
Ammar buru-buru datang ke kafe yang Jihan sebutkan tadi, mereka janji jumpa di sana agar Ammar bisa bertemu Abbas dan meminta maaf. Ammar celingukan ke sana-kemari, mencari sosok Jihan, tapi tak dia temukan. Dia coba menghubungi nomor telepon Jihan, tapi tak ada jawaban. Akhirnya Ammar memutuskan untuk bertanya pada salah seorang waiters yang kebetulan lewat di dekatnya.
“Maaf, Mbak. Saya mau tanya.” Ammar menghentikan langkah waiters itu.
“Iya, ada apa, Mas?”
“Tadi ada enggak wanita berhijab biru muda dengan pakaian cleaning servis datang kesini?” Tanya Ammar.
“Wah, saya enggak perhatikan, Mas. Soalnya dari tadi sibuk melayani pelanggan.” Jawab waiters itu.
“Oh, ya sudah. Terima kasih, ya.”
“Sama-sama, Mas.” Balas waiters itu dan berlalu pergi.
Ammar mengembuskan napas, dia bingung harus mencari Jihan ke mana?
“Dia ke mana, sih?”
Ammar pun masuk ke dalam mobil namun tiba-tiba sebuah pesan dikirim ke ponselnya Ammar dari nomor tak dikenal.
“TADI AKU LIHAT ISTRIMU MASUK KE HOTEL BERSAMA LELAKI LAIN.”
Dan sebuah foto dikirimkan ke ponsel Ammar dari nomor yang sama. Mata Ammar melotot saat melihat seorang wanita berkerudung biru dan memakai pakaian cleaning servis bergelayut di lengan seorang pria, mereka terlihat sedang berjalan di lobi hotel. Foto itu diambil dari belakang dan sepertinya tanpa sepengetahuan orang yang difoto, meskipun tak bisa melihat wajahnya, Ammar tahu itu Jihan karena mengenali pakaian dan hijabnya.
“Ini enggak mungkin!” Gumam Ammar tak percaya. Dia bergegas menghubungi nomor asing itu, tapi tidak bisa sebab nomornya sudah diblokir.
“Berengsek!”
Ammar pun kembali menghubungi nomor Jihan, dan kali ini ada yang menjawab.
“Halo, Jihan. Kau di mana?”
__ADS_1
“Maaf, Jihan sedang tidur.”
Ammar terkesiap saat mendengar suara seorang lelaki yang menjawab teleponnya.
“Siapa kau? Mana Jihan?” Hardik Ammar penuh emosi.
“Sudah aku katakan, Jihan sedang tidur. Dia kelelahan karena kami habis bersenang-senang.”
“Bangsat! Berikan ponselnya pada Jihan!” Bentak Ammar.
Bukannya menjawab Ammar, lelaki di seberang sana justru menutup teleponnya, membuat Ammar semakin berang.
“Binatang!” Umpat Ammar kesal.
Dan sebuah panggilan video dari nomor Jihan mengejutkan Ammar, dia langsung menggeser tombol hijau dan layar ponselnya menampilkan seorang pria bertelanjang dada tengah berbaring di samping wanita berwajah ayu yang sedang tertidur lelap.
Mata Ammar melotot. “Jihan!”
Ammar mengeraskan rahangnya demi melihat pemandangan mengejutkan itu.
“Sekarang kau percaya, kan? Jihan sedang tidur.”
“Bajingan! Kalian benar-benar menjijikkan!” Maki Ammar dan langsung mematikan panggilan video itu.
Hatinya benar-benar hancur melihat semua ini, sungguh dia tak menyangka Jihan akan melakukan hal serendah itu.
Dan sebuah pesan berisi foto Jihan yang sedang tidur di dalam pelukan lelaki itu dikirim ke ponsel Ammar.
“JIHAN SANGAT HOT SAAT DI ATAS RANJANG, MAKANYA AKU SELALU KETAGIHAN BERCINTA DENGANNYA.”
“Dasar munafik! Murahan!” Geram Ammar lalu melempar ponselnya ke dashboard mobil.
__ADS_1
Ammar sungguh tak bisa menerima semua ini, dia merasa dibohongi dan dikhianati oleh Jihan.
“Aaaaarrrgghhh ....” Teriak Ammar sambil memukul setir mobil dengan kuat untuk melampiaskan rasa marahnya.
Dengan emosi yang sudah naik sampai ke ubun-ubun, Ammar memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Rasa jijik, kecewa dan marah berbaur menjadi satu, membuat lelaki itu tak bisa lagi berpikir dengan jernih.
☘️☘️☘️
Jihan mulai terbangun, dia mengerjap dan berusaha memfokuskan pandangannya. Tapi dia sontak membelalakkan matanya saat sadar sedang berada di tempat yang asing.
“Aku di mana?” Jihan celingukan.
Dia bangkit dari pembaringan dan terkejut ketika menyadari dirinya tak mengenakan pakaian.
“Astaghfirullahalladzim! Pakaianku ke mana?” Pekik Jihan. “Dan kenapa aku bisa ada di sini?”
Jihan berusaha mengingat apa yang telah terjadi, tapi memorinya hanya sampai kejadian di kafe tadi. Setelah itu Jihan tak ingat apa-apa lagi dan sungguh dia tak tahu kenapa bisa berada di kamar ini dalam keadaan telanjang.
“Apa yang telah aku lakukan?” Jihan benar-benar takut, air matanya bahkan sudah jatuh membasahi pipinya. “Apa ini perbuatan Abbas? Tapi dia enggak mungkin melakukannya.”
“Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi? Aku takut sekali.” Jihan semakin terisak.
Tiba-tiba ingatan Jihan tertuju kepada suaminya. “ Mas Ammar! Dia pasti sudah menungguku.”
Jihan pun buru-buru turun dari atas ranjang dan memungut pakaiannya yang berserakan di lantai lalu memakainya dengan tangan gemetar dan air mata yang jatuh berderai.
Setelah memakai pakaian serta hijabnya, Jihan pun pergi meninggalkan kamar hotel itu dengan panik dan perasaan gundah.
Jihan memesan taksi, dia berharap bisa cepat bertemu Ammar. Di dalam taksi, Jihan berusaha mencerna kejadian ini, dia benar-benar takut dan bingung. Prasangka buruk pun mulai menggelayuti hatinya. Jihan kembali ke kafe tadi, tapi sama sekali tak menemukan Ammar di sana, dia akhirnya memutuskan pulang ke rumah.
☘️☘️☘️
__ADS_1