
Setelah melahap habis makanan di hadapan mereka, Ammar pun menenggak segelas air putih yang disediakan Jihan sampai tandas. Sedangkan Jihan membawa piring kotor ke tempat pencucian lalu mencucinya.
“Tadi aku bertemu Miranda.” Beber Ammar tiba-tiba.
Jihan berbalik dengan mata membulat. “Apa Mas melabraknya?”
“Enggak. Seperti saran darimu, aku berpura-pura bersikap seperti biasa. Walaupun rasanya berat sekali.”
Jihan mengembuskan napas lega. “Alhamdulillah.”
“Dan kau tahu apa yang kudapat?”
Jihan menautkan kedua alisnya. “Apa, Mas?”
Ammar pun menceritakan apa yang dia dapatkan dari penyelidikannya tadi. Setali tiga uang dengan Ammar, Jihan pun bingung dengan apa yang terjadi.
“Dia juga tahu teman-teman kita dan cerita tentang Mas. Sebenarnya siapa dia?”
Ammar menaikkan kedua bahunya. “Entah lah, aku juga masih bingung. Ini seperti benang kusut, yang semakin diurai, semakin buat pusing kepala.”
“Iya, Mas benar. Semakin kita cari tahu, semua ini semakin membingungkan. Aku juga sudah menanyakan tentang Miranda ke beberapa teman kita, tapi tak ada satu pun yang mengenal dia.”
Ammar mengembuskan nya napas berat. “Aku masih enggak menyangka selama enam bulan ini aku sudah dibohongi olehnya. Padahal aku sudah banyak menghabiskan uang untuk dia, bahkan aku sering sekali bertengkar dengan Papa dan membuat Mama menangis. Semua itu karena membelanya, betapa bodohnya aku.”
__ADS_1
“Astagfirullah, Mas. Seharusnya sebagai anak, Mas enggak boleh melukai perasaan orang tua apalagi sampai membuat Ibu kita menangis. Kita bisa durhaka, Mas. Dan Mas tahu, anak yang durhaka itu, azabnya langsung di dunia. Nauzubillah.”
“Iya, aku sungguh menyesali semua itu.” Sesal Ammar.
“Mas harus minta maaf pada Mama dan Papa.” Pinta Jihan.
Ammar mengangguk dua kali, tanpa menjawab Jihan.
“Sekarang sebaiknya Mas mandi lalu Shalat, minta ampun dan petunjuk dari Allah.”
Ammar mengembuskan napas berat. “Apa Allah masih mau mendengar doaku? Selama ini aku sudah terlalu jauh meninggalkan-Nya.”
“Mas, Allah itu maha pengampun dan maha penyayang. Dia pasti menerima Taubat setiap hambanya dan Insya Allah doa-doa Mas akan diijabah. Jadi Mas jangan ragu.”
“Sama-sama, Mas.” Balas Jihan dengan senyum bahagia.
Ammar beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan dapur dengan lesu. Malam ini mereka telah kembali ke kamar masing-masing, karena Yusuf dan Anita sudah pulang.
☘️☘️☘️
Sehabis mandi, Ammar berdiri di depan cermin wastafel, dia memandangi pantulan bayangan dirinya di dalam cermin.
Ada perasaan hangat di dalam hatinya saat berada di dekat Jihan tadi, perasaan yang sangat familier, perasaan yang tak pernah dia rasakan ketika bersama Miranda.
__ADS_1
Ammar menelisik hati kecilnya, apakah selama ini dia memang mencintai Miranda? Atau hanya merasa kasihan dan berusaha menepati janjinya? Sebab wanita yang menyimpan banyak misteri itu selalu menghiburnya dan membuat dia bangkit dari trauma pasca kecelakaan tragis itu.
“Ya Allah, apa yang sedang Kau rencanakan untukku? Apa ini hukuman karena aku telah meninggalkan-Mu? Aku sudah terlalu jauh dari-Mu.” Tutur Ammar sembari terus menatap pantulan bayangan dirinya di cermin.
Ammar memejamkan matanya dan menghela napas panjang, sungguh dia merasa malu karena selama ini tak pernah lagi menyebut nama Allah, dia seolah melupakan sang penciptanya itu.
Ammar pun membuka matanya lalu bergegas mengambil wudu dan segera melaksanakan Shalat isya.
Setelah selesai Shalat, Ammar menadahkan tangannya dan berdoa.
“Ya , Allah ampunilah dosa dan kesalahanku selama ini. Aku merasa tak pantas memohon pada-Mu, aku terlalu munafik, ya, Allah.”
“Tapi aku tahu, tiada tempat terbaik untuk mengadu dan memohon pertolongan selain pada-Mu. Aku berharap Kau memberikan petunjuk atas apa yang sedang terjadi, bantu aku menyelesaikan semua masalah ini, ya, Allah. Aamiin ya rabbal Al-Amin.”
Ammar mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, sejenak hatinya merasa tenang, tak gundah gulana seperti sebelumnya. Mengadu kepada Allah adalah obat paling mujarab dikala kita sedang merasa beban hidup terlalu menghimpit.
Ammar beranjak dari atas sajadah dan berpindah ke atas ranjang, dia membaringkan tubuhnya lalu menatap langit-langit kamar. Mendadak bayangan wajah ayu Jihan seolah tergambar di hadapannya, membuat sudut bibir lelaki berwajah rupawan itu membentuk sebuah lengkungan.
“Sepertinya apa yang disampaikan Pak Radit itu benar, aku akan tertarik jika sudah mengenalnya. Mungkin sekarang kami bisa mulai berteman lagi. Aku akan perbaiki hubungan kami.” Ucap Ammar pada dirinya sendiri.
Mata Ammar pun terpejam, namun bibirnya tetap tersenyum. Begitu cepat Allah membolak-balikkan hatinya, dari marah menjadi iba dan lambat laun merasakan cinta.
☘️☘️☘️
__ADS_1