
Anita sudah selesai mengobati luka di bibir Ammar dan segera membereskan kotak P3K itu. Ammar yang sudah tak sabar, kembali bertanya.
“Ma, sekarang jelaskan padaku! Sebenarnya ada apa? Kenapa Papa memukulku?”
“Ini semua gara-gara kekasihmu itu.” Gerutu Anita dengan wajah kesal.
Mata Ammar membulat saat mendengar kata-kata sang mama. “Kekasihku? Maksud Mama Miranda?”
Anita mengangguk. “Iya, siapa lagi? Emang ada berapa banyak kekasihmu?”
“Aku sudah memutuskan hubungan dengan dia, Ma.”Ungkap Ammar.
Anita tercengang.“Pantas dia tadi datang ke sini dan membuat kekacauan.”
Ammar terkesiap. "Miranda ke sini? Apa yang dia lakukan, Ma?"
“Dia mengatakan bahwa saat ini dia sedang mengandung anakmu.”
“Apa?” Ammar memekik dengan mata yang melotot, lalu menggeleng. “Ini enggak mungkin, Ma! Demi Allah, aku enggak pernah melakukan hubungan terlarang itu kepadanya, jadi mana mungkin dia bisa hamil anakku!”
Anita kembali tercengang mendengar pengakuan Ammar. “Kau serius? Jadi maksudmu dia berbohong?”
“Iya, dia membohongi kalian. Dia memang seorang penipu dan pandai bersandiwara. Makanya aku memutuskan hubungan dengan dia.”
“Astagfirullah!” Seru Anita. “Berarti semua yang dia katakan tentangmu dan Jihan itu juga bohong?”
“Memangnya apa yang dia katakan, Ma?”
“Katanya selama ini kau selalu bersikap buruk kepada Jihan dan enggak menganggapnya sebagai istri. Dia juga mengatakan jika kau menikahi Jihan karena terpaksa. Bahkan kau berniat menyingkirkan Jihan jika ATM dan kartu kredit mu sudah dikembalikan oleh Papa. Itu bohong kan, Nak?”
Ammar terdiam sambil menelan ludah, dia tak menyangka Miranda akan membeberkan semua pada kedua orang tuanya.
Melihat Ammar terdiam, Anita kembali bertanya. “Nak, jawab Mama. Itu juga bohong kan?”
__ADS_1
Ammar menghela napas. “Itu benar, Ma.”
“Ya, Allah.” Anita menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Jadi itu benar?"
Ammar mengangguk pelan.
“Astagfirullah, Ammar! Kau ini keterlaluan!”Hardik Anita.
“Tapi itu di awal kami menikah, dan setelah aku tahu bahwa dulu kami pernah berteman baik, aku mengubah sikapku kepadanya. Aku mengurungkan niatku untuk menyingkirkannya, bahkan aku ingin memperbaiki hubungan kami agar bisa menjalani rumah tangga ini dengan baik. Tapi ternyata semua malah seperti ini.” Ammar tertunduk penuh sesal.
“Harusnya kau enggak melakukan hal seperti itu, Nak! Kau membuat kami semua kecewa!” Sungut Anita. Air matanya jatuh menetes.
“Aku minta maaf, Ma.” Gumam Ammar masih dengan kepala tertunduk.
“Mungkin kami bisa memaafkan mu, tapi bagaimana dengan orang tua Jihan? Tadi saja Salma sangat marah saat mendengarnya.”
Ammar sontak mengangkat kepalanya karena terkejut dengan ucapan Anita. “Jadi tadi Ummi di sini saat Miranda datang?”
Anita kembali mengangguk. “Bukan cuma Salma, Mas Arif dan Jihan juga ada. Mereka mendengar semua yang Miranda katakan.”
“Papa malu sekali, makanya dia sangat marah kepadamu. Miranda juga bersikap kurang ajar dan enggak ada sopan santun.” Lanjut Anita.
Rahang Ammar sontak mengeras seraya mengepalkan tangannya, dia tak menyangka akhirnya semua orang mengetahui kelakuan buruknya kepada Jihan selama ini.
“Dasar wanita licik!” Ammar beranjak dan hendak pergi, tapi Anita menahannya.
“Kau mau ke mana?”
“Aku ingin menemui Miranda dan memberi dia pelajaran.”
“Jangan! Mama enggak ingin kau terkena masalah lagi dengan wanita licik itu.”
“Tapi aku tidak bisa diam saja, Ma! Dia sudah ....”
__ADS_1
“Bi Asih!” Suara teriakkan Yusuf menggema memenuhi langit langit-langit rumah.
Ammar sontak terdiam sebelum selesai bicara dan memandangi Yusuf yang berjalan ke ruang keluarga.
“Iya, Pak. Ada apa?” Bi Asih tergopoh-gopoh menghampiri Yusuf.
“Mana titipan dari Ahmad? Katanya sudah dia berikan pada Bibi?”
“Oh, iya.” Bi Asih menepuk jidatnya. “Maaf, saya lupa, Pak. Sebentar saya ambilkan dulu.”
Bi Asih bergegas mengambil amplop coklat yang dia simpan lalu menyerahkannya kepada Yusuf. Sementara Anita dan Ammar masih terpaku memandangi lelaki paruh baya itu.
“Ini, Pak.”Bi Asih menyodorkan amplop coklat yang dia bawa.
Yusuf menerima amplop coklat tersebut, kemudian mengeluarkan sebuah flashdisk dari dalamnya.
“Apa itu, Pa?” Tanya Anita penasaran.
“Rekaman CCTV di kafe tempat Jihan bertemu dengan temannya waktu itu.”
Ammar dan Anita terkejut mendengar jawaban Yusuf.
“Bagaimana Papa bisa mendapatkannya?” Tanya Anita lagi.
“Papa menyuruh Ahmad memintanya dari kafe itu, agar Papa bisa menyelidiki kebenarannya dan enggak tertipu begitu saja.” Sahut Yusuf sembari melirik sang putra yang masih bergeming memandang ke arahnya.
Baik Ammar maupun Jihan tak menyangka jika ternyata diam-diam Yusuf mencari tahu semua itu.
“Tolong ambilkan laptop di ruang kerja Papa!” Pinta Yusuf kemudian.
“Iya, Pa.” Anita segera berlari ke ruang kerja Yusuf.
Ammar mengurungkan niatnya untuk melabrak Miranda sebab dia merasa penasaran dengan isi flashdisk tersebut.
__ADS_1
☘️☘️☘️