
Miranda kembali mendekati Ammar sembari membawa sebuah map berwarna putih lalu mengeluarkan isinya.
“Kau lihat ini!” Miranda menyodorkan beberapa lembar berkas ke hadapan Ammar. “Ini surat persetujuan operasi plastik dan operasi kelamin yang aku lakukan di Thailand, aku juga melakukan operasi pita suara di sana.”
Ammar tercengang, sebab dengan jelas dia melihat nama Nabbastala alias Abbas tertulis di dalam surat-surat itu.
Miranda lalu menyodorkan selembar berkas lagi. “Dan ini bukti jika aku mengubah identitas ku menjadi seorang wanita bernama Miranda.”
Rasanya seperti disengat listrik, hati Ammar serasa bergetar mengetahui kenyataan ini. Wajah tampannya terlihat seperti orang bodoh yang kebingungan. Mendadak dia merasa jengah karena ternyata selama ini dia sudah berpacaran dan bermesraan dengan seorang transgender, sedangkan dia lelaki normal.
“Kau sudah percaya sekarang?” Miranda memastikan. “Aku sampai menjual rumah orang tuaku untuk biaya operasi dan bertahan hidup selama di Thailand agar orang-orang berhenti mengejekku. Dan sejak saat itu Abbas sudah enggak ada lagi, yang ada hanya Miranda.”
Ammar menatap Miranda lekat-lekat. “Jadi selama ini kau membodohi ku? Kau sengaja menyamar jadi wanita hanya untuk membalas dendam padaku?”
“Jangan terlalu percaya diri! Aku mengubah diri dan identitas ku karena aku menginginkannya, bukan karena kau. Tapi saat aku tahu kau hilang ingatan, aku mulai menyusun rencana untuk mendekati mu.”
“Dari mana kau tahu kalau aku hilang ingatan?” Tanya Ammar heran, sebab tak banyak orang yang tahu kondisinya itu.
“Kau ingat pertemuan pertama kita ketika di rumah sakit? Sebenarnya saat itu aku sudah melihatmu dari jauh dan aku terkejut karena kau masih hidup, karena aku pikir kau sudah mati bersama Irvan. Aku pun mencari tahu tentangmu, ternyata kau amnesia, dan tentu itu kesempatan baik untukku. Makanya aku langsung mendekati mu lalu mengarang cerita tentang kedekatan kita dan juga janjimu itu.” Jawab Miranda.
“Dasar licik! Kau memanfaatkan keadaan ku! Pantas kau tahu semua tentangku. Dan sekarang aku paham, kau takut Jihan membongkar kedok mu, makanya kau memfitnahnya dan menyebar kebohongan tentang kehamilan mu. Kau sengaja membuat kami terpisah. Iya, kan?” Tuduh Ammar marah.
“Tepat sekali.” Sahut Miranda. “Iya, aku yang merekayasa semua itu untuk menyingkirkan Jihan dari hidupmu, karena dia ancaman bagiku. Aku tahu dia pasti sudah menghasut mu makanya kau menjauhiku.”
__ADS_1
Ammar mengeraskan rahangnya menahan geram. “Dia enggak pernah menghasut ku, dia hanya memberi tahukan kebenaran!”
“Iya, kebenaran yang enggak boleh kau ketahui!”
“Mir, dari tadi ponselnya terus bunyi.” Potong Evan yang tiba-tiba masuk lalu menyodorkan sebuah telepon genggam yang berdering.
Miranda meraih ponsel itu. Saat melihat nomor teleponnya, dia tersenyum dan segera menunjukkan layar benda pipih tersebut ke hadapan Ammar. “Kau tahu ini nomor siapa?”
Ammar menatap layar ponsel itu dengan saksama dan terkesiap saat menyadari itu nomor telepon Yusuf. “Papa? Bagaimana bisa Papa menghubungimu?”
“Siapa bilang papamu menghubungiku? Dia sedang menghubungi Jihan, tapi sayangnya malah tersambung ke sini.” Imbuh Miranda sambil menyeringai licik.
Ammar semakin mengeraskan rahangnya. “Benar dugaan ku. Kau mencuri ponsel Jihan!”
“Eits, jangan menuduh sembarangan! Aku enggak mencuri ponselnya tapi hanya mengkloning SIM card dan akun WhatsApp nya saja.”
“Kau benar-benar bajingan! Kalau kau punya masalah denganku, jangan libatkan Jihan! Dia enggak tahu apa-apa!” Hardik Ammar semakin marah.
“Sudah aku katakan, aku enggak akan membiarkan kau bahagia sampai kau mati. Jadi aku harus memisahkan kau dari orang yang kau cintai, agar kau terluka dan menderita sama seperti ku.”
“Tapi sayangnya itu enggak akan terjadi. Aku dan Jihan enggak akan berpisah, justru setelah ini kau yang akan mendapatkan balasannya. Aku pastikan kau akan membusuk di penjara!”
“Hahaha ....” Miranda tertawa sumbang. “Orang yang sudah mendekati ajalnya, masih bisa mengancam orang lain. Menggelikan sekali.”
__ADS_1
“Kau bukan Tuhan, jadi jangan sok tahu tentang ajal orang lain!”
“Iya kau benar, tapi aku yang akan mengirim kau menemui Tuhan.” Balas Miranda sembari mengusap mesra pipi Ammar.
“Jangan sentuh!” Bentak Ammar sambil berusaha menghindar.
“Kau begitu munafik, Ammar. Sekarang kau melarang aku menyentuhmu tapi sebelumnya kau bahkan memelukku.” Ledek Miranda. “Kalau aku memberi kesempatan, mungkin saja kau akan melakukan ....”
“Diam kau!” Sela Ammar sehingga Miranda berhenti bicara. “Aku anggap itu hal yang paling menjijikkan dalam hidupku karena bersentuhan dengan manusia busuk seperti dirimu!”
Plaak ....
Miranda sontak menampar pipi Ammar dengan kuat.
“Sombong sekali kau! Memang sudah seharusnya kau mati.” Sungut Miranda kesal.
Miranda beranjak lalu memanggil Evan dan Miko, dia memerintahkan dua orang itu menjalankan rencana mereka.
Evan kemudian berjalan mendekati Ammar dengan sebuah sapu tangan yang telah ditetesi obat bius yang dia beli di rumah sakit saat mengobati Miko tadi.
“Mau apa kau?” Ammar mulai cemas dan panik saat melihat Evan semakin mendekat. “Van, jangan macam-macam! Aku enggak ada masalah denganmu!”
“Sorry, Bro. Aku terpaksa melakukan ini.” Evan segera membekap mulut Ammar dengan sapu tangan itu. Tak butuh waktu lama, Ammar pun kembali pingsan karena pengaruh obat bius.
__ADS_1
Miranda tersenyum penuh kemenangan saat melihat Ammar sudah tak sadarkan diri lagi, rasa marah dan benci telah benar-benar menguasai hatinya hingga menimbulkan perasaan dendam yang teramat dalam.
☘️☘️☘️