Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 33.


__ADS_3

Sehabis mandi, Jihan segera melaksanakan Shalat Magrib. Saking sedihnya, Jihan sampai tak kuasa menahan laju air matanya. Dia benar-benar terluka dan merasa tak berdaya menghadapi semua ini. Selama ini dia sudah berusaha sabar menjalani bahtera rumah tangganya yang penuh air mata, tapi kali ini hatinya terasa pilu dan goyah.


Jihan pun menadahkan tangannya dan memanjatkan doa setelah selesai Shalat dengan berlinang air mata.


“Ya Allah ya Rabbi yang maha pengampun, ampunilah aku atas apa yang telah aku lakukan baik yang aku sengaja ataupun enggak aku sengaja. Tutuplah aibku dari dunia luar, jagalah aku dari jahatnya perlakuan orang zalim.”


“Ya Allah yang maha mengetahui dan mengatur segalanya, bila Engkau mengetahui sesuatu itu baik untukku, maka per mudahkanlah. Dan jika Engkau mengetahui sesuatu itu buruk bagiku, maka jauhkanlah dariku. Berikanlah ketabahan dan keikhlasan untukku menghadapi semua ini. Kuatkan aku, ya Allah.” Ucap Jihan lirih. Tangisnya kembali pecah.


Dia berusaha sabar, namun hatinya terlalu lemah untuk menahan gejolak perasaan yang kian terasa perih kala teringat setiap tuduhan dan ucapan menyakitkan dari Ammar.


Karena mendengar suara tangis Jihan, Salma dan Arif segera menghampiri kamar putri mereka itu.


“Jihan! Boleh Ummi dan Abi masuk?”


“Iya, Ummi. Silakan!” Jihan buru-buru menghapus air matanya.


Pintu kamar Jihan terbuka, Salma serta Arif pun melangkah masuk ke dalam, lalu duduk di dekat wanita yang masih mengenakan mukena itu.

__ADS_1


“Nak, kami mengerti kamu sedang sedih, tapi jangan berlarut-larut, nanti kamu bisa sakit. Perbanyak istighfar dan zikir, mohon pertolongan dari Allah.” Ucap Salma.


“Iya, Ummi kamu benar. Tenangkan hati mu!” Arif menimpali.


Jihan hanya tertunduk tanpa membalas ucapan Abi dan Ummi nya. Air matanya kembali jatuh menetes.


“Abi dan Ummi tahu kamu enggak melakukan perbuatan laknat itu, kami percaya kamu bisa menjaga dirimu. Tapi terkadang Allah punya cara untuk menguji iman umatnya, seberapa besar kesabaranmu dalam menghadapi semua cobaan dari-Nya.”


“Tapi mengapa dengan cara seperti ini, Abi?” Sahut Jihan terisak-isak.


“Nak, ketika Allah menimpakan sesuatu yang ada di luar skenario kita, hendaknya kita bersabar dan berhusnuzhan kepada-Nya. Karena sesuatu yang buruk menurut kita, mungkin saja baik menurut-Nya. Allah lebih tahu yang terbaik untuk kamu.” Ujar Arif.


Air mata Jihan kian banyak menetes, dia menangis tersedu-sedu. Salma sontak memeluk putrinya itu.


“Nak, istighfar. Kamu harus sabar dan ikhlas. Ummi enggak mau kamu sedih seperti ini.” Salma mengusap lembut kepala Jihan.


“Astaghfirullahallazim .... Astaghfirullahallazim!” Seru Jihan pelan.

__ADS_1


“Jihan, enggak mungkin Allah membawa kamu ke titik ini tanpa ada maksud dan tujuan. Kita yakin setelah musibah ada hikmah, tapi kita lupa bahwa di dalam musibah itu juga ada nikmat. Enggak akan Allah memberikan musibah, kecuali Dia sedang membersihkan dosa kita. Sesungguhnya seseorang itu diuji sesuai kadar agamanya, jadi terus sabar dan ikhlas. Anggap Allah sedang memberi kenikmatan kepadamu.” Sambung Arif.


“Iya, Nak. Kamu kan tahu, Allah enggak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan umatnya. Apa pun yang terjadi nanti, tetap tabah dan berprasangka baik kepada Allah. Insya Allah, Dia sudah mempersiapkan yang lebih baik untukmu.”


Salma menimpali.


Jihan mengangguk, dia tak sanggup lagi untuk berucap. Air matanya masih saja menetes, namun hatinya sudah lebih tenang setelah mendengar nasihat dari Abi dan Ummi nya itu.


Jihan bersyukur memiliki orang tua seperti Arif dan Salma, mereka selalu bersikap tenang saat menghadapi musibah, tak pernah mengeluh bahkan selalu berhasil membuat Jihan merasa lebih baik jika sedang merasa gundah.


“Sebaiknya sekarang kamu istirahat, Abi dan Ummi enggak ingin kamu sakit nantinya.”Pinta Arif.


“Iya, Nak. Atau kamu mau Ummi temani tidurnya?”Tanya Salma.


Jihan menatap sang ibu lalu mengangguk, “Iya, boleh, Ummi.”


“Baiklah, kalau begitu Abi keluar dulu.”Arif beranjak lalu melangkah keluar dari kamar Jihan, perasaannya pilu melihat Jihan seperti ini, tapi sebagai seorang ayah, dia harus tegar agar bisa menguatkan hati putrinya itu.

__ADS_1


☘️☘️☘️


__ADS_2