Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 58.


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti biasa Jihan membantu kedua orang tuanya berjualan bubur. Tapi karena ini sudah waktunya warung tutup, Jihan pun menumpuk semua mangkok kotor dan mencucinya. Salma pun menghampiri sang putri sembari memberikan mangkok kotor yang dia ambil dari depan.


“Bagaimana, Nak? Apa kamu sudah mendapatkan jawabannya?” Tanya Salma tiba-tiba.


“Alhamdulillah, sudah, Ummi.” Jawab Jihan.


“Apa?”


“Nanti juga Ummi akan tahu.”


“Oh, mau main rahasia-rahasiaan ya sama Ummi?” Ledek Salma.


Jihan hanya tersenyum menanggapi ledekan ummi nya itu.


Salma pun mengusap kepala Jihan yang tertutup kerudung.“Apa pun pilihan kamu, semoga itu yang terbaik.”


“Aamiin. Insha Allah, Ummi.”


“Ya sudah, Ummi ke depan dulu.”


Jihan mengangguk. “Iya, Ummi.”


Salma pun meninggalkan Jihan di dapur dan membantu sang suami membereskan warung. Sedangkan Jihan melanjutkan pekerjaannya mencuci mangkuk-mangkuk kotor bekas bubur.


Setelah selesai mencuci mangkuk, Jihan pun ikut kembali ke depan, tapi langkahnya terhenti saat melihat Radit dan Yuni sedang berbincang bersama kedua orang tuanya. Seketika jantungnya berdebar kencang, dia sadar jika memiliki hutang jawaban atas pinangan mantan atasannya itu seminggu yang lalu.


“Eh, itu Jihan!” Yuni menunjuk Jihan yang terpaku menatap mereka.


“Jihan, ke sini, Nak!” Salma memanggil putrinya itu.


Dengan langkah yang pelan dan sedikit gemetar, Jihan berjalan menghampiri keempat orang itu.


“Duduk, Nak.” Pinta Salma.


Jihan pun duduk di samping sang Ummi dan tepat di depan Radit. Dia hanya tertunduk sebab jengah dan risi karena Radit terus memandanginya.


“Hai, Jihan. Apa kabar, Nak?” Sapa Yuni.

__ADS_1


“Alhamdulillah, baik, Bu.” Jihan mengangkat kepalanya sejenak menatap Yuni, lalu menunduk lagi.


“Kami ke sini ingin menanyakan jawaban kamu atas pinangan kami waktu itu, apa kamu sudah mengambil keputusan?” Terang Yuni.


Jihan mengangguk dengan kepala tertunduk, jantungnya semakin berdebar tak karuan.


“Maaf kalau kesannya mendesak, sampai bela-belain datang ke warung begini, habis kami sudah enggak sabar ingin mendengar jawaban Jihan. Bahkan seminggu ini sampai enggak bisa tidur.”Yuni tertawa canggung karena merasa tidak enak.


“Tidak apa-apa, Mbak. Memang kan sudah waktunya Jihan menjawab pinangan Mbak dan Nak Radit.” Sahut Salma, sementara Arif hanya tersenyum membenarkan.


Radit dan Yuni tertawa menanggapi ucapan Salma itu. Sementara Jihan masih tertunduk membisu, dia merasa gugup setengah mati.


“Jadi bagaimana, Nak? Apa jawaban kamu?”


Semua orang menantikan jawaban Jihan, tapi wanita berhijab seolah mendadak gagu.


“Nak, Mbak Yuni bertanya itu. Apa jawaban kamu?” Salma menyentuh pundak Jihan.


Jihan kembali mengangkat kepalanya dan menatap Yuni.“Bismillahirrahmanirrahim, sa-saya ... menerima pinangan Ibu dan bersedia menikah dengan Pak Radit.”


“Alhamdulillah!” Seru Radit dan semua orang.


Hati Radit bahagia sekali karena Allah mengabulkan doanya, rasanya saat ini dia ingin sekali bersujud syukur atas jawaban Jihan itu.


“Baiklah, besok malam kami akan datang untuk melamar. Soalnya lusa Radit harus kembali ke Jakarta.” Ujar Yuni penuh semangat.


Arif mengangguk. “Iya, Mbak. Kami tunggu kedatangannya.”


Yuni beralih memandang Jihan. “Hem, kira-kira Jihan mau minta apa untuk mahar pernikahannya? Katakan saja, Radit pasti akan penuhi.”


“Seperangkat alat shalat saja, Bu.” Sahut Jihan lugas.


“Itu saja?” Yuni memastikan.


Jihan mengangguk.“Iya, Bu.”


Radit tersenyum, dia tahu wanita di hadapannya ini begitu sederhana dan rendah hati. Tak silau akan harta dan kemegahan dunia, itu salah satu hal yang membuatnya jatuh cinta kepada Jihan.

__ADS_1


Jihan berharap ini keputusan yang terbaik, semoga saja dia bisa secepatnya melupakan masa lalunya dan mencintai Radit dengan sepenuh hati serta menjadi istri yang baik untuk lelaki itu.


“Baiklah, kami akan siap kan permintaan Jihan. Kalau begitu kami permisi dulu.” Pungkas Yuni.


“Iya, Mbak.”Sahut Salma dan Arif bersamaan.


“Assalammualaikum.”


Wa’alaikumsalam.”


Yuni dan Radit pun meninggalkan warung bubur milik keluarga Arif.


Salma menatap Jihan. “Semoga Allah meridhoi keputusan ini, dan semoga Nak Radit jodoh terbaik untukmu.”


“Aamiin ya Allah.” Sahut Jihan dan Arif bersamaan.


“Kalau begitu secepatnya kita harus menemui Mas Yusuf dan meminta akta cerai Jihan.” Usul Salma.


Hati Jihan serasa bergetar saat mendengar kata-kata sang ummi.


Arif mengangguk. “Iya, nanti kita atur waktu yang tepat untuk ke jakarta.”


“Iya, Abi.” Balas Salma.


Sebenarnya mereka bisa saja menghubungi Yusuf untuk menanyakan akta cerai itu, tapi rasanya tidak sopan. Lagipula Salma berniat ingin menyampaikan langsung kabar baik ini pada orang tua Ammar itu.


“Hem, kalau begitu aku permisi ke belakang dulu.” Jihan beranjak dan bergegas pergi dari hadapan kedua orang tuanya itu.


Di dapur, Jihan bersandar di dinding sambil menatap cincin pernikahannya dengan Ammar yang masih melingkar di jari manisnya. Selama setahun ini, sekali pun Jihan tak pernah melepas benda bulat itu. Tapi hari ini, dia harus melakukannya.


Dengan perlahan Jihan menarik cincin tersebut keluar dari jarinya, bersamaan dengan tetesan air mata yang jatuh membasahi pipinya.


“Selamat tinggal, Mas Ammar.”Ucap Jihan lirih.


Jihan tak minta banyak, dia hanya berharap apa yang dia putuskan hari ini Insha Allah menjadi gerbang menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.


☘️☘️☘️

__ADS_1


__ADS_2