
Jihan menangis terisak-isak sembari menyusun barang-barangnya ke dalam koper, hatinya sakit dan sedih, sungguh tak pernah dia sangka Ammar akan semudah ini menjatuhkan talak kepadanya.
Belum lagi bayangan lelaki yang dia lihat dalam ponsel Ammar tadi terus saja menghantuinya, Jihan mendadak merasa dirinya kotor dan berdosa, sebab telah disentuh oleh lelaki yang bukan mahram. Dia juga takut lelaki itu benar-benar sudah merenggut kehormatannya, Jihan benar-benar merasa takut dan jijik.
Setelah selesai, Jihan menutup kopernya dan beranjak, namun kakinya terlalu berat untuk melangkah meninggalkan kamar ini, tapi tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan Ammar pun mendekati Jihan dengan langkah yang lebar.
“Mas?”
Jihan terkesiap melihat kedatangan Ammar dan berharap suaminya itu berubah pikiran lalu menarik ucapannya, namun harapan Jihan sirna seketika saat Ammar merebut kopernya dengan kasar lalu menyeretnya keluar dari kamar.
“Mas, mau dibawa ke mana kopernya?” Tanya Jihan sembari tergopoh-gopoh mengikuti Ammar.
“Aku akan memulangkan kau ke rumah orang tuamu dan aku akan tunjukkan betapa murahannya putri mereka!” Jawab Ammar tanpa menoleh ke arah Jihan.
“Mas jangan seperti ini! Aku mohon!”
Ammar tak menggubris permohonan Jihan, dia terus menyeret koper itu menuruni anak tangga.
Begitu tiba di luar rumah, Ammar segera memasukkan koper Jihan ke dalam bagasi mobilnya, lalu beralih memandang istrinya itu dengan sorot penuh kemarahan.
“Masuk!” Pinta Ammar.
Jihan bergeming, air matanya semakin banyak tertumpah.
Melihat Jihan masih terpaku di tempatnya, Ammar pun membentak wanita itu. “Kau enggak dengar? Masuk!”
Jihan dan Mang Jaja sampai terperanjat mendengar bentakan Ammar.
Dengan berat hati, Jihan pun terpaksa menuruti suaminya itu dan masuk ke dalam mobil. Ammar juga ikut menyusul Jihan dan segera melesat pergi dengan kecepatan tinggi.
Mang Jaja bingung melihat kejadian di depan matanya ini. “Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Den Ammar begitu marah kepada Neng Jihan? Baru saja mereka mulai akur.”
Mang Jaja pun segera menghubungi Yusuf dan memberitahukan apa yang terjadi, lelaki paruh baya itu tak bisa diam saja melihat semua ini.
Di perjalanan, Ammar hanya diam, tak sekalipun dia berbicara atau sekedar melirik Jihan yang duduk di sampingnya. Dia terus memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak peduli akan bahaya yang bisa saja terjadi. Sementara Jihan hanya tertunduk takut dan terus beristigfar.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Mereka pun akhirnya tiba di depan rumah Arif, Ammar buru-buru turun dan mengeluarkan koper Jihan dari dalam bagasi lalu menyeretnya masuk ke dalam rumah, sedangkan Jihan hanya bisa pasrah mengikuti langkah Ammar dengan perasaan tak menentu.
“Assalamualaikum ....”
“Wa’ alaikumsalam ....” Balas Arif dan Salma bersamaan, mereka terkejut melihat anak dan menantunya sudah berdiri di ambang pintu.
“Jihan? Ammar? Masuk, Nak!” Sambut Salma.
Ammar melangkah masuk dan meletakkan koper Jihan di sudut ruangan. Mata Salma sontak tertuju pada koper itu.
“Ada apa, Nak? Kenapa bawa-bawa koper?” Tanya Salma.
Jihan hanya tertunduk, tak berani menatap kedua orang tuanya itu.
“Aku pulangkan dia kepada Abi dan Ummi, aku sudah menjatuhkan talak kepadanya. Mulai sekarang dia bukan istriku lagi.” Ucap Ammar dengan mata yang merah dan berkaca-kaca sembari mengepalkan tangannya dengan kuat.
Sejujurnya hati Ammar terasa perih saat mengatakan itu, tapi dia tetap berusaha bersikap sopan. Dia ingin mengembalikan Jihan kepada kedua orang tuanya secara baik-baik.
“Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan itu? Jangan main-main!” Seru Arif.
“Aku sadar, Abi. Aku enggak bisa menerima wanita yang sudah berkhianat dan berselingkuh di belakangku.” Jawab Ammar dan semakin menguatkan kepalan tangannya untuk menahan geram.
“Subhanallah!” Arif dan Salma kembali memekik kaget.
Tatapan mata Arif langsung tertuju kepada Jihan yang berdiri di belakang Ammar. “Jihan! Benar apa yang dikatakan Nak Ammar? Kamu sudah berbuat sejauh itu?”
“Abi, aku bisa jelaskan semuanya. Ini enggak seperti yang Mas Ammar katakan, aku enggak pernah berselingkuh dan mengkhianatinya. Abi dan Ummi harus percaya kepadaku.” Jihan berbicara dengan suara yang bergetar, air matanya jatuh menetes.
“Tapi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Kalau Abi dan Ummi enggak percaya, aku bisa tunjukkan buktinya.”
Ammar merogoh ponselnya di dalam saku, lalu menunjukkan foto Jihan bersama seorang lelaki di atas ranjang.
Arif dan Salma kembali mengucap istigfar. “Astaghfirullahalladzim, Jihan!”
__ADS_1
“Bagaimana ini bisa terjadi, Nak?” Arif memandang Jihan dengan raut kecewa.
“Abi, maafkan aku karena enggak bisa menjaga diri. Tapi sungguh, aku enggak tahu bagaimana aku bisa berada di sana. Demi Allah, aku enggak tahu apa-apa.”
“Kalau begitu bagaimana kamu bisa bersama lelaki itu?” Cecar Arif.
“Aku enggak tahu, Abi. Sebelumnya aku menemui temanku di kafe, dan tiba-tiba kepalaku pusing lalu aku enggak ingat apa-apa lagi.”
“Dia bohong!” Sergah Ammar. “Aku punya bukti jika dia dan lelaki itu masuk ke dalam hotel.”
Ammar juga menunjukkan foto yang satunya lagi.
“Ya, Allah. Ini benar-benar kamu, Nak?” Mata Arif melotot melihat foto itu.
“Aku enggak pernah melakukan itu, Abi. Aku juga enggak tahu bagaimana foto itu bisa ada.” Bantah Jihan.
“Nak Ammar, mungkin saja ini kebetulan mirip atau hanya rekayasa.” Cetus Salma.
“Ummi, lelaki itu melakukan panggilan video denganku dan aku lihat sendiri dia tidur bersama lelaki itu tanpa pakaian. Aku bukan menuduh tanpa bukti, apa Ummi dan Abi masih meragukan ceritaku?” Ammar berusaha meyakinkan Salma dan Arif.
“Mas, percayalah padaku! Sudah kukatakan, aku sungguh enggak tahu apa-apa.” Jihan memohon kepada Ammar.
“Iya, Ummi yakin Jihan enggak begitu! Ini pasti salah paham!” Salma membela Jihan dan langsung memeluk putrinya itu.
“Bagaimana kalau Nak Ammar cari tahu dulu kebenarannya, baru mengambil keputusan.” Pinta Arif.
“Semua yang aku lihat sudah cukup jelas, Abi! Aku enggak terima dikhianati begini!” Tutur Ammar.
“Ummi juga enggak terima putri Ummi difitnah seperti ini! Ummi yakin Jihan enggak melakukan apa yang kamu tuduhkan!” Balas Salma.
“Tapi buktinya sudah jelas, Ummi! Ini bukan fitnah!” Sungut Ammar dengan suara yang meninggi, emosinya mulai terpancing.
“Ammar! Jaga sikapmu!” Bentak Yusuf yang tiba-tiba datang bersama Anita.
☘️☘️☘️
__ADS_1