
Miranda masih terus mengejar Ammar. Keduanya mengemudi dengan kecepatan tinggi membelah jalan yang cukup lengang.
Ammar melirik dari kaca spionnya. “Berengsek! Dia masih mengejar ku.”
Ammar pun semakin menambah kecepatan mobilnya dan mengemudi dengan kalap.
Miranda juga tak mau kalah, dia pun ikut mempercepat laju kendaraannya.
“Aku enggak akan melepaskan mu! Aku enggak mau dipenjara. Kau harus mati.” Gumam Miranda geram.
Namun sepertinya semesta sedang berbaik hati, di depan ada sebuah mobil patroli polisi tengah parkir di bahu jalan. Tak kehabisan akal, Ammar sontak ngerem mendadak. Miranda yang kaget tak sempat mengurangi kecepatannya dan menabrak mobil Ammar dari belakang.
Braaaakk ....
Suara hantaman yang keras memancing perhatian polisi tersebut, dua orang aparat bergegas keluar dari mobil patroli dan berlari menghampiri mereka.
“Aduh, kepalaku sakit sekali.” Miranda merintih sambil memegangi kepalanya yang terluka karena terbentur ke dashboard mobil.
Sedangkan Ammar terlihat baik-baik saja, hanya bumper belakang mobilnya yang rusak parah.
Melihat polisi berjalan ke arahnya setelah memeriksa mobil Ammar, Miranda pun panik dan ketakutan. “Ammar pasti sudah melaporkan ku. Aku enggak mau dipenjara.”
Mengabaikan rasa sakit di kepalanya, Miranda berusaha menyalakan kembali mobilnya dan berniat kabur.
Tok .... Tok .... Tok ....
Seorang polisi menggedor kaca jendela sebelah kanan mobil Miranda.
“Aku harus kabur!”
Miranda yang semakin ketakutan, terus mencoba menyalakan kembali mobilnya, tapi tidak bisa, membuat dia kian panik.
Saking kalutnya, Miranda pun akhirnya keluar dari pintu sebelah kiri dan berlari meninggalkan mobil itu.
“Hey, tunggu! Jangan kabur!” Teriak polisi itu yang bergegas mengejarnya.
Ammar yang mendengar teriakkan polisi itu sontak memandang ke arah Miranda yang sudah berlari menjauh.
Tak tahu harus ke mana, Miranda yang kebingungan pun menyeberang jalan dengan sembarangan sehingga tak menyadari sebuah truk melaju dari arah puncak dan langsung menabraknya.
Miranda terpental ke depan truk, dan nahasnya truk bermuatan berat itu tak bisa seketika mengerem. Alhasil, ban depan truk itu melindas kedua kaki Miranda hingga hancur remuk.
Ammar sampai memejamkan mata karena tak sanggup menyaksikan pemandangan mengerikan tersebut.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Ammar sedang memberikan keterangan di kantor polisi, dia juga sudah menghubungi Yusuf menggunakan salah satu ponsel milik seorang aparat. Sedangkan Miranda alias Abbas telah dilarikan ke rumah sakit karena terluka parah.
“Ammar, anakku.” Anita yang datang bersama Yusuf sontak berhambur memeluk putranya itu. “Kau baik-baik saja, kan?”
“Aku baik-baik saja, Ma.”
“Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Mama dan Papa sangat khawatir, setelah mendengar kabar darimu, kami langsung ke sini.”
Ammar hanya tersenyum sembari mengusap punggung belakang Anita.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Yusuf.
“Nanti saja aku ceritakan, Pa.” Jawab Ammar.
Yusuf beralih memandang polisi yang duduk di hadapannya. “Apa anak saya sudah bisa pulang, Pak?”
“Silakan, Pak. Dia sudah selesai memberi keterangan dan kami akan menangani kasus ini serta mencari dua tersangka lagi yang masih buron. Tapi kalau kami membutuhkannya, kami akan hubungi.” Sahut polisi itu.
“Baiklah, kalau begitu terima kasih banyak. Kami permisi dulu.”
“Sama-sama, Pak.”
Ammar serta kedua orang tuanya meninggalkan kantor polisi, dan kembali ke Jakarta. Sementara mobil Ammar masih tertinggal untuk keperluan barang bukti.
Di perjalanan pulang, Ammar menceritakan semuanya kepada Yusuf dan Anita. Sungguh kedua pasangan suami istri itu tak percaya bahwa Miranda itu adalah Abbas dan seseorang yang sangat jahat.
“Dari awal Papa sudah bisa menduga, jika dia bukan orang baik. Tapi kau enggak bisa dilarang.” Yusuf mengomeli putranya itu.
Ammar hanya terdiam dengan malu dan penuh penyesalan.
“Tapi kalau dipikir-pikir, kasihan juga dia itu. Dia pasti sangat terpukul dan sedih karena kehilangan orang yang disayangi, belum lagi hinaan yang dia terima. Pasti hidupnya sangat berat sampai dia nekat berbuat seperti ini.” Ucap Anita.
“Dari sini kita bisa ambil pelajaran, jangan pernah menghina dan menyakiti orang lain bagaimana pun dirinya. Meskipun dia berbeda. Karena setiap manusia itu sama di mata Allah. Terkadang rasa sakit yang teramat sangat membuat seseorang itu menjadi gelap mata.”
Kata Yusuf.
“Iya, Papa kamu benar, Nak. Belajarlah dari kejadian ini. Kau bersyukur masih Allah berikan kesempatan untuk hidup dan memperbaiki semuanya, jadikan ini pengalaman agar kau lebih bisa menghargai orang lain.” Sela Anita.
Ammar hanya mengangguk, rasa malu dan bersalah serta penyesalan semakin menusuk hatinya. Bukan karena perlakuannya terhadap Abbas saja, namun juga kepada Jihan.
“Oh iya, Mama dan Papa sudah tahu belum kalau Jihan beserta keluarganya pindah ke Surabaya?” Tanya Ammar.
“Sudah, kami sudah tahu.” Sahut Yusuf.
“Papa dan Mama sudah tahu? Terus tahu enggak alamat mereka yang di Surabaya?”
__ADS_1
Yusuf menggeleng. “Papa hanya pernah dengar neneknya Jihan tinggal di sana, tapi tepatnya di mana, Papa enggak tahu.”
Ammar tertunduk, wajahnya seketika muram. “Aku harus bertemu Jihan dan meminta maaf kepadanya, juga kepada Abi serta Ummi. Aku menyesal telah menyakiti mereka.”
“Pelan-pelan kita cari tahu keberadaan mereka. Papa akan membantumu.”
Ammar kembali mengangguk, lalu menengadahkan kepalanya dan menatap Yusuf. “Aku pinjam ponselnya, Pa.”
Yusuf menautkan alisnya. “Untuk apa?”
“Aku ingin menghubungi Pak Adam untuk membatalkan perceraian yang aku ajukan.”
“Enggak perlu!”
Ammar mengernyit.“Kenapa?”
“Karena perceraian itu memang enggak pernah diurus. Papa sudah melarang Adam, karena Papa tahu Jihan enggak bersalah dan kau mengambil keputusan karena emosi.”
“Terima kasih banyak, Pa. Terima kasih karena sudah mau mengerti dan melindungi ku dari kekhilafan. Maafkan aku karena selama ini selalu menentang Papa dan Mama. Aku juga sering menyusahkan kalian, membuat kalian marah.” Ucap Ammar penuh haru.
“Iya, kami sudah memaafkan mu sebelum kau meminta maaf. Bagaimana pun juga, kau itu putra kami satu-satunya, kami hanya ingin yang terbaik untukmu.” Balas Yusuf. “Papa juga minta maaf karena sudah bersikap kasar padamu.”
“Papa enggak perlu minta maaf, aku memang pantas mendapatkannya karena sudah bertindak kurang ajar dan seenaknya.”
“Kalau begitu, mulai sekarang belajar untuk jadi lebih baik dan lebih dewasa. Biarpun kau kehilangan masa lalu mu, tapi jangan sampai kau juga kehilangan masa depanmu.” Anita menimpali.
“Siapa bilang aku kehilangan masa laluku? Ingatan ku telah kembali dan aku sudah ingat semuanya.” Ungkap Ammar penuh semangat.
“Masya Allah!” Anita memekik sembari memeluk Ammar. “Jadi kau sudah sembuh?”
“Iya, Ma.”
“Bagaimana bisa? Maksud Papa kenapa tiba-tiba ingatan mu kembali?”
Tanya Yusuf bingung.
“Tadi salah satu dari mereka memukul kepala belakangku, dan saat itu rasanya sakit sekali. Namun beberapa kejadian mulai berseliweran secara acak, banyak wajah orang yang aku ingat termasuk Jihan. Lalu aku pingsan. Makanya saat Miranda menceritakan tentang kejadian pengurungan itu, aku langsung ingat Abbas. Tapi sepertinya dia enggak sadar kalau ingatanku sudah kembali.”
Terang Ammar.
“Ya Allah, ini yang namanya ada hikmah di balik musibah.” Imbuh Anita sembari mengusap air mata harunya.
“Iya, Mama benar.” Pungkas Yusuf.
Tiada yang lebih indah dari sebuah hubungan baik antara orang tua dan anak, sebab dari sana lah kita akan menemukan arti kasih sayang yang tulus tanpa pamrih.
__ADS_1
☘️☘️☘️