
Jihan masih terisak-isak sendiri di dapur, air matanya tak bisa berhenti, bahkan tetesannya sampai membasahi jilbab yang dia pakai. Kalau saja dia lemah iman, mungkin detik ini juga dia akan menyerah dan berhenti berharap lalu berlari pulang ke rumah orang tuanya. Tapi sejak kecil dia diajarkan untuk selalu berikhtiar dan mempertahankan miliknya dari orang yang kufur, dan saat ini itulah yang dia lakukan.
Andai orang di luar sana tahu kisahnya, pasti mereka akan mengatakan dia bodoh, bego atau apalah. Tapi Jihan tak peduli, karena baginya mengejar surga dan Ridho Allah itu paling utama, biar lah merana di dunia jika itu bisa membuatnya bahagia di akhirat. Karena jika kebahagiaan akhirat sudah digenggam erat, Insya Allah dunia juga akan terasa nikmat. Wallahualam.
Dan kemunculan tiba-tiba Ammar, membuat Jihan buru-buru menghapus air matanya.
“Nih, Mama mau bicara.” Ammar menyodorkan ponselnya ke hadapan Jihan, dan dia segera meraihnya dengan tangan gemetaran.
“Halo, assalamualaikum, Ma.” Sapa Jihan lembut.
“Wa’alaikumsalam, sayang. Apa kabar?”
“Alhamdulillah, Baik. Mama sama Papa apa kabar?” Tanya Jihan sedikit gugup, karena Ammar terus memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Apa mungkin dia merasa iba karena melihat Jihan menangis? Tentu saja tidak! Ini bukan yang pertama kali Ammar melihatnya. Dia hanya terkesiap karena melihat Jihan bisa bersandiwara dengan begitu apik, seolah semuanya baik-baik saja. Padahal dia baru saja menangis.
“Alhamdulillah, Mama dan Papa juga baik. Gimana? Kamu betah tinggal di rumah Ammar? Apa Ammar menyusahkanmu?”
“Alhamdulillah. Aku betah, Ma. Mas Ammar juga enggak pernah menyusahi aku kok, dia baik.” Ucap Jihan dengan nada yang penuh keyakinan.
Lagi-lagi Ammar tertegun mendengarnya, wanita yang dia perlakukan dengan sangat buruk ini masih bisa menutupi keburukannya dan bahkan memuji dirinya. Wanita jenis apa Jihan ini?
“Syukurlah. Kalau dia nakal, bilang ke Mama, biar Mama hukum dia.”
Jihan terkekeh. “Iya, Ma.”
“Oh iya, sayang. Rencananya Mama sama Papa mau kirim asisten rumah tangga ke sana, jadi kamu enggak capek mengurus rumah sendiri.”
“Eh, enggak usah, Ma. Aku bisa kok mengurus rumah sendiri.” Jihan menolak dengan lembut.
“Memang kamu enggak repot? Mana mau masak, beresin rumah, belum lagi mau bekerja dan melayani suami. Terus entar siapa yang belanja, mencuci dan menyetrika?”
__ADS_1
“Aku bisa kerjakan semuanya sendiri kok, Ma. Ini juga stok bahan makanan yang di kulkas masih belum habis, tapi nanti kalau sudah habis, aku bisa minta izin ke pasar buat belanja.” Jawab Jihan. Dia sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah sejak dulu, jadi itu bukan hal yang sulit bagi Jihan. Hanya saja, tenaganya lebih terkuras karena rumah Ammar sangat besar.
Dan sekali lagi Ammar tertegun mendengar Jihan menolak semua kemudahan yang ditawarkan oleh sang Mama, dia jelas bukan ingin hidup enak dengan menjadi Nyonya besar yang tinggal duduk santai sambil menikmati kekayaan sang mertua.
Apa sekarang hati Ammar mulai melembut? Entah lah! Tapi semoga saja dia menyadari, bahwa dia telah menyia-nyiakan istri sebaik Jihan.
“Kamu benar-benar wanita dan istri yang baik, sayang. Mama enggak menyesal pilih kamu jadi menantu.”
“Aku juga beruntung punya mertua sebaik Mama dan Papa.” Balas Jihan dengan senyum yang mengembang, raut sedihnya seakan hilang entah ke mana. Ammar hanya menghela napas mendengar ucapannya.
“Ya sudah, Mama tutup dulu teleponnya ya. Kalian baik-baik di sana. Oh iya, jangan lama-lama kasih cucu buat Mama dan Papa. Mama sudah enggak sabar ini ingin menimang cucu.”
Jihan sontak memandang Ammar setelah mendengar kalimat terakhir sang mertua, jelas Ammar juga mendengarnya karena sedari tadi panggilan telepon itu di loudspeaker olehnya. Tujuannya adalah, agar dia tahu apa yang sang Mama bicarakan dengan Jihan. Dan kenapa dia masih berdiri di hadapan Jihan, tentu untuk memastikan jika istrinya itu tidak mengadu apa pun.
Suasana mendadak canggung, Ammar segera memalingkan wajahnya saat matanya bertemu dengan mata Jihan.
“Jihan? Kenapa diam, Sayang?”
“Ya sudah, Mama tutup dulu, ya. Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam, Ma.”
“Sini!” Ammar langsung merampas ponselnya setelah panggilan dari sang Mama berakhir.
“Kau memang benar-benar pandai bersandiwara, ya? Berpura-pura baik ternyata keahlianmu.” Ucap Ammar sinis.
Tidak! Sepertinya Ammar salah paham dengan sikap Jihan.
“Mas, aku enggak seperti itu. Aku enggak pernah berpura-pura baik. Semua yang aku katakan dan aku lakukan itu tulus, Mas. Aku hanya enggak mau membuat Mama cemas.” Bantah Jihan. Dia mencoba membela diri, berharap sang suami berhenti salah paham padanya.
Ammar menaikkan sebelah alisnya. “Oh ya? Apa aku harus mempercayaimu?”
__ADS_1
“Aku enggak memaksa Mas untuk percaya padaku, aku hanya enggak mau Mas menuduhku sembarangan.”
“Kau masih saja berusaha menutupi kebusukanmu. Kau pikir aku enggak tahu, kau menerima pernikahan ini dan berpura-pura baik demi uang.” Tuduh Ammar.
Jihan terkesiap, dia tak menyangka Ammar akan menuduhnya sekeji itu. Harga dirinya seakan jatuh dan hancur karena dianggap serendah itu.
“Astagfirullah, Mas! Kamu salah paham! Aku enggak pernah memiliki niat seperti itu.”
“Kalau bukan uang, lalu apa lagi yang kau harapkan?” Tuntut Ammar.
Jihan terdiam, haruskah dia mengatakan yang sebenarnya?
“Kenapa diam? Kau bingung kan mau jawab apa? Dasar gila harta!”
Jihan semakin terluka dengan ucapan Ammar itu, mungkin ini saatnya dia mengakui sesuatu yang sudah lama dia pendam, menyampaikan anugerah yang sejak lama telah Allah titipkan di dalam hatinya. Entah Ammar akan menerima atau tidak, Jihan tak peduli lagi. Setidaknya sang suami harus tahu tujuannya menerima pernikahan ini agar dia tidak salah paham.
Jihan menarik napas, lalu mengembuskannya demi mengumpulkan semua keberaniannya untuk bicara jujur.
“Aku mengharapkan Ridho Allah melalui dirimu dan menyempurnakan agama serta ibadahku bersamamu. Demi Allah, aku hanya mengharap kan itu dari pernikahan kita. Jadi tolong jangan menganggapku serendah ini dan menuduhku sembarangan!” Tutur Jihan dengan air mata yang berlinang dan bergegas pergi meninggalkan Ammar.
Ammar sontak terdiam. Hatinya begitu terenyuh mendengar jawaban Jihan, dia dapat merasakan ketulusan dan luka dari sorot mata indah yang basah itu.
Ada apa dengan hati Ammar? Mengapa mendadak ada rasa iba dan bersalah? Apa dia akan menyesal? Entah lah! Tapi jika sang maha membolak-balikkan hati berkenan, itu akan terjadi.
Jihan berlari masuk ke dalam kamar, bersandar di daun pintu yang telah tertutup rapat lalu menangis tersedu-sedu.
“Astaghfirullahalladzim. Ya Allah, semoga ini bukan kesalahan. Aku mohon bantu aku untuk tetap sabar dan ikhlas.” Jihan memejamkan matanya dengan kuat, air matanya semakin banyak jatuh menetes.
Memang apalagi yang bisa dia lakukan di saat seperti ini selain menangis dan beristigfar?
☘️☘️☘️
__ADS_1