Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 53.


__ADS_3

Satu tahun kemudian, kini warung bubur milik mendiang Ratih pun telah dikelola oleh Arif dan Salma. Warung sederhana itu sangat ramai pengunjung, meskipun dibantu oleh Aisyah tapi tetap saja mereka masih kewalahan melayani para pelanggan yang datang.


Jihan yang melihat orang tuanya kerepotan, tak tinggal diam, dia pun ikut membantu. Jihan sempat merasa rapuh dan terpuruk karena berpisah dari Ammar, ditambah lagi gunjingan tetangga serta kerabat perihal rumah tangganya, namun berkat kedua orang tuanya yang selalu menguatkan hatinya, kini Jihan terlihat lebih baik.


“Ummi, sini biar aku yang antar. Untuk meja yang mana?”


“Yang ujung sana, untuk Mbak Yuni.” Salma menunjuk meja paling ujung, di mana wanita paruh baya bernama Yuni itu sedang mengoceh serius di telepon.


Jihan mengambil alih nampan yang Salma pegang dan bergegas mengantarkannya ke Yuni.


“Ini pesanannya, Bu.” Ujar Jihan sembari menghidangkan mangkok berisi bubur ayam spesial itu ke hadapan Yuni.


Jihan hendak pergi tapi Yuni buru-buru menahannya. “Eh, Jihan. Tunggu sebentar!”


“Sudah dulu, ya! Assalamualaikum.” Yuni buru-buru mengakhiri pembicaraannya dengan seseorang di seberang sana lalu beralih memandang Jihan yang berdiri di hadapannya.


“Ada apa, Bu?” Tanya Jihan bingung.


“Duduk dulu sebentar! Ada yang mau Ibu bicarakan.” Pinta Yuni.


“Tapi saya sedang membantu Ummi.”


“Sebentar saja!” Yuni sedikit memaksa.


Jihan pun mengalah dan menuruti permintaan wanita itu untuk duduk.


“Jihan, Ibu mau tanya sesuatu. Tapi kamu jangan marah, ya?”


Jihan mengangguk. “Iya, Bu.”


“Hem, kamu kan sudah berpisah dari suamimu, apa kamu ada rencana untuk menikah lagi? Maaf kalau Ibu lancang bertanya seperti ini.”

__ADS_1


Jihan bergeming, sejujurnya saat ini dia sedang tak ingin membahas tentang pernikahan. Hatinya masih belum sembuh sepenuhnya, bahkan nama Ammar masih tersimpan rapi di dalam sana.


“Jihan kenapa diam? Kamu marah, ya?” Yuni merasa tak enak hati.


Jihan menggeleng. “Enggak kok, Bu. Tapi mohon maaf, saat ini saya belum memikirkan hal itu.”


“Bagaimana kalau jodohmu sudah datang? Hem, maksud Ibu seandainya ada yang ingin melamar mu, apa kamu akan terima?”


Jihan tertegun, namun kemudian tersenyum. “Kalau memang Allah memberikan jodoh lagi untuk saya, Insha Allah saya terima.”


Yuni tersenyum senang, lalu kembali bertanya, “Kalau Ibu boleh tahu, kriteria suami idaman kamu seperti apa?”


“Yang penting akhlak nya baik, bertanggung jawab dan taat pada perintah Allah.”


“Baiklah. Maaf karena Ibu bertanya seperti ini padamu.” Pungkas Yuni.


Jihan kembali tersenyum. “Enggak apa-apa, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu, mau bantu Ummi lagi. Selamat makan, Bu.”


“Iya, Nak.” Balas Yuni.


“Ya, Allah. Apa aku masih boleh merindukannya?” Ucap Jihan pelan.


“Jihan, kamu kenapa?” Tanya Salma yang memergoki putrinya itu bersandar di dinding dengan wajah sendu.


“Enggak apa-apa, Ummi.” Sahut Jihan gugup, takut sang Ummi mendengar ucapannya tadi.


“Tapi kenapa wajah kamu sedih begitu? Memang tadi Mbak Yuni bilang apa?” Cecar Salma penasaran, sebab dia tahu tadi Jihan sempat mengobrol dengan tetangga mereka itu.


“Bu Yuni bertanya, apa aku ada niat menikah lagi?”


Salma mengerutkan keningnya. “Kenapa dia bertanya seperti itu?”

__ADS_1


“Karena Mbak Yuni ingin menjodohkan Jihan dengan anaknya.” Sela Aisyah yang tiba-tiba muncul dengan membawa mangkuk kotor.


Jihan dan Salma sontak memandang ke arah Aisyah.


Salma mengernyit. “Kamu tahu dari mana, Syah?”


“Mbak Yuni sendiri yang bilang ke aku, Mbak. Dia suka sama Jihan, dan ingin melamar Jihan untuk jadi menantunya. Kalau bisa secepatnya.” Beber Aisyah jujur.


Jihan termangu, sekarang dia mengerti kenapa tadi Yuni bertanya seperti itu padanya.


“Tapi kita kan belum kenal anaknya Mbak Yuni itu seperti apa, mana bisa main terima begitu saja.” Ujar Salma.


“Kalau menurut ceritanya Mbak Yuni, anaknya itu baik dan sholeh, Mbak. Sudah gitu mapan lagi! Jihan pasti bahagia nikah dengan dia.”


“Itu kan kata Mbak Yuni, kita belum buktikan sendiri. Lagian mana ada seorang ibu yang menjelek-jelekkan anaknya, pasti dibangga-banggakan.” Bantah Salma.


“Tapi aku yakin Mbak Yuni enggak bohong, Mbak.”


“Syah, dulu juga orang tua mantan suaminya Jihan membangga-banggakan anaknya, maka saya pikir Jihan akan bahagia nikah sama dia. Eh, ternyata kelakuannya begitu!” Ujar Salma kesal.


“Ummi.” Jihan menegur sang ibu. “Jangan diungkit-ungkit lagi yang sudah berlalu!”


“Ummi kan hanya mengingatkan saja, Nak. Biar kita tidak tertipu lagi.” Sanggah Salma.


“Astaghfirullahalladzim! Kenapa pada berkumpul di sini? Pelanggan ramai, cepat layani!” Suara Arif tiba-tiba mengagetkan Jihan, Salma serta Aisyah.


“Iya, Abi.”


“Iya-iya, Mas.”


Ketiga wanita itu sontak bubar dan kembali melayani pelanggan yang semakin ramai mendatangi warung bubur mereka.

__ADS_1


Arif mengembuskan napas sambil geleng-geleng kepala dan kembali menyiapkan pesanan pembeli.


☘️☘️☘️


__ADS_2