Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 30.


__ADS_3

Jihan pun bisa menghela napas lega saat melihat mobil Ammar sudah terparkir di depan rumah, kakinya melangkah cepat namun kehadiran Mang Jaja menghentikannya.


“Assalamualaikum, Mang.” Sapa Jihan.


“Wa’ alaikumsalam, Neng Jihan. Syukurlah Neng sudah pulang.” Sahut Mang Jaja dengan raut tegang dan panik.


“Ada apa, Mang? Kenapa wajah Mang Jaja tegang begitu?” Tanya Jihan.


“Den Ammar, Neng. Den Ammar mengamuk dan melempar semua barang-barang.”


“Ya Allah!” Jihan spontan berlari masuk ke dalam rumah.


Dan benar saja, keadaan rumah berantakan, banyak barang yang pecah. Ammar terlihat sedang duduk di sofa sembari meremas rambutnya.


“Mas ....” Tegur Jihan sembari melangkah mendekatinya.


Ammar sontak berbalik dan menatap tajam Jihan, matanya yang merah menyiratkan kemarahan yang tak bisa terbendung lagi.


“Masih berani kau menginjakkan kaki ke rumah ini setelah melakukan perbuatan menjijikkan itu? Apa kau enggak punya rasa malu, haa?” Sergah Ammar tanpa tedeng aling-aling.


Jihan tercengang, dia sungguh tak mengerti dengan maksud ucapan suaminya itu. “Mas ini bicara apa?”


“Jangan berlagak bodoh! Kau pikir aku enggak tahu apa yang kau lakukan di luar sana?”


“Aku sungguh enggak mengerti apa maksud, Mas.” Jihan semakin bingung dengan semua ini.


Ammar mengeluarkan ponselnya dan membuka foto tadi lalu melemparkannya ke Jihan, untung saja wanita itu bisa menangkapnya.


“Kau lihat itu!”

__ADS_1


“Ya Allah!” Jihan menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Dia terkejut setengah mati saat melihat dirinya tengah tidur bersama seorang lelaki dan parahnya tanpa busana.


“Sekarang kau mau bilang apa lagi?”


“Mas, ini enggak seperti yang kamu lihat. Aku juga enggak mengenal siapa lelaki ini, bahkan aku enggak tahu kenapa bisa ada di sana.” Jihan berusaha membela diri.


“Kau pikir aku percaya? Foto itu sudah menunjukkan betapa murahannya kau! Dasar pelacur!!” Ucap Ammar sinis.


“Astaghfirullahalladzim, Mas! Aku enggak seperti itu! Aku mohon percaya padaku. Pasti ada yang menjebak ku!” Jihan mulai menangis, kata-kata Ammar sangat melukai perasaannya.


“Jangan mencari kambing hitam!” Bentak Ammar. “Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri jika kau bersama lelaki itu, dia video call dengan ponselmu. Betapa dekatnya kalian sampai dia bisa tahu sandi mu.”


“Apa? Tapi aku benar-benar enggak tahu apa yang terjadi, Mas. Tadi saat di kafe, kepalaku pusing dan setelah itu aku enggak ingat apa-apa lagi.” Ujar Jihan berusaha menjelaskan kepada Ammar.


“Pembohong! Ternyata kau enggak ada bedanya dengan Miranda! Bahkan kau lebih parah. Munafik!” Sungut Ammar. “Sekarang aku tahu, Abbas hanya alasan mu agar bisa bertemu lelaki itu, iya kan?”


“Cih! Kau mengambinghitamkan orang lain lagi. Dasar licik!” Cibir Ammar.


“Mas, aku mohon percayalah!”


Ammar melangkah mendekati Jihan dan merampas ponselnya dengan kasar, lalu membuka foto berikutnya.


“Kalau begitu ini siapa?” Ammar kembali menyodorkan layar ponselnya ke hadapan Jihan.


“Ya Allah!” Jihan kembali terkesiap saat melihat seorang wanita yang mengenakan pakaian serta kerudung seperti dirinya bergelayut di lengan seorang pria.


“Kau masih mau mengelak?”

__ADS_1


Jihan menggeleng. “Enggak! Demi Allah, itu bukan aku, Mas.”


“Jangan bawa-bawa Allah untuk menutupi perbuatan bejatmu!” Ammar kembali membentak Jihan.


“Tapi aku memang enggak melakukannya! Mas harus percaya padaku!”


“Percaya? Aku baru saja mulai mempercayai mu! Aku bahkan berniat untuk memperbaiki hubungan kita. Tapi apa yang aku dapat? Pengkhianatan!” Ammar meluapkan emosinya, mata merah dan menyalang nya mulai digenangi cairan bening.


Air mata Jihan semakin banyak menetes. “Mas. Aku mohon percaya padaku. Ini hanya salah paham, aku enggak pernah mengkhianatimu.”


“Cukup! Aku enggak akan tertipu lagi denganmu! Malah semakin kau membela diri, aku semakin muak! Sekarang juga kemas barang-barang mu dan keluar dari rumah ini! Kau ku talak! Mulai sekarang kau bukan istriku lagi!” Ucap Ammar dengan mata yang berkaca-kaca dan bergegas pergi ke kamarnya.


“Astaghfirullahalladzim, Mas!” Jihan tercengang, dia tak percaya Ammar akan mengatakan hal menyakitkan itu.


Jihan berusaha mengejar Ammar.


“Mas aku mohon jangan seperti ini, tolong percaya padaku!”


Jihan meraih tangan Ammar tapi dengan cepat lelaki itu menepisnya dan berbalik.


“Jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu itu!” Bentak Ammar, matanya benar-benar dipenuhi kilatan kemarahan.


“Mas!” Seru Jihan lirih.


Ammar kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Jihan.


Tubuh Jihan terasa lemas, air matanya semakin banyak tertumpah. Dia tak pernah menduga bahwa hari menyakitkan ini akan terjadi.


Baru saja dia merasa bahagia karena sikap Ammar yang berubah manis, dan berharap rumah tangga mereka akan lebih baik, tapi sekarang kata-kata keramat yang membuat perih itu terlontar begitu saja dari mulut suaminya.

__ADS_1


“Astaghfirullahalladzim, ya Allah.” Jihan menangis sesenggukan. Meskipun tubuhnya terasa tak bernyawa, tapi dia tetap menuruti permintaan Ammar. Jihan akan pergi, karena Ammar sudah menalak dan mengusirnya dari rumah ini.


☘️☘️☘️


__ADS_2