
Ammar dan Yusuf tak menyangka akan bertemu founder sekaligus CEO Ritz Corporation itu, mendadak hati Ammar curiga dengan kemunculan duda rupawan tersebut.
Begitu pun dengan Radit, perasaannya mulai tidak enak.
“Kalian sudah saling kenal?” Tanya Arif.
“Radit ini kolega bisnis aku, Rif. Dia pemilik salah satu perusahaan besar di Jakarta, masih muda sudah mapan.” Jawab Yusuf kagum.
“Pak Yusuf terlalu berlebihan. Itu perusahaan Ayah, saya hanya menjalankannya saja.” Sahut Radit merendah.
“Sama saja itu! Kan nanti jadi milik kamu juga.” Balas Yusuf. “Eh, tapi ngomong-ngomong, sedang apa di sini?”
“Kemarin saya mengunjungi Bunda sekalian ada keperluan dengan keluarga Pak Arif. Dan sekarang saya ingin pamit, pulang ke Jakarta.”
Terang Radit lalu tersenyum.
“Bunda kamu tinggal di dekat sini?”Tanya Yusuf.
Radit mengangguk. “Iya, Pak. Hanya berjarak beberapa meter dari sini.”
“Kami tetangga, Suf.” Sela Arif sembari tertawa canggung.
Yusuf manggut-manggut.“Oh, pantas saja bisa sampai ke sini.”
“Sebenarnya selain tetangga, Nak Radit ini juga mantan atasannya Jihan. Dan Insha Allah awal bulan depan mereka akan menikah, Nak Radit sudah mengkhitbah nya.” Sela Salma.
Ammar dan kedua orang tuanya terkesiap mendengar pengakuan Salma.
“Tapi kami belum bercerai, Ummi! Karena aku sudah membatalkan perceraiannya. Jadi Jihan enggak boleh menikah dengan orang lain!” Ujar Ammar tak terima.
Radit serta Arif dan Salma terkejut mendengar ucapan Ammar itu.
“Jadi mantan suami Jihan itu kamu? Tapi kenapa waktu itu kalian bersikap seperti orang yang enggak saling mengenal?”Cecar Radit.
Lagi-lagi semua orang kaget mendengar penuturan Radit, separah itu kah hubungan Ammar dan Jihan dulu? Sampai harus pura-pura tidak mengenal satu sama lain.
Ammar terdiam, namun akhirnya dia memilih untuk mengalihkan pembicaraan. “Pokoknya kalian enggak boleh menikah! Aku enggak akan membiarkan itu terjadi!”
“Tapi kamu sudah menjatuhkan talak terhadap Jihan dan secara agama kalian sudah bukan lagi suami istri.” Salma kembali menyela.
“Tapi aku ingin rujuk dengan Jihan, Ummi! Aku ingin memperbaiki semuanya.” Ujar Ammar tegas.
Hati Radit mendadak resah mendengar niat Ammar ingin rujuk dengan Jihan.
__ADS_1
“Enak saja kamu! Setelah kamu menyakiti dan mencampakkannya begitu saja, sekarang kamu mau minta rujuk! Saya enggak setuju!” Bantah Salma.
“Sudah-sudah! Kita bicarakan ini baik-baik!” Arif menengahi karena situasi sudah mulai panas.
“Iya, ini ada kesalahpahaman yang terjadi, dan sebaiknya kita luruskan dulu.” Sambung Yusuf.
Salma dan Ammar terdiam. Sementara Jihan hanya tertunduk dengan air mata berlinang, dia semakin galau.
“Hem, maaf, sebaiknya saya permisi saja. Nanti saya ke sini lagi, Pak.” Radit menyela.
Arif menatap Radit. “Nak Radit mau ke mana?”
“Saya pulang dulu, Pak. Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Radit bergegas meninggalkan rumah Arif dengan perasaan berkecamuk, dia merasa tak enak jika berada di antara dua keluarga yang sedang bersitegang itu, walaupun sejujurnya dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara Jihan dan Ammar.
Arif menatap Yusuf.“Sekarang tolong jelaskan kesalahpahaman apa yang kamu maksud, Suf?”
“Baiklah.”
Yusuf pun menceritakan yang sebenarnya terjadi antara Ammar dan Miranda, dia juga mengatakan siapa Miranda sebenarnya. Sama seperti Jihan tadi, Arif dan Salma pun terkejut bukan main.
“Aku juga sudah menceritakan semuanya pada Jihan, dan menyampaikan niatku, Abi.” Ujar Ammar seraya menatap Jihan yang tertunduk di hadapannya.
Arif sontak memandang sang putri. “Berarti kamu sudah tahu, Nak?”
Jihan mengangguk. “Sudah, Abi.”
Arif mengembuskan napas berat. “Tadinya kami pikir Nak Ammar sudah menikahi Miranda itu dan menceraikan Jihan, makanya kami menerima pinangan Nak Radit. Hampir saja kami menemui kalian untuk meminta akta cerainya, tapi ternyata kami salah.”
“Sekarang kan kalian sudah tahu yang sebenarnya. Secara agama Jihan dan Ammar memang sudah bercerai, tapi secara hukum mereka masih terikat pernikahan. Jadi bagaimana, apa bisa rencana pernikahan Jihan dibatalkan agar anak-anak kita kembali bersatu?” Yusuf ingin memastikan.
“Aku enggak bisa memutuskannya sendiri, Suf. Jihan lah yang palig berhak mengambil keputusan itu, apakah dia mau kembali rujuk dengan Nak Ammar atau tetap melanjutkan rencana pernikahannya dengan Nak Radit yang berarti Nak Ammar harus mengurus perceraian mereka.” Jawab Yusuf.
“Enggak! Aku enggak mau bercerai dari Jihan!” Ammar menggeleng lalu mengalihkan perhatiannya ke Jihan yang sejak tadi diam membisu. “Jihan, aku mohon batalkan semua ini dan kembali padaku! Kita bisa mulai lagi segalanya dari awal.”
Jihan tak tahu harus mengatakan apa, dia hanya menangis tersedu-sedu. Jauh di hati kecilnya masih ada cinta untuk Ammar, namun dia tak sampai hati membatalkan pinangan Radit yang sudah sangat baik terhadap keluarganya. Terlebih dia tak ingin melukai perasaan Yuni yang begitu berharap padanya.
“Jihan bicaralah!” Desak Ammar sedikit emosi karena Jihan hanya bergeming.
“Kalau Jihan diam, itu berarti dia enggak ingin kembali kepada kamu!” Salma tiba-tiba angkat bicara setelah sedari tadi dia menyimak semuanya.
__ADS_1
Arif langsung menatap istrinya itu. “Ummi!”
“Abi, walaupun dia mengatakan semua yang terjadi hanya kesalahpahaman, tapi tetap saja sikap dan perbuatannya terhadap Jihan enggak bisa dibenarkan! Dari awal mereka menikah dia sudah tidak menganggap Jihan sebagai istri, dia berselingkuh dan memperlakukan Jihan dengan buruk. Dan yang paling fatal dia menghina dan mencampakkan anak kita seenaknya! Apa dia pikir Ummi enggak sakit hati? Jadi buat apa lagi dia ingin bersama anak kita?” Salma akhirnya meluapkan semua kekesalan hatinya pada Ammar sambil berlinang air mata.
“Ummi, sudah!” Arif mengusap pundak sang istri.
Ammar tertegun mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Salma, wanita berhijab itu tampak benar-benar marah. Sementara Jihan semakin terisak-isak, dia tak sanggup untuk bicara lagi.
“Ummi, aku sungguh minta maaf atas apa yang aku lakukan dulu. Aku menyesal, Ummi.” Ammar memelas.
“Saya bisa memaafkan kamu, tapi saya enggak izin kamu rujuk dengan Jihan! Jadi sebaiknya kamu segera urus perceraian kalian!” Ujar Salma menohok.
Ammar tercengang mendengar ucapan Salma, hatinya seperti dihantam batu besar, sakit sekali.
“Astaghfirullah, Ummi! Kenapa bicara seperti itu!” Arif bicara dengan penuh penekanan.
“Salma, jangan begitu!”Seru Anita tak terima.
Salma pun beranjak lalu menarik Jihan pergi. “Ayo, Nak!”
“Ummi.” Jihan terkejut dan mengikuti langkah Salma dengan tergopoh-gopoh.
“Ummi! Tunggu, Ummi!” Pekik Ammar.
Arif benar-benar merasa tidak enak dengan sikap kasar sang istri. “Aku minta maaf atas sikap Salma.”
“Enggak apa-apa, Rif. Sebaiknya kami pulang dulu, nanti kita bicarakan lagi masalah ini.” Balas Yusuf yang mengerti mengapa Salma bersikap seperti itu.
“Pa, kenapa pulang? Aku harus bicara dengan Jihan! Aku enggak mau kami benar-benar bercerai.” Ammar protes.
“Biarkan situasinya tenang dulu, nanti kita ke sini lagi.” Yusuf menepuk pundak Ammar.
“Iya, nanti saya coba bicara lagi dengan Salma dan Jihan.” Sambung Arif.
Ammar mengembuskan napas, dia kesal dan sedih karena ternyata semua tidak semudah yang dia bayangkan.
“Kalau begitu kami permisi dulu, assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Yusuf berserta anak dan istrinya pun meninggalkan kediaman sederhana Arif.
☘️☘️☘️
__ADS_1