Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 60.


__ADS_3

Acara lamaran sudah selesai, semua orang tengah mengobrol ringan di ruang tamu. Sementara Radit dan Jihan duduk di teras karena tadi lelaki itu meminta izin untuk bicara berdua dengan sang calon istri.


“Kamu mau sampai kapan menunduk terus? Enggak mau lihat saya. Kan saya jadi sedih.” Seloroh Radit membuka percakapan.


Jihan mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk dan memberanikan diri menatap wajah rupawan Radit. “Maaf, Pak.”


“Jangan panggil Bapak! Saya kan bukan atasan kamu lagi, saya ini calon suami kamu. Panggil Mas, kek! Atau panggil sayang juga boleh, saya ikhlas, kok.”


Jihan sontak melotot mendengar kata-kata terakhir Radit.


“Saya cuma bercanda. Biar enggak tegang. Belum apa-apa, sudah dipelototi.” Radit ngedumel sendiri.


Jihan tersenyum samar dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Jihan!”


Mendengar namanya dipanggil, Jihan kembali menoleh. “Iya, Pak. Eh, maksudnya Mas.”


Radit mengulum senyum melihat Jihan gugup. Jihan yang malu, kembali menundukkan kepalanya.


“Terima kasih banyak, ya.” Ucap Radit.


“ Terima kasih untuk apa, Mas?” Tanya Jihan tanpa memandang calon suaminya itu.


“Karena kamu sudah bersedia untuk menerima saya. Demi Allah, hari ini rasanya saya bahagia sekali, karena apa yang saya harapkan akhirnya menjadi kenyataan.”

__ADS_1


Jihan kembali memberanikan diri menatap Radit lalu tersenyum. “Seharusnya saya yang berterima kasih karena Mas sudah mau menerima saya dengan segala kekurangan yang saya miliki.”


“Saya juga punya kekurangan, bahkan mungkin lebih banyak dari kamu. Makanya saya butuh seorang pendamping yang bisa melengkapi kekurangan itu, dan saya yakin kamu orangnya.” Ujar Radit.


“Insya Allah, Mas. Kita akan saling melengkapi kekurangan masing-masing. Kita akan sama-sama berjuang mengejar ridho Allah.” Sahut Jihan.


Radit menganggukkan kepalanya, seulas senyuman merekah di bibirnya.


“Aku bersumpah akan membahagiakan mu seumur hidupku, Jihan. Aku tidak akan membiarkan kamu terluka apalagi bersedih.”Ucap Radit dalam hati sembari terus memandangi Jihan yang tertunduk di sampingnya.


☘️☘️☘️


Ammar duduk sendiri di balkon kamarnya, termenung menatap langit malam kota Surabaya. Hati dan pikirannya dipenuhi dengan Jihan, sehingga nyaris tak ada ruang untuk hal lain. Berulang kali Ammar menghela napas panjang, berusaha meringankan sesak yang seolah menghimpit dadanya.


“Harus ke mana lagi aku mencarinya? Kenapa dia seakan hilang ditelan bumi?” Gumam Ammar pada dirinya sendiri.


“Di sini kau rupanya? Pantas dipanggil enggak menyahut.” Tiba-tiba suara Anita menyambar indra pendengaran Ammar. Lelaki beralis tebal itu seketika membuka matanya dan memandang sang ibu.


“Mama? Mengagetkan saja!”


“Mama dari tadi gedor pintu kamar kamu, tapi enggak ada jawaban. Pas Mama tahu pintunya enggak terkunci, Mama masuk saja.” Anita menjelaskan.


“Aku enggak dengar, Ma.”


“Bagaimana mau dengar, kalau raga kamu di sini tapi pikiran dan jiwanya pergi entah ke mana.” Ledek Anita.

__ADS_1


Ammar hanya tersenyum getir.


“Pasti kamu lagi memikirkan Jihan, kan?” Tebak Anita.


Ammar mengangguk. “Iya, Ma. Aku bingung mau mencari dia ke mana lagi? Selama setahun ini, aku sudah berkeliling kota Surabaya, tapi enggak sedikit pun ada petunjuk tentang dia. Atau jangan-jangan kami memang tidak akan pernah bertemu lagi?”


“Jangan suudzon dulu! Tetaplah bersabar, kalau memang kalian berjodoh, Allah pasti pertemukan. Meskipun kita enggak tahu kapan dan di mana.”


Ammar meremas kuat rambutnya dan tertunduk penuh sesal. “Kenapa takdir begitu kejam mempermainkan ku seperti ini? Saat ingatanku hilang, dia satukan kami. Tapi setelah aku mengingat semuanya, kami malah terpisah. Kalau tahu begini, aku enggak mau ingatanku kembali! Biarkan aku lupa masa laluku, yang penting Jihan tetap ada.”


“Nak, jangan begitu! Biarkan takdir menyelesaikan tugasnya, jangan pernah menyalahkan atau menghakiminya. Semua yang terjadi ini atas izin Allah, jadi sebaiknya sekarang kau shalat lalu berdoa, mohon petunjuk. Karena doa itu adalah penghubung antara harapan dan takdir.”


“Hidupmu enggak akan tersesat selama kau tahu arah kiblat. Mintalah pada Allah, karena setiap kali kau meminta, maka kau akan mulia di hadapannya. Allah akan meridhoi dan mencintaimu, Nak.” Lanjut Anita sembari mengusap kepala Ammar.


Hati Ammar begitu terenyuh mendengar kalimat demi kalimat yang Anita ucapkan, hatinya semakin malu dan merasa bersalah, karena selama ini dia begitu lalai dan mengabaikan sang penciptanya.


“Kalau begitu Mama kembali ke kamar dulu, takut Papa panggil. Soalnya Papa lagi enggak enak badan, mungkin kelelahan.”


“Iya, Ma.”


Anita beranjak lalu meninggalkan kamar Ammar dan kembali ke kamar yang dia tempati bersama sang suami.


Begitu pun dengan Ammar, dia juga bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke kamar mandi untuk berwudhu lalu melaksanakan shalat isya.


Selepas Shalat, Ammar menadahkan kedua tangannya. “Ya Allah, ampuni aku karena selama ini telah lalai menjalankan perintah mu, aku merasa sombong akan diriku dan kufur terhadap nikmat yang telah Engkau berikan. Ya Allah, maafkan aku karena terlalu banyak berbuat dosa, menyia-nyiakan waktuku dan membuat orang-orang di sekitarku kecewa. Aku sungguh menyesali, ya Rabbi.”

__ADS_1


“Sejujurnya aku malu memohon kepada-Mu, tapi aku si pendosa ini sangat mengharapkan pertolonganmu. Ya Allah yang maha pengasih, aku mohon berilah aku petunjuk di mana Jihan berada, pertemukan lah kami. Aku mohon, ya Allah.” Ammar memanjatkan doa dengan berlinang air mata, meluapkan segala rasa yang selama ini tersimpan di dalam hatinya.


☘️☘️☘️


__ADS_2