Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 48.


__ADS_3

Dengan tergesa-gesa Ammar berjalan menuju apartemen Miranda, kemarahan benar-benar telah menguasainya. Dia segera menekan kode sandi pintu apartemen Miranda yang memang sudah dia hafal dan pintu bercat coklat itu pun terbuka. Namun Ammar tercengang saat matanya menangkap dua sosok anak manusia yang sedang bercumbu mesra di atas sofa, dialah Evan dan Miko.


“Kalian?” Seru Ammar dengan mata yang mendelik.


Kedua insan homo seksual yang sedang dimabuk asmara itu pun tak kalah kagetnya saat melihat Ammar sudah berdiri di ambang pintu.


“Ammar?” Gumam Evan dengan wajah terkejut.


Rahang Ammar langsung mengeras saat dia melihat Miko. Dia ingat betul, Miko adalah lelaki yang ada di dalam foto itu dan juga yang melakukan panggilan video dengannya.


“Jadi kau orangnya?” Geram Ammar, dia mendekati kedua insan itu dengan langkah yang lebar dan langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajah Miko.


Evan yang panik berusaha menarik Ammar menjauh dari kekasihnya tapi Ammar memberontak dan berbalik memukul Evan lalu mendorong lelaki itu hingga terjatuh menghantam meja. Kesempatan itu dimanfaatkan Miko untuk kabur.


“Akan ku habisi kau, bangsat!” Teriak Ammar dan bergegas mengejar Miko lalu menendangnya dari belakang, membuat kekasih Evan itu tersungkur ke lantai.


Miko berupaya untuk bangkit, tapi Ammar menginjak kepalanya.


“Ampun! Tolong lepaskan aku! Aku hanya disuruh.” Ujar Miko sambil menahan sakit.


“Aku enggak akan melepaskan mu, aku akan menghabisi mu karena sudah berani menyentuh istriku.” Hardik Ammar.


“Aku enggak menyentuhnya sama sekali, aku berani bersumpah.” Sahut Miko.


Praang ....


Evan memukul kepala belakang Ammar dengan guci porselen milik Miranda. Seketika Ammar ambruk jatuh ke lantai, kepalanya terasa sakit luar biasa, dan mendadak bayangan wajah Jihan serta beberapa kejadian masa lalu berlarian secara acak di ingatannya. Namun beberapa detik kemudian dia pun tak sadarkan diri.


Melihat Ammar pingsan, Evan segera membantu Miko berdiri. “Kamu enggak apa-apa?”


“Wajah dan badanku sakit semua.” Rengek Miko. Lalu memandang Ammar. “Apa dia mati?”


“Sepertinya hanya pingsan.” Jawab Evan yang melihat Ammar masih bernapas.


“Kalau begitu ayo aku antar kau ke rumah sakit.”Ajak Evan.


“Terus dia bagaimana?” Miko menunjuk Ammar yang terkapar di lantai.


“Nanti biar Miranda yang urus.”


Tepat di saat itu Miranda pun pulang dan terkejut saat melihat Ammar tergeletak tak sadarkan diri dengan pecahan guci porselen di sekitarnya.


“Apa yang terjadi?” Tanya Miranda.

__ADS_1


“Tadi dia tiba-tiba masuk dan memergoki kami, lalu dia memukuli Miko. Aku sudah berusaha menghentikannya tapi dia juga memukulku dan kembali menyerang Miko. Karena panik, aku pukul saja dia hingga pingsan.” Evan menjelaskan.


“Jadi dia sudah melihat Miko?”


Evan mengangguk.


“Berarti dia sudah tahu jika kita dalang kejadian di hotel itu. Ini berbahaya, dia pasti enggak akan tinggal diam.” Ucap Miranda cemas.


“Jadi sekarang bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?” cecar Evan. “Kami enggak ingin terlibat masalah.”


“Mau enggak mau, kita harus habisi dia.” Imbuh Miranda.


Miko sontak menggeleng. “Enggak! Aku enggak mau ikutan lagi! Apalagi membunuh. Aku enggak mau!”


“Iya, Mir. Aku juga enggak mau jadi pembunuh.” Evan menimpali.


“Cuma itu cara satu-satunya. Kalian mau dia sadar, terus lapor polisi dan kita akan ditangkap lalu mendekam di penjara.”


“Kenapa kau enggak memikirkan risiko itu dari awal, Mir?”


“Aku pikir semua ini enggak akan ketahuan. Lagian ini juga gara-gara kalian!”


“Kok gara-gara kami? Kan ini ide mu, kami hanya membantumu karena mendapatkan bayaran. Kenapa sekarang kau menyalahkan kami?” Protes Evan tak terima.


“Habis kami sudah enggak tahan lagi, Mir.” Gumam Evan.


“Makanya modal, biar bisa sewa hotel.” Ejek Miranda. “Sudah, sekarang bantu aku ikat dia. Setelah itu kita pikirkan cara menyingkirkan dia.”


“Tapi, Mir ....”


“Kalian sudah terlanjur terlibat, jadi jangan setengah-setengah. Nanti aku akan menambah bayaran untuk kalian.” Bantah Miranda sembari memberi iming-iming kepada pasangan homo seksual itu.


“Kalau begitu biarkan aku membawa Miko ke rumah sakit dulu.” Evan bernegosiasi dengan Miranda.


“Nanti saja setelah kalian membereskan yang ini.” Miranda menunjuk Ammar dengan matanya.


Evan dan Miko pun akhirnya bersedia membantu Miranda, mereka memindahkan Ammar ke kamar kosong lalu mengikat kaki serta tangan lelaki itu.


☘️☘️☘️


Sementara itu Jihan yang sedang di dalam perjalanan tersentak kaget karena ponselnya tiba-tiba berdering. Dia bergegas merogoh benda pipih itu dari dalam tasnya dan segera menggeser tombol hijau saat melihat nama Tasya.


“Halo, Sya.” Sapa Jihan lembut.

__ADS_1


“Han, tadi suamimu datang ke kantor, dia menanyakan kamu pindah ke mana?.”


Jihan terkesiap. “Apa?”


Arif dan Salma sontak memandang putri mereka itu.


“Terus kamu bilang?” Lanjut Jihan.


“Enggak. Habis aku kesal karena dia kasar banget, masa dia bentak-bentak aku.”


Jihan termangu, dia tak menyangka Ammar akan bersikap seperti itu pada Tasya.


“Eh, tapi sebenarnya ada apa, sih? Kalian lagi berantem? Kok kamu pindah tapi suami kamu enggak tahu?”


Jihan tersentak mendengar pertanyaan Tasya tersebut.


“Maaf, Sya. Aku enggak bisa cerita, ini masalah rumah tangga aku.”


“Ya sudah, enggak apa-apa, itu hak kamu kalau enggak mau cerita. Tapi kapan pun kamu butuh teman, aku selalu ada.”


“Iya, Sya. Terima kasih.”


“Sama-sama. Kalau begitu aku tutup dulu. Bye.”


Tasya langsung mengakhiri pembicaraan mereka.


“Ada apa, Nak?” Salma bertanya dengan penasaran.


“Tadi Mas Ammar ke kantor, dia tanya kita pindah ke mana pada Tasya, Ummi.” Jawab Jihan.


“Terus teman kamu itu bilang ke dia?” Salma memastikan.


Jihan menggeleng. “Enggak, Ummi.”


“Syukurlah. Ummi enggak mau kamu berhubungan lagi dengan dia! Jadi dia enggak perlu tahu alamat dan nomor telepon kamu yang baru.”Sungut Salma.


“Ummi!”Tegur Arif.


Salma langsung terdiam dengan wajah masam.


Sedangkan Jihan masih bertanya-tanya dalam hati. “Mau apa Mas Ammar menanyakan alamatku?”


☘️☘️☘️

__ADS_1


__ADS_2