Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 13.


__ADS_3

Ammar pun ikut kembali ke kamarnya sembari membawa teh hangat yang dia buat, hujan deras serta petir yang menyambar membuat siapa pun merasa lebih nyaman berdiam diri di dalam rumah alih-alih keluar.


Sebenarnya kata-kata Radit tadi masih menghantui benak Ammar, dia bingung harus mempercayai siapa? Miranda atau Radit?


Ammar mencoba menerka-nerka dan mencerna semua yang terjadi, dan dia teringat saat Miranda serta teman-temannya bertemu dengan Jihan malam itu. Tak satu pun dari teman-teman Miranda yang mengenal Jihan, lalu siapa teman Miranda yang katanya pernah menjalin hubungan dengan istrinya itu?


“Kalau Miranda tahu bagaimana hubungan Jihan dengan lelaki itu, pasti mereka berteman dekat. Tapi setahuku Miranda enggak punya teman lagi selain yang dia ajak kesini kemarin malam.”


Untuk menjawab rasa penasarannya, Ammar pun memutuskan untuk menghubungi Evan, salah satu teman Miranda yang lumayan dekat dengannya.


“Halo, Van. Ada yang mau aku tanyakan.” Ujar Ammar tanpa basa-basi.


“Apa, Bro?”


“Kau tahu enggak, selain kalian, apa Miranda ada teman dekat lagi?” tanya Ammar.


“Setahu aku sih Miranda itu temannya enggak banyak, ya paling hanya kami-kami ini. Memangnya kenapa?”


“Oh, enggak apa-apa, kok. Aku hanya bertanya saja. Ya sudah, thanks ya.”


“Ok, Bro.”


Ammar segera mengakhiri pembicaraannya dengan Evan. Hatinya semakin bertanya-tanya, merasa ada sesuatu yang aneh dan mencurigakan.


“Apa Miranda berbohong?” Tebak Ammar.


Hatchiiii ....


Ammar terkejut mendengar suara bersin Jihan dari luar kamarnya. Dia beranjak dari duduknya dan segera membuka pintu kamar, terlihat Jihan yang memakai sweter sedang berjalan membelakanginya menuju tangga.


“Sebenarnya dia itu wanita seperti apa?” Gumam Ammar. “Aku harus cari tahu.”


Lelaki berwajah rupawan itu bergegas keluar dari kamarnya dan masuk ke dalam kamar Jihan tanpa sepengetahuan wanita itu. Dia mencari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan petunjuk tentang Jihan dan pandangannya terfokus pada ponsel Jihan yang tergeletak di atas meja rias, Ammar segera meraih benda pipih itu tapi sayang, layar ponsel Jihan terkunci.


“Sial! Ponselnya terkunci!” Gerutu Ammar dan meletakkan kembali ponsel Jihan ke tempat semula.


Dan kini pandangannya beralih ke sebuah pigura foto yang terpajang di atas meja rias, di mana ada foto sekumpulan siswa SMA berbaris rapi bersama guru-guru mereka dan di bagian bawah foto tercetak jelas nama sekolah dan tahun ajarannya. Itu foto yang diambil sebulan sebelum kelulusan.

__ADS_1


Ammar terkesiap saat mendapati fakta bahwa Jihan dan dirinya tamat dari SMA yang sama dan di tahun yang sama pula.


“Jadi kami pernah satu sekolah? Tapi kenapa Miranda enggak bilang apa-apa? Dia malah mengatakan mengenal Jihan karena pernah berhubungan dengan temannya. Apa dia memang benar-benar membohongiku?”


Namun tiba-tiba Ammar teringat sesuatu, dia berusaha memperhatikan satu persatu wajah orang-orang di foto itu dan sama sekali tak ada Miranda.


“Tapi kenapa Miranda enggak ada? Ini pasti ada kesalahan.”


Hatchiiii ....


Tiba-tiba suara bersin Jihan terdengar lagi, dan pintu kamar itu terbuka perlahan. Ammar yang panik karena kedatangan Jihan, sontak bersembunyi di balik sofa sebelum wanita itu melihatnya.


Jihan masuk ke dalam kamar dengan membawa segelas air putih, dia tampak lesu dan pucat karena demam. Jihan melepaskan hijabnya, membuat rambut panjangnya yang masih lembab tergerai indah. Ammar yang mengintip dari balik sofa sempat terkesima karena ini pertama kalinya dia melihat Jihan tanpa hijab.


Karena sedang tidak enak badan, Jihan segera berbaring lalu menarik selimut menutupi tubuhnya. Tak butuh waktu lama, wanita berwajah ayu itu sudah terlelap.


Setelah memastikan Jihan sudah tertidur dengan nyenyak, Ammar pun keluar dari persembunyiannya. Dia mengendap-endap menuju pintu dan buru-buru keluar dari kamar Jihan kemudian kembali ke kamarnya.


Di dalam kamarnya, Ammar terus memikirkan foto di kamar Jihan tadi. Ammar ingat betul enam bulan yang lalu saat pertama kali dia bertemu Miranda di rumah sakit sepulang terapi, wanita itu mengaku sebagai teman sekolah Ammar dan mereka sangat dekat bahkan bisa di bilang punya hubungan spesial.


Miranda juga mengatakan jika Ammar berjanji akan selalu menjaganya dan melindunginya karena dia hanya sebatang kara. Waktu itu Miranda menangis, membuat Ammar iba dan percaya. Sehingga sejak saat itu mereka mulai dekat dan akhirnya menjalin hubungan sampai sekarang.


Sedangkan Ammar, sejak kecelakaan dua tahun yang lalu, ponselnya hilang dan dia sama sekali tidak mengingat sandi ataupun email akun jejaring sosialnya. Tentu kenangan tentang masa-masa sekolahnya pun ikut hilang tanpa jejak dan Miranda juga tak pernah menunjukkan foto-foto tentang mereka sewaktu sekolah.


Ammar mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi?


Tapi tak ada satu pun memori yang tersimpan di otaknya tentang Jihan ataupun teman-temannya yang lain, dia hanya pernah mendengar dari sang Mama bahwa dirinya lulus dari SMA itu dan tak ada cerita lain lagi.


“Aaaaarrrgghhh ....”


Mendadak kepala Ammar terasa berdenyut seperti akan pecah, rasa sakit yang sudah sangat lama tidak dia rasakan sejak dia berhenti mengingat tentang siapa dirinya dan bagaimana masa lalunya sebelum kecelakaan tragis itu merenggut ingatannya.


Ammar mengerang kesakitan sambil terus memegangi kepalanya, keringat mulai membanjiri seluruh tubuhnya. Beberapa kejadian berseliweran secara acak dan membuat kepalanya semakin sakit dan ingin meledak. Seketika itu wajah Jihan pun bermunculan di dalam ingatannya.


Inilah alasan kenapa Yusuf dan Anita tak pernah mengungkit masa lalu putranya itu, sebab dokter dan psikolog yang menangani Ammar melarang lelaki itu untuk memaksakan diri mengingat masa lalunya, karena dia akan merasakan sakit yang luar biasa seperti ini.


Karena tak sanggup menahan rasa sakit dikepalanya, Ammar pun akhirnya pingsan tanpa ada seorang pun yang tahu.

__ADS_1


☘️☘️☘️


Di sebuah apartemen yang cukup mewah, Miranda yang baru selesai mandi sedang bersantai sambil menikmati coklat panas. Tiba-tiba ponselnya berdering, Miranda buru-buru menjawab panggilan masuk yang ternyata dari Evan.


“Halo, tumben kau menghubungiku. Ada apa?” Tanya Miranda.


“Kau lagi ada masalah dengan Ammar?”


“Enggak. Memangnya kenapa?”


“Tadi dia menghubungiku dan bertanya tentangmu.”


Miranda mengernyit heran. “Tanya apa?”


“Dia bertanya apakah kau punya teman dekat lagi selain kami? Aku pikir kalian sedang ribut karena dia cemburu padamu.”


“Dia tanya begitu? Terus kau jawab apa?”


“Aku bilang saja enggak ada, kan temanmu memang cuma kami.”


“Kenapa Ammar bertanya seperti itu, ya?” Miranda mencoba menebak-nebak.


“Mana aku tahu! Oh iya, malam ini aku dan Miko mau menginap di apartemenmu. Sebentar lagi kami on the way.”


“Kalian enggak bisa apa pacaran di tempat lain saja? Menjijikkan!” Ujar Miranda.


“Alah, Mir. Jangan munafik! Kita itu enggak ada bedanya.”


“Berengsek! Tutup mulutmu!” Hardik Miranda.


“Hahaha. Sampai ketemu.”


Evan langsung mengakhiri pembicaraannya dengan Miranda setelah puas tertawa usai meledek temannya itu.


“Mau apa Ammar bertanya seperti itu? Apa dia mencurigai sesuatu?” Miranda masih mencoba menerka maksud Ammar bertanya.


Mendadak perasaan Miranda tak enak, dia takut Ammar mulai mengetahui tentang dirinya dan mencari tahu kebenaran.

__ADS_1


☘️☘️☘️


__ADS_2