Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 64.


__ADS_3

Keesokan paginya, Yusuf yang masih tidak enak badan minta dibelikan bubur ayam.


“Papa kamu lagi kepingin bubur ayam katanya. Mau cari di mana?”


“Seingat ku enggak jauh dari sini ada warung bubur, Ma. Aku sih enggak pernah beli, tapi sepertinya enak. Habis warungnya ramai terus.”


Ujar Ammar.


“Kalau begitu tolong belikan, ya?” Pinta Anita.


“Iya, Ma.” Ammar pun bergegas pergi membelikan bubur untuk Yusuf.


Ammar tiba di warung bubur yang cukup ramai itu, dia berjalan masuk dan mencari penjualnya. Dari jarak beberapa meter dia melihat seorang wanita berhijab coklat sedang melayani pelanggan, Ammar pun menghampirinya.


“Permisi, Mbak. Saya mau pesan bubur.” Ucap Ammar.


Wanita berhijab coklat itu seketika berbalik dan terperangah saat melihat Ammar.


Begitu pun dengan Ammar, lelaki itu terkesiap dengan mata yang membulat sempurna.


“Jihan?”


“Mas Ammar?”


Ammar spontan memeluk Jihan. “Akhirnya aku menemukanmu, Jihan!”


“Astaghfirullah, Mas.” Jihan sontak mendorong dada Ammar sampai pelukannya terlepas, lalu wanita itu mundur beberapa langkah.


Beberapa pelanggan memperhatikan mereka dengan rasa ingin tahu.


Ammar mengernyitkan keningnya. “Kenapa?”


“Kita bukan lagi suami istri, jadi kita haram bersentuhan.”


“Oh, maaf!” Seru Ammar.


Jihan yang masih syok melihat kehadiran Ammar hanya terpaku dengan jantung berdebar kencang.


Sementara Ammar merasa sangat bahagia karena akhirnya dia bisa bertemu dengan wanita yang dia cintai itu.


“Jihan, bisa kita bicara? Ada yang harus aku katakan padamu.”


“Tapi aku sedang sibuk, Mas.” Jihan berusaha menghindari Ammar.


“Kalau begitu aku akan menunggu sampai kamu tidak sibuk lagi.” Ammar segera mencari bangku kosong dan duduk dengan manis.


Jihan termangu melihat tingkah Ammar, padahal dia berharap lelaki itu pergi agar dia tak kembali larut dalam perasaan yang sudah seharusnya dia hilangkan. Dia pun bergegas ke dapur untuk menenangkan diri.


“Jihan, ada apa?” Tanya Aisyah saat melihat wajah tegang Jihan.


“Bule, ada Mas Ammar.”


“Mana?”


Jihan menunjuk Ammar yang kini duduk di sudut warung sambil menelepon seseorang dengan.


“Kenapa dia bisa ada di sini?”

__ADS_1


“Aku juga enggak tahu, Bule.”


“Apa dia melihat mu?” Tanya Aisyah lagi.


Jihan mengangguk. “Iya, dan katanya dia ingin bicara padaku.”


“Kalau begitu temui dia, ini kesempatan kamu untuk meminta akta cerai kalian.” Cetus Aisyah.


Jihan merasa ragu. “Tapi, Bule ....”


“Jihan, sebentar lagi kamu akan menikah dengan Radit, dan kamu butuh akta cerai itu.”


Setelah sejenak menimbang-nimbang, Jihan pun akhirnya memutuskan untuk menemui Ammar yang sedang menunggunya.


Dengan jantung yang bergemuruh hebat, Jihan melangkah mendekati Ammar lalu duduk di hadapan lelaki itu.


“Bagaimana Mas bisa di sini?” Tanya Jihan tanpa basa-basi.


“Aku mencari mu, Jihan. Selama setahun ini aku berkeliling Surabaya untuk mencari keberadaan mu. Aku sangat merindukanmu.” Ujar Ammar.


Jihan terenyuh, namun dia berusaha mengendalikan diri. “Untuk apa Mas mencari ku?”


“Jihan, aku ingin minta maaf atas apa yang sudah terjadi. Aku minta maaf karena telah menyakiti perasaan kamu dan kedua orang tuamu, aku sungguh menyesal.”


Jihan tertegun lalu menundukkan kepalanya.“Insha Allah, aku dan kedua orang tuaku sudah memaafkan kamu.”


“Alhamdulillah, terima kasih banyak Jihan.” Ammar tersenyum lega.


“Oh iya, bagaimana kabar Miranda? Apa dia sudah melahirkan?” Jihan bertanya dengan hati yang bergetar, dia penasaran dengan hidup Ammar dan keluarganya.


Jihan mengangkat kepalanya dan menatap Ammar dengan penasaran.


“Sebenarnya Miranda itu enggak hamil, dan demi Allah aku enggak pernah melakukan perbuatan yang dia tuduhkan. Dan kamu tahu sebenarnya Miranda itu siapa?” Ungkap Ammar.


“Siapa?”


“Dia adalah Abbas.”


Jihan terhenyak dengan mata melotot, “Mas jangan bercanda!”


“Aku berani bersumpah, Jihan! Dia itu Abbas, dia sudah operasi plastik dan operasi kelamin, dia bahkan mengubah identitasnya menjadi seorang wanita.” Beber Ammar.


“ Subhanallah! Tapi Mas tahu dari mana?”


“Dia sendiri yang mengatakannya, dia juga menunjukkan semua bukti dokumen persetujuan operasinya padaku.”


“Tapi kenapa dia bisa menunjukkan semua itu pada Mas?” Tanya Jihan bingung.


Ammar menghela napas, kemudian menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan Miranda alias Abbas setahun yang lalu.


“Ya Allah, aku benar-benar enggak menyangka Abbas melakukan semua itu.” Jihan benar-benar terkejut mendengar cerita Ammar.


“Aku juga enggak pernah menduga kalau kejahilan ku dulu bisa menimbulkan masalah sebesar ini dan membuat kita terpisah, aku sungguh menyesali semuanya.” Ammar tertunduk penuh penyesalan.


Jihan termangu, hatinya semakin merasa berkecamuk. Kenyataan yang dia dapatkan ini seketika membuatnya merasa iba pada Ammar.


“Tapi semua sudah berlalu, dia sudah mendapatkan balasan dari perbuatan jahatnya. Dan yang terpenting, sekarang aku sudah menemukan mu, dan aku berjanji akan memperbaiki semuanya.”

__ADS_1


Jihan mengernyit. “Maksud, Mas?”


Ammar menatap dalam-dalam mata Jihan. “Aku ingin kita rujuk dan mulai lembaran baru.”


Jihan tercengang, jantungnya seolah copot dari tempatnya. Mana mungkin dia dan Ammar rujuk, sedang sebentar lagi dia akan menikah dengan Radit.


“Kamu mau, kan?” Ammar memastikan.


“Maaf, Mas. Aku enggak bisa!”


Ammar mengerutkan keningnya. “Apa maksud kamu?”


“Aku enggak bisa rujuk dengan Mas!”


Ammar terperangah tak percaya mendengar penolakan Jihan itu.


“Tapi kenapa? Apa kamu masih marah padaku?”


Jihan menggeleng. “Bukan, Mas.”


“Lalu kenapa, Jihan? Kita belum bercerai secara hukum, kita masih bisa rujuk.”


Lagi-lagi Jihan terkejut mendengar pengakuan Ammar itu. “Jadi kita belum bercerai secara hukum?”


Ammar mengangguk. “Iya, perceraian itu sudah dibatalkan.


Tubuh Jihan seketika lemas tak bertenaga, bagaimana dia bisa mengurus pernikahan dengan Radit kalau ternyata dia dan Ammar masih terikat pernikahan secara hukum, walaupun secara agama mereka telah bercerai. Jihan benar-benar bingung dengan semua ini.


“Jihan.”


“Maaf, Mas. Aku masih banyak pekerjaan, sebaiknya Mas pergi dari sini!” Jihan beranjak dan berlalu pergi.


“Jihan, tunggu!” Ammar mengejar Jihan dan menarik lengan wanita itu, membuat mereka menjadi perhatian para pelanggan.


Jihan langsung memberontak. “Lepaskan aku, Mas!”


“Ada apa ini?” Asep menghampiri mereka.


Ammar melepaskan cekalan tangannya dan menatap Asep, dia seperti tidak asing dengan lelaki itu.


Jihan buru-buru meninggalkan Ammar dan Asep.


“Jihan!” Pekik Ammar.


“Sebaiknya kamu pergi! Jangan membuat keributan di sini!” Pinta Asep tegas.


“Aku harus bicara dengan Jihan!”


“Tapi Jihan enggak mau bicara denganmu!” Bantah Asep.


Joko pun datang. “Ada apa?”


“Tolong pergi! Sebelum kami kasar!” Usir Asep dengan nada mengancam.


Tak ingin membuat keributan, Ammar pun memutuskan pergi dari warung itu. Tapi tentu dia tidak akan menyerah begitu saja.


☘️☘️☘️

__ADS_1


__ADS_2