Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 28.


__ADS_3

Pagi ini seperti sebelumnya, Ammar mengantarkan Jihan terlebih dahulu, baru dia pergi ke kantor. Jihan berjalan masuk ke dalam gedung Ritz Corporation dengan wajah yang sumringah, dia teringat sikap Ammar yang belakangan ini semakin manis kepadanya.


Seperti tadi, Ammar berulang kali memuji sarapan buatannya, lelaki beralis tebal itu bahkan makan banyak sekali. Kemarin Ammar juga meminta nomor telepon Jihan lalu memberikan nomornya pada wanita itu agar mereka bisa saling berkomunikasi meski berjauhan. Sekarang Ammar jadi sering tersenyum dan mengobrol kepada Jihan. Bukankah itu kemajuan baik dalam hubungan mereka?


Jihan merasa sangat bahagia, dia tak henti-hentinya mengucap syukur atas perubahan sikap suaminya itu.


Jihan berjalan cepat menuju loker, tiba-tiba ponselnya berdering. Jihan mengerutkan keningnya saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


“Ummi? Tumben telepon pagi-pagi begini?”


Jihan bergegas menjawab panggilan masuk dari Salma itu.


“Halo. Assalamualaikum, Ummi.” Sapa Jihan.


“Wa’ alaikumsalam, Nak. Kamu lagi sibuk enggak?”


“Enggak Umi, aku baru saja sampai kantor. Ada apa Ummi menghubungi ku pagi-pagi begini? Tumben sekali?”


“Tadi teman sekolah kamu ada yang datang ke rumah, dia cari kamu. Barusan saja orangnya pulang.”


“Teman aku? Siapa, Ummi?” Tanya Jihan penasaran.


“Namanya Abbas. Anaknya agak kemayu gitu.”


Jihan terperangah. “Abbas? Terus dia bilang apa, Ummi?”


“Dia cuma ingin bertemu denganmu. Tapi karena kamu enggak ada, dia hanya minta nomor teleponmu saja dan berjanji akan menghubungimu. Setelah itu dia pamit pulang.”


Jihan termenung, dia berusaha mencerna situasi ini.


“Kenapa, Nak? Apa ada masalah?”


“Enggak, Ummi. Enggak ada apa-apa, kok.” Sahut Jihan.


“Ya sudah, Ummi cuma mau sampaikan itu saja.”


“Iya, Ummi. Terima kasih.”


“Kalau begitu Ummi tutup dulu, ya? Assalamualaikum.”

__ADS_1


“Wa’ alaikumsalam, Ummi.”


Jihan termangu setelah pembicaraannya dengan Salma berakhir, dia masih bertanya-tanya mengapa Abbas tiba-tiba mencarinya setelah sekian lama menghilang?


Dan ini membuktikan jika ucapan Miranda yang mengatakan Abbas sudah mati itu tidak benar.


Tring.


Jihan tersentak saat telepon genggamnya kembali berbunyi, ada sebuah pesan masuk.


“JIHAN, APA KABAR? INI AKU ABBAS, TEMAN SEKOLAH KAMU DULU. MASIH INGAT, KAN?”


Wanita berhijab itu pun segera membalas pesan dari Abbas. Ini kesempatan untuk dia bertanya keberadaan Abbas agar Ammar bisa menemuinya dan meminta maaf.


“AKU MASIH INGAT, KOK. ALHAMDULILLAH, KABARKU BAIK. KAMU SENDIRI APA KABAR? SELAMA INI KEMANA SAJA? KENAPA TIBA-TIBA MENGHILANG?”


Sebuah pesan dari Abbas kembali masuk.


“AKU BAIK. AKU ENGGAK BISA CERITA DI SINI. BAGAIMANA KALAU KITA BERTEMU SIANG INI? SEKALIAN ADA HAL PENTING YANG MAU AKU KATAKAN PADAMU. TAPI KAMU SENDIRI SAJA, JANGAN AJAK ORANG LAIN. BISA?”


Jihan bergeming, dia mencoba menimbang-nimbang ajakan dari Abbas. Terlebih hatinya merasa penasaran dengan apa yang ingin lelaki gemulai itu katakan.


“BAIKLAH. NANTI KABARI AKU KITA BERTEMU DIMANA DAN PUKUL BERAPA. TAPI INGAT, KAMU SENDIRI SAJA.”


“OK, NANTI AKU KABARI.”


Setelah selesai berkirim pesan dengan Abbas, Jihan pun melanjutkan langkahnya menuju loker. Sebenarnya Jihan tak terlalu dekat dengan Abbas saat sekolah, sebab lelaki bertubuh gemulai itu lebih banyak menyendiri demi menghindari ejekan teman-temannya. Tapi Jihan selalu berusaha bersikap ramah dan baik kepadanya meski dia sering menghindari Jihan.


☘️☘️☘️


Jihan buru-buru keluar dari gedung Ritz Corporation setelah mendapatkan izin pulang lebih awal dari biasanya. Dia juga sudah mengirim pesan kepada Abbas dan mengajak teman sekolahnya itu bertemu di kafe tak jauh dari kantornya, agar tak banyak membuang waktu di perjalanan.


Jihan juga memberi kabar kepada Ammar bahwa dia ada janji dengan Abbas dan akan meminta lelaki itu untuk bertemu dengan Ammar, agar suaminya itu bisa meminta maaf. Dia meminta Ammar agar diam-diam datang ke tempat yang sudah dia sebutkan.


Di sebuah kafe, seorang lelaki yang memakai topi dan masker melambaikan tangannya saat melihat Jihan datang.


“Hai, Jihan! Sini!”


Jihan tersenyum dan melangkah mendekati lelaki itu, meskipun dia memakai topi dan masker yang menutupi separuh wajahnya, Jihan bisa menebak dia pasti Abbas. Sebab gerak tubuhnya yang gemulai.

__ADS_1


“Maaf sudah menunggu.” Tutur Jihan.


“Enggak apa-apa. Ini minum dulu, aku sudah pesankan untukmu.” Lelaki itu menyodorkan segelas jus jeruk ke hadapan Jihan.


“Terima kasih.” Jihan pun meminum jus jeruk itu sebab dia memang merasa haus.


“Maaf, ya, kalau aku pakai masker. Soalnya aku lagi flu dan batuk, takut menularkan ke orang lain.”


“Iya, enggak apa-apa.” Balas Jihan sambil tertawa.


“Oh, iya. Aku dengar katanya kamu sudah menikah, ya?”


Jihan mengangguk lalu tersenyum. “Iya. Aku menikah dengan Ammar.”


“Ammar? Ammar teman sekolah kita itu?”


“Iya. Dia juga ingin bertemu denganmu dan meminta maaf atas kelakuannya dulu.” Ucap Jihan.


“Sudahlah. Aku sudah melupakan semuanya. Yang lalu biarkan berlalu.”


“Tapi Ammar masih merasa bersalah.”


“Aku sudah maafkan dia dan yang lainnya.”


“Terima kasih, ya. Kamu memang ba .... aawww ....” Tiba-tiba Jihan memekik sambil memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut.


“Kau kenapa?”


“Kepalaku tiba-tiba sakit dan pusing sekali.” Jawab Jihan.


“Kau sakit? Aku akan membawamu ke rumah sakit!”


“Enggak usah!” Tolak Jihan.


“Jangan menolak, Jihan! Aku takut kau kenapa-kenapa!”


Lelaki itu beranjak dan bergegas memapah Jihan keluar dari kafe. Sejujurnya Jihan ingin memberontak tapi tubuhnya mulai melemas, dan mendadak limbung, hingga akhirnya tak sadarkan diri.


☘️☘️☘️

__ADS_1


__ADS_2