Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 40.


__ADS_3

Jihan dan Asep tiba di sebuah toko servis handphone yang terletak di pinggiran pasar, si penjaga toko segera memeriksa ponsel Jihan.


“Ponselnya aman, kemungkinan sim card nya yang rusak ini.” Ujar si penjaga toko.


“Oh. Tapi kemarin waktu ditelepon tersambung, Cuma di ponsel saya enggak ada tanda-tanda panggilan masuk. Dan posisinya sudah begini.” Beber Jihan.


“Wah, sepertinya akun WhatsApp Mbak nya di kloning ini. Jangan-jangan sim card nya juga.”


Jihan dan Asep tercengang mendengar penuturan si penjaga toko.


“Kayak domba saja bisa dikloning.” Ledek Asep.


“Ih, Mas nya ngeyel. Sekarang lagi musim tahu kloning akun WhatsApp dan sim card. Sudah banyak kejadian, bahkan ada yang saldo rekeningnya habis dikuras karena nomor teleponnya di kloning.” Celoteh si penjaga toko.


“Seram banget!” Seru Asep, lalu beralih memandang Jihan. “Saldo di rekening bank kamu banyak, Han?”


Jihan menggeleng. “Enggak, paling tinggal beberapa puluh ribu.”


“Oh, syukurlah.” Asep mengelus dada.


“Tapi Mas, itu gimana caranya WhatsApp dan sim card aku bisa dikloning? Soalnya aku baru tahu ada kejadian seperti ini.”


Si penjaga toko itu pun menjelaskan cara mengloning akun WhatsApp dan sim card yang dia ketahui, Jihan pun terkesiap mendengarnya.


Setelah mengganti sim card nya dengan yang baru, dan membuat akun WhatsApp dengan nomor baru, Jihan serta Asep pun meninggalkan toko servis handphone itu. Hati dan pikiran Jihan terus dihantui prasangka buruk, dia curiga lelaki yang bersamanya di hotel waktu itu lah pelakunya, tapi dia berusaha tetap tenang agar Asep tak khawatir.


Sesampainya di rumah Emak Ratih, Jihan buru-buru masuk karena mendengar suara gaduh dari dalam kamar yang mereka tempati. Sementara suasana di ruang tamu tampak sepi karena kerabat yang lain sudah kembali ke rumah masing-masing.


“Assalamualaikum ....” Ucap Jihan dan Asep bersamaan.


“Wa’ alaikumsalam ....”


“Ada apa ini, Ummi?” Tanya Jihan sebab melihat Salma sedang membongkar tasnya.


“Ponsel Abi hilang, Nak.” Jawab Salma panik.


“Ya Allah!” Seru Jihan. “Kok bisa? Memang sebelumnya Ummi letak di mana?”


“Setelah di kereta api semalam, Ummi enggak ada keluarkan lagi. Abi juga enggak ada ambil.” Sahut Salma.


“Mungkin saja dicopet, Mbak.” Sela Aisyah.


“Tapi semalam enggak ada yang mencurigakan.” Balas Salma.


“Abi rasa ponsel itu terjatuh saat di kereta api. Mungkin Ummi lupa atau enggak sadar jika ponsel itu belum masuk ke dalam tas. Wallahualam.” Ujar Arif.


Jihan sontak merasa bersalah, sebab karena dia, sang Ummi jadi mengeluarkan ponsel itu. “Maafkan aku. Ini semua gara-gara aku. Kalau semalam aku enggak meminjam ponsel Abi, pasti Ummi enggak akan mengeluarkannya dan ponsel itu enggak akan hilang.”


“Jihan, ini bukan salah siapa-siapa! Semua ini sudah nahas, memang sudah jalannya ponsel itu harus hilang. Jadi ikhlaskan saja.” Ucap Arif.

__ADS_1


“Iya, Nak.”


“Tapi itu satu-satunya alat komunikasi Abi dan Ummi, kalau hilang bagaimana Abi bisa menghubungi pelanggan?”


“Enggak apa-apa, Nak. Karena Abi sudah memutuskan untuk berhenti bekerja dan pindah ke sini.”


Jihan tercengang. “Abi sudah ambil keputusan?”


Arif mengangguk. “Iya, Abi akan memenuhi wasiat Eyang kamu untuk meneruskan bisnis keluarga kita. Tapi bagaimana dengan pekerjaan kamu?”


“Kontrak kerjaku masih ada sebulan lagi, tapi aku akan minta tolong pada atasanku untuk mengizinkan aku mengundurkan diri. Mudah-mudahan diizinkan.” Jawab Jihan.


“Semoga dimudahkan.”


“Aamiin.”


“Baiklah, lusa kita akan kembali ke Jakarta dan mengurus semuanya. Abi juga harus bertemu dengan Yusuf untuk membicarakan tentang kamu dan Ammar. Kita butuh kejelasan tentang kelanjutan hubungan kalian.”


“Enggak usah, Abi.” Tolak Jihan.


Arif menautkan kedua alisnya. “Kenapa?”


Jihan menelan ludah sebelum bicara. “Kemarin aku bertemu Mas Ammar, dan dia mengatakan bahwa dia sudah mengurus perceraian kami. Kami akan benar-benar berpisah.”


“Subhanallah! Ternyata keputusan Ammar sudah bulat untuk berpisah dari mu. Kenapa Yusuf enggak memberikan kabar apa-apa kepada Abi?”


“Innalilahi. Kalau begitu lusa kita sekalian jenguk Yusuf.”


“Iya, Abi.”


“Assalamualaikum ....” Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengucapkan salam.


“Wa’ alaikumsalam ....”


“Sepertinya di luar ada tamu. Aku lihat dulu, ya.” Aisyah bergegas keluar dari kamar itu.


Arif, Jihan dan Salma pun bergegas menyusul Aisyah keluar dari kamar.


Seorang wanita paruh baya dengan kerudung hitam berdiri diambang pintu, Aisya menyapanya dan mempersilahkan wanita itu masuk.


“Eh, Mbak Yuni. Masuk, Mbak!”


“Iya. Assalamualaikum ....”


“Wa’ alaikumsalam ....”


“Silakan duduk, Mbak. Biar saya buatkan minum dulu.” Ujar Aisyah yang hendak beranjak ke dapur, tapi wanita yang bernama Yuni itu menahannya.


“Eh, enggak usah repot-repot, Syah. Tadi saya baru saja minum, lagi pula saya hanya sebentar. Sudah duduk saja sini!”

__ADS_1


Aisyah mengurungkan niatnya, dan kembali duduk.


Arif beserta anak dan istrinya pun ikut bergabung bersama Aisyah serta Yuni.


“Oh iya, Mbak. Kenalkan ini Mas Arif, dia kakak saya. Yang ini istrinya, Mbak Salma dan yang itu anaknya, Jihan.”


Aisyah memperkenalkan satu persatu kerabatnya itu.


Yuni tersenyum dan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. “Hai, perkenalkan saya Yunita. Saya pelanggan setianya Emak, rumah saya enggak jauh dari sini.”


“Salam kenal Mbak Yuni.” Balas Salma. Sementara Arif dan Jihan hanya tersenyum.


“Saya ke sini cuma mau mengucapkan turut berdukacita atas meninggalnya Emak. Maaf, saya baru bisa datang sekarang, soalnya saya baru saja pulang dari Solo.” Tutur Yuni.


“Enggak apa-apa, Mbak Yuni. Terima kasih sudah mau mampir ke sini.” Balas Aisyah.


“Sama-sama. Saya kaget banget, pulang-pulang Mbok Sam menyampaikan kabar duka ini. Rasanya masih enggak sangka Emak sudah tiada.”


“Namanya umur, enggak ada yang tahu.” Kata Arif.


“Iya, kita cuma bisa menunggu kapan giliran kita menghadap sang khalik.” Yuni membalas ucapan Arif. “Oh iya, Mas Arif sekeluarga ini tinggal di mana? Maklum saya belum lama di sini, jadi belum banyak tahu.”


“Di Jakarta, Mbak.”


“Wah, jauh juga ternyata. Anak saya juga ada di Jakarta.” Beber Yuni.


Yuni pun akhirnya terlibat obrolan ringan bersama Arif dan keluarganya, sampai tiba azan Zuhur berkumandang, Yuni memutuskan untuk pulang.


“Kalau begitu saya permisi dulu. Nanti saya main lagi ke sini.” Ujar Yuni.


“Iya, Mbak. Pintu rumah ini selalu terbuka untuk Mbak Yuni.” Balas Aisyah.


“Terima kasih, ya. Saya pamit, Assalamualaikum.”


“Wa’ alaikumsalam ....”


Yuni meninggalkan rumah sederhana milik almarhumah Ratih dengan berjalan kaki, karena rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari sini.


“Kasihan Mbak Yuni, dia itu sebenarnya kesepian. Anaknya jauh, dia hanya tinggal bareng pembantu dan sopir saja. Padahal rumahnya gede banget.” Celoteh Aisyah.


“Kenapa dia enggak tinggal bareng anaknya saja di Jakarta?” Cecar Jihan.


Aisyah menaikkan kedua bahunya. “Entah. Dia maunya di sini.”


“Ehem! Sudah azan, loh! Masih betah saja mengobrol?” Sindir Arif yang sudah bersiap ke mesjid.


Aisyah dan Jihan hanya meringis lalu bergegas ke kamar mandi untuk berwudu.


☘️☘️☘️

__ADS_1


__ADS_2