamu masih tidur. Bukannya katamu Dastin selalu membuatmu kewalahan setiap malam dan susah bangun pagi?" Ketty sengaja mengecilkan suaranya saat mengatakan kalimat terakhirnya.


Zuin memang pernah bercerita tentang hubungannya dengan Dastin ke Ketty. Bagaimana cara Dastin memperlakukannya sampai betapa liarnya pria itu di atas ranjang. Pokoknya Dastin yang bersikap kaku dan cenderung lebih banyak diam pada kebanyakan orang itu, akan tiba-tiba berubah kalau lagi berduaan saja dengan Zuin. Apalagi kalau masalah ranjang. Seperti kata Ketty tadi, Zuin sampai kewalahan.


Ketty sampai iri mendengar cerita Zuin. Karena dari cerita itu, ia bisa menyimpulkan bahwa Zuin benar-benar dicintai oleh Dastin. Zuin tidak seperti dirinya dulu yang hanya bisa mengemis-ngemis cinta pada seorang laki-laki seperti Kyle.


"Jangan bahas itu. Dastin tidak akan ada di rumah beberapa hari ini." kata Zuin agak ketus. Karena pengaruh masih kesal di tinggal liburan oleh suaminya itu. Ketty terus menatapnya lama. Sebenarnya dia sendiri sudah tahu Dastin pergi keluar negeri. Kak Nevan menelponnya kemarin. Nako juga sampai di telpon, untuk kesuksesan rencana Dastin.


Pastinya ini berhubungan dengan Zuin. Kak Nevan meminta Ketty dan Nako untuk bekerja sama. Mereka sudah tahu kenapa Dastin sengaja meninggalkan Zuin. Tapi tentu saja Zuin tidak boleh tahu.


"Bagaimana kalau nanti malam kita ke club? Mumpung Dastin nggak ada. Aku harus menggunakan kesempatan ini baik-baik." ajak Zuin antusias. Sudah lama juga dia tidak cuci mata melihat pria-pria tampan.


"Sepertinya kau tidak akan punya kesempatan ke club malam nanti." itu suara Nako. Lelaki itu tiba-tiba muncul dan duduk di sebelah Zuin dengan senyuman ramah khas pria itu. Zuin meliriknya bingung.


"Kenapa?"


Kali ini Nako dan Ketty saling bertukar pandangan.


"Karena papa kamu ingin mengajak kita semua jalan-jalan hari ini." sahut Nako langsung. Ia rasa tidak masalah bilang ke Zuin, toh gadis itu akan tahu juga. Yang penting Zuin tidak tahu kalau dibalik itu, Dastin yang merencanakan semuanya.


Mendengar perkataan Nako, mata Zuin langsung berbinar-binar cerah.

__ADS_1


"Jalan-jalan kemana?" serunya antusias.


__ADS_2