Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 70.


__ADS_3

Langit sudah berubah gelap, angin berembus cukup dingin bersamaan dengan gemuruh yang datang silih berganti. Tak ada bintang, hanya ada rembulan yang bersembunyi di balik mega hitam. Sepertinya malam ini akan turun hujan.


Ammar memarkirkan mobilnya tepat di seberang rumah Arif. Dia telah mencoba untuk terima, namun tetap tak bisa merelakan. Hati Ammar pun menuntunnya untuk kembali ke sini, dia masih ingin berjuang dan berharap Jihan berubah pikiran.


Namun tiba-tiba sosok yang sejak tadi mengganggu pikirannya muncul dari kejauhan. Jihan yang baru saja dari rumah Aisyah berjalan pelan menuju rumahnya.


“Jihan!” Seru Ammar, dia buru-buru turun dari mobil dan berlari menghampiri mantan istrinya itu.


Jihan terkejut dan mendadak jantungnya berdebar.“Mas Ammar? Kenapa bisa di sini?”


“Aku ingin bertemu dan bicara denganmu.” Jawab Ammar.


Jihan pun celingukan memandangi sekitarnya, hanya ada mereka berdua. Mungkin karena akan turun hujan, orang-orang lebih memilih di rumah.


“Maaf, Mas. Aku enggak bisa bicara di sini, soalnya kita hanya berdua. Aku takut jadi fitnah.” Jihan hendak melangkah pergi tapi Ammar segera menghadang langkahnya.


“Jihan tunggu dulu! Izinkan aku bicara denganmu sebentar saja!”


Jihan sontak mundur menjauh dari Ammar, dia sungguh merasa canggung dan tidak enak, apalagi saat mereka berada tak jauh dari rumah Radit, dia takut lelaki itu melihat mereka dan salah paham.


“Mas, kalau Mas mau bicara, silakan ke rumah.”


“Apa bedanya di sini dengan di rumah? Apa kalau di rumah kamu akan berubah pikiran?” Cecar Ammar yang tak paham maksud Jihan.


“Mas buk ....”


“Jihan, tolong dengarkan aku! Batalkan rencana pernikahanmu dengan Radit dan kembalilah padaku! Aku mohon!” Potong Ammar cepat sebelum Jihan selesai bicara.


Jihan tertegun, lalu mengalihkan pandangannya dari Ammar. “Maaf, aku enggak bisa, Mas.”

__ADS_1


“Tapi aku mencintaimu. Kau tahu itu, aku mencintaimu sejak kita masih SMA. Aku sudah berjanji akan menjaga serta melindungi mu, dan aku mohon beri aku kesempatan untuk menepatinya!” Ammar memohon.


Jihan menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan sesak di dalam dadanya. “Maafkan aku, Mas. Aku benar-benar enggak bisa. Sebaiknya sekarang Mas pergi!”


Ammar menggeleng. “Enggak, Jihan! Aku enggak mau!”


Jihan memutar kepalanya menatap Ammar. “Mas jangan keras kepala! Aku sudah menerima khitbah Mas Radit, aku sudah yakin dengan keputusanku dan aku enggak mungkin membatalkannya begitu saja, karena aku enggak ingin melukai hati orang lain, Mas.”


Ammar tercengang, hatinya semakin nyeri. “Kau lebih memilih menjaga hatinya dan membiarkan hatiku hancur. Aku lebih baik kehilangan ingatanku seumur hidup, asalkan kau tetap ada di sisiku. Daripada aku harus mengingat semuanya, tapi aku justru kehilanganmu seperti ini.”


“Astagfirullah, Mas. Seharusnya Mas bersyukur karena ingatan Mas sudah kembali. Bukankah itu yang Mas inginkan sejak dulu?”


“Tapi bukan seperti ini yang aku mau, Jihan! Aku ingin kita kembali hidup bersama, aku ingin menjagamu seperti janjiku sejak SMA. Aku enggak mau kita berpisah.” Sungut Ammar yang mulai emosi.


“Mas, semua ini sudah ketentuan dari Allah. Kita hanya perlu mengikuti takdir, bukan melawannya. Karena semakin Mas melawan, Mas akan semakin merasa sakit karena enggak bisa ikhlas.” Tutur Jihan.


Jihan terdiam sambil menelan ludah, dia sedikit merasa takut melihat tatapan Ammar itu. Tatapan yang sering dia dapatkan di awal pernikahan mereka, tatapan penuh kemarahan.


“Baiklah, sekarang aku paham. Di saat aku mati-matian berjuang mencari mu agar kita bisa bersatu lagi, kau justru ikhlas kita berpisah dan melupakan aku. Pantas kau enggak menolak lamarannya.”


“Bukan seperti itu. Mas salah sangka!” Bantah Jihan.


“Lalu apa? Bisakah kau jelaskan kenapa kau menolak rujuk denganku?” Tantang Ammar masih dengan sorot mata yang tajam dan kecewa.


Jihan tertunduk diam, dia berusaha menyembunyikan matanya yang mulai digenangi cairan bening. “Karena itu yang terbaik, Mas.”


“Terbaik untuk siapa? Untukmu, untuk Radit atau untuk Ummi mu?”


Jihan mengangkat kepalanya memandang Ammar, kali ini dia tak bisa menyembunyikan air matanya yang merembes keluar. “Untuk Mas, untuk kita dan untuk semua orang. Percayalah, suatu saat Mas akan mengerti kenapa takdir ini yang Allah garis kan untuk kita, kenapa rasa sakit ini yang Allah goreskan di hati kita. Aku hanya wanita akhir zaman yang berusaha tabah mengikuti skenario Allah, aku enggak punya kuasa apa-apa untuk melawan kehendaknya. Jadi aku mohon mengertilah, Mas!”

__ADS_1


Ammar tersenyum di dalam rasa sakitnya.“Baiklah kalau kau anggap ini yang terbaik untukku dan untuk kita semua. Sekarang pergilah! Aku enggak akan menahan mu lagi. Karena sekuat apa pun aku berusaha untuk memperjuangkan mu, jika kenyataannya kamu ingin pergi, aku bisa apa?”


“Mas ....”


“Sudahlah, semua sudah berakhir. Mungkin kau benar, aku harus belajar ikhlas dan tabah sepertimu. Aku berharap bisa menyembuhkan luka ini secepat aku kehilangan dirimu.” Lanjut Ammar, air matanya jatuh menetes begitu saja.


Jihan bergeming sambil terisak-isak, entah mengapa mendengar Ammar mengucapkan kata perpisahan itu membuat hati Jihan seperti tersayat. Bukankah seharusnya dia lega jika Ammar merelakannya?


“Maaf sudah menjadi orang yang buruk dalam hidupmu, maaf karena aku enggak mampu menjaga dan melindungi mu. Aku doakan semoga kau bahagia selalu. Selamat tinggal.” Imbuh Ammar, dia segera berbalik dan melangkah pergi.


Ammar masuk ke dalam mobil lalu tancap gas meninggalkan Jihan.


Jihan yang masih menangis hanya memandangi mobil Ammar yang bergerak menjauh dengan perasaan hancur, dia memang mantap memilih Radit tapi bukan berarti dia tidak mencintai Ammar lagi. Dia hanya mengikuti kata hatinya dan yakin Allah punya rencana dengan menuntunnya sampai di titik ini.


“Maafkan aku, Mas. Aku juga mencintaimu, aku juga sakit berpisah darimu.” Ucap Jihan lirih.


“Kamu tertangkap basah menangisi kepergiannya.”


Jihan yang terkejut sontak berbalik memandang seseorang yang kini berdiri di belakangnya dengan tatapan tak terbaca.


☘️☘️☘️


Hai BESTie, semoga kalian masih setia mengikuti cerita ini.


Jangan lupa like, komen dan bantu kasih bintang 5 pada novel ini, ya. Biar aku makin semangat update.🙏🏼☺️


Please, kalau enggak suka dengan novel ini, jangan jatuhkan ratingnya.🥺😢


Aku nulis itu dengan susah payah, tolong hargai!😢

__ADS_1


__ADS_2