
Pagi ini Jihan merasa lebih segar, meskipun masih sedikit tidak enak badan. Tak ingin bermalas-malasan, sehabis Shalat subuh, wanita berhijab itu pun bergegas ke dapur dan menyiapkan sarapan.
Anita yang juga sudah bangun ikut turut membantu Jihan di dapur. Sementara Ammar memilih untuk berolahraga bersama Yusuf dengan lari berkeliling kompleks perumahan.
“Seharusnya kamu enggak usah repot-repot membuat sarapan, sayang. Biar Mama saja. Kamu kan masih enggak enak badan.” Ujar Anita.
“Enggak apa-apa, Ma. Aku sudah baikkan, kok.” Balas Jihan sembari membawa bahan-bahan yang dia ambil dari dalam lemari pendingin ke meja dapur.
“Tapi kamu harus tetap beristirahat, biar cepat pulih.”
“Iya, Ma. Sehabis membuat sarapan, aku akan istirahat.”
“Baiklah. Kalau begitu kita mau masak apa ini?”
“Aku mau buat bubur ayam, Ma.” Jawab Jihan.
“Hemm, bagaimana kalau nasi goreng saja? Soalnya Ammar sangat suka sarapan nasi goreng.” Cetus Anita.
Jihan terdiam dengan wajah sedih, dia memang sudah tahu Ammar menyukai menu makanan itu, tapi yang jadi masalah, suaminya itu enggak akan mau menyentuh masakannya.
“Jihan, kamu kenapa? Kok melamun?” Anita menyentuh lengan Jihan karena melihat menantunya itu termenung.
“Eh, enggak apa-apa, Ma. Aku hanya lagi berpikir mau masak nasi goreng atau bubur ayam?” Elak Jihan.
“Nasi goreng saja, biar cepat!”
Jihan mengangguk. “Baik, Ma. Mari kita eksekusi!”
Jihan dan Anita pun mulai meracik bumbu dan mempersiapkan bahan-bahan membuat nasi goreng, keduanya memasak sambil sesekali mengobrol dan bercanda tawa.
Empat puluh lima menit kemudian, nasi goreng spesial buatan Jihan dan Anita sudah terhidang di atas meja makan.
Karena berkeringat sehabis memasak, Jihan memutuskan untuk mandi biar lebih segar.
“Ma, aku mandi dulu, ya? Soalnya berkeringat.” Ujar Jihan.
“Iya, tapi mandinya air hangat, jangan pakai air dingin! Takutnya nanti kamu demam lagi.” Pinta Anita sedikit cemas.
“Iya, Ma.”
__ADS_1
Jihan pun segera kembali ke kamar untuk membersihkan diri sebelum ikut sarapan bersama.
☘️☘️☘️
“Hem, aromanya enak sekali!” Seru Yusuf sembari mengendus-endus. Dia baru kembali bersama Ammar.
“Iya, dong. Mama dan Jihan sudah siapkan sarapan. Kalian berdua mandi dulu sana! Berkeringat begitu.” Sahut Anita.
“Iya, deh, Nyonya besar!” Ledek Yusuf.
Anita terkekeh mendengar ledekan sang suami. “Sudah, buruan sana!”
“Aku juga mau mandi dulu.” Sela Ammar.
“Mandi yang bersih!”
“Ok, Ma.”
Yusuf dan Ammar bergegas ke kamar masing-masing.
Sementara itu di dalam kamar, Jihan sudah selesai mandi, dia memakai ********** dan segera meraih gamis rumahan berbahan katun dengan corak floral tepat di saat Ammar membuka pintu.
“Astagfirullah, Mas!” Pekik Jihan yang buru-buru meraih handuk dan kembali menutupi tubuhnya, meskipun tak tertutup sempurna.
“Ma-maaf.” Ucap Ammar gugup.
Jihan mendadak canggung. Ini pertama kalinya dia berdiri di hadapan Ammar tanpa pakaian yang lengkap. Benar-benar memalukan!
Begitu juga dengan Ammar. Naluri kejantanannya mendadak bangkit, sebab melihat pemandangan indah di pagi hari. Tapi Ammar buru-buru menguasai dirinya.
“Aku mau mandi.” Ammar bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Jihan hanya tertunduk, saat Ammar berjalan melewatinya. Wajahnya merah padam menahan rasa malu dan gugup.
Di dalam kamar mandi, Ammar berdiri mematung di balik pintu, dia masih berusaha menguasai diri tapi rasanya sulit karena bayangan tubuh indah Jihan masih menari-nari di dalam kepalanya.
“Lupakan! Lupakan!” Ammar menepuk-nepuk kepalanya sendiri dan segera melepas pakaiannya, mungkin saat ini mandi air dingin adalah cara yang tepat dan melegakan.
Setelah selesai mandi, Ammar turun ke lantai bawah dan berjalan menuju meja makan. Di sana sudah ada Jihan serta kedua orang tuanya.
__ADS_1
Ammar dan Jihan duduk bersebelahan, rasa malu dan gugup karena kejadian tadi masih menyelimuti hati mereka. Alhasil, keduanya hanya tertunduk diam, tak berani memandang satu sama lain.
Rupanya Anita memperhatikan gelagat aneh anak dan menantunya itu, sedari tadi, tak sekalipun dia melihat kedua pasangan suami-istri itu berbicara atau sekedar saling pandang. Mereka terlihat seperti dua orang asing. Memang benar kata orang-orang, naluri dan insting seorang ibu itu tajam.
“Kalian kenapa? Kok diam-diaman saja dari tadi?” Anita memandang curiga Jihan dan Ammar. Pertanyaan yang terkesan menuduh itu terlontar begitu saja.
Keduanya sontak gugup dan salah tingkah.
“Hem, enggak ada apa-apa, kok, Ma. Kita biasa saja. Iya, kan?” Ammar menyela cepat dan akhirnya menoleh ke arah sang istri untuk meminta persetujuannya.
Sejenak Jihan terdiam tapi buru-buru menyahut. “I-iya kok, Ma.”
“Tapi Mama kok enggak yakin, ya?”
“Mama! Sudah, dong! Jangan godai mereka terus-menerus.” Sela Yusuf.
“Iya, deh! Sudah, ah! Mama mau makan dulu, lapar ini.” Balas Anita.
“Iya, Papa juga sudah lapar.” Sambung Yusuf.
Mereka mulai menyantap nasi goreng yang sudah terhidang di atas meja, Jihan pun terpana saat melihat Ammar akhirnya mau memakan nasi goreng buatannya.
Ekspresi wajah Ammar berubah bingung saat mulutnya menikmati kelezatan nasi goreng buatan Jihan itu.
“Rasa nasi goreng ini ....” Gumam Ammar.
“Kenapa, Mar? Nasi gorengnya enakkan? Jihan memang jago masak!” Seru Anita dengan mulut yang penuh.
Ammar sontak memandang Jihan dengan tatapan yang sulit diartikan, Jihan hanya tertunduk dengan jantung yang berdebar.
“Kenapa rasanya sama persis dengan yang Miranda buat waktu itu waktu itu? Atau jangan-jangan ....” Batin Ammar.
“Sudahlah, Mar. Sarapannya dimakan dulu, nanti lagi terpesonanya.” Seloroh Yusuf dan sukses membuat lamunan Ammar buyar. Lelaki itu sontak memalingkan wajahnya dan kembali menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
Yusuf dan Anita hanya mengulum senyum melihat tingkah putranya itu.
Jihan tersenyum dengan perasaan campur aduk, antara senang sekaligus haru karena Ammar masih mau makan meskipun tahu dia yang memasaknya.
Sehabis makan, Yusuf dan Ammar pamit pergi ke kantor. Sedangkan Anita pulang ke rumahnya dengan taksi Online. Tinggallah Jihan sendirian di rumah.
__ADS_1
Untuk mengisi waktu kosongnya, Jihan pun kembali ke kamar dan beristirahat seperti janjinya kepada Anita. Sedari tadi dia tak berhenti tersenyum membayangkan Ammar makan dengan lahap, hatinya benar-benar bahagia hanya karena hal kecil itu.
☘️☘️☘️