Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 71.


__ADS_3

“Kamu tertangkap basah menangisi kepergiannya.”


Jihan yang terkejut sontak berbalik memandang seseorang yang kini berdiri di belakangnya dengan tatapan tak terbaca.


“Mas Radit?” Jihan buru-buru mengusap air matanya.


Radit tersenyum menatap Jihan, membuat wanita berhijab itu tertunduk canggung. Rupanya sejak tadi Radit melihat dan mendengar pembicaraan mereka.


“Aku minta maaf, Mas.” Ucap Jihan tak enak hati.


“Kenapa kamu yang minta maaf? Seharusnya saya, karena sudah menguping pembicaraan kalian.”


Jihan semakin merasa bersalah dan tidak enak hati pada Radit, apa yang dia takutkan akhirnya terjadi juga.


“Tadi saya berencana untuk ke rumah kamu, saya mau pamit pada Abi dan Ummi kamu karena saya akan kembali ke Jakarta malam ini. Tapi saya malah melihat kamu dengan dia.” Terang Radit lalu kembali tersenyum.


“Saya bisa jelaskan semuanya, Mas. Saya ....”


“Sudah, enggak usah kasih penjelasan! Saya sudah paham, kok.” Potong Radit.


Jihan termangu, perasaannya semakin berkecamuk. Dia bahkan sampai tak berani menatap Radit yang kini berdiri di hadapannya.


“Bisa kita bicara di tempat lain? Tidak enak di lihat orang kalau di sini.”


Jihan mengangguk. “Iya, Mas. Ke rumahku saja!”


“Baiklah.”


Keduanya pun berjalan menuju rumah Arif dengan jarak yang cukup jauh dan tak ada pembicaraan sama sekali.


Sementara itu, Ammar yang sudah tiba di hotel berjalan lemah menuju kamarnya, hati dan pikirannya benar-benar kacau saat ini, tatapannya kosong seakan tak memiliki tujuan bahkan untuk sekedar memandang.


Dia benar-benar kehilangan semangat hidup. Anita dan Yusuf yang sedari tadi menunggunya, bergegas menghampiri Ammar begitu melihat kedatangan sang putra.


“Kau dari mana saja? Mama hubungi juga enggak bisa.” Cecar Anita cemas.


“Aku menemui Jihan, Ma.” Jawab Ammar lesu.


“Mau apa kau ke sana? Kau membuat keributan?” Yusuf menatap curiga Ammar.

__ADS_1


“Aku meminta Jihan untuk mengubah keputusanny, Pa.”


“Lalu apa dia bersedia?” Tanya Anita penasaran.


Ammar menggeleng pelan. “Enggak, Ma. Sekarang aku sudah benar-benar kehilangan dia.”


Anita dan Yusuf saling pandang dengan raut wajah sedih, mereka merasa prihatin pada sang putra.


“Kau yang sabar! Allah pasti sudah mempersiapkan yang terbaik untukmu, jadi jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Ikhlaskan semuanya, terima dengan lapang dada.” Ujar Yusuf menasihati.


“Iya, Pa. Aku sudah melepaskan apa yang seharusnya dilepaskan, karena aku sadar, enggak ada gunanya mempertahankan sesuatu yang enggak ditakdirkan untuk kita.” Ucap Ammar lirih, dia berusaha sekuat tenaga untuk tegar di hadapan kedua orang tuanya, meskipun hatinya hancur tak bersisa.


“Alhamdulillah kalau kau sudah bisa ikhlas menerima semua ini.” Anita memeluk Ammar sambil berlinang air mata.


Ammar memaksakan senyuman. “Kita kembali ke Jakarta sekarang! Aku enggak mau lebih lama lagi di sini.”


“Iya, kita pulang.” Balas Yusuf.


☘️☘️☘️


Radit dan Jihan duduk di teras rumah Arif, tadi duda tampan itu sudah meminta izin untuk bicara berdua dengan sang calon istri.


“Kamu masih mencintainya, kan?” Tanya Radit setelah mereka diam beberapa saat.


Jihan tetap bergeming, jantungnya berdebar kencang mendengar pertanyaan Radit, dia semakin merasa tak enak hati pada lelaki itu.


“Jihan, jangan sembunyikan perasaan kamu! Jika kamu mencintai, maka sampaikanlah. Bukankah begitu Sunnah Rasulullah?”


Jihan akhirnya mengangguk pelan. “Aku minta maaf, Mas.”


“Kenapa harus minta maaf? Cinta itu anugerah luar biasa dari Allah yang wajib kita syukuri. Agama enggak melarang kita untuk mencintai, karena itu fitrah setiap manusia. Jadi kamu enggak salah, Jihan.”


“Tapi seharusnya saya menghilangkan cinta pada Mas Ammar karena sebentar lagi saya akan menikah dengan Mas Radit. Saya merasa bersalah, Mas.”


“Cinta itu ada di hati dan Allah yang maha membolak-balik nya. Jika Allah mau, dia bisa saja mengubah hatimu agar mencintai saya. Tapi kenyataannya, Allah tetap membiarkan rasa cinta untuk Ammar ada di dalam hatimu. Itu berarti Allah sedang menguji mu melalui anugerahnya.”


Jihan tertegun mendengar kata-kata Radit.


“Jihan, saya selalu ingin menjadi alasan di balik senyummu, menjadi nama yang mengisi ruang hatimu dan rindu yang menemanimu sepanjang waktu. Saya mencintaimu dan berharap bisa menjadi bagian dari hidupmu, tapi di saat asa itu nyaris menjadi nyata, saya pun sadar ....” Radit mengjeda kata-katanya dan menghela napas.

__ADS_1


“Bahwa saya telah menjadi penyebab kamu bersedih dan patah hati.” Lanjut Radit lirih.


Jihan menggeleng. “Mas, enggak seperti itu!”


“Tapi yang saya lihat seperti itu, Jihan. Saya bisa saja egois dan mengabaikan perasaan kamu. Tapi saya pasti akan merasa bersalah jika melihat kamu sakit. Mungkin sebaiknya kita batalkan khitbah ini!”


Jihan terhenyak mendengar keputusan Radit itu. “Mas salah paham! Saya sudah ikhlas berpisah dari Mas Ammar dan yakin dengan keputusan saya untuk menikah dengan Mas Radit.”


“Ikhlas bukan melepaskan dengan air mata, namun merelakan dengan senyuman.” Sindir Radit, membuat Jihan terdiam dan merasa tersentil.


“Kamu mungkin yakin ingin menikah dengan saya, tapi kamu belum rela melepaskan dia.”


Jihan menatap Radit. “Mas, enggak begitu!”


“Sudahlah, Jihan. Jangan dipaksakan lagi! Mungkin kita ditakdirkan hanya sebatas ini, kisah singkat yang hanya akan menjadi kenangan.” Ujar Radit sedih.


“Mas.”


“Saya sadar, apa yang seharusnya berakhir, jangan dilanjutkan lagi. Dan apa yang semestinya bersambung, jangan dibiarkan terputus. Saya tahu kamu dan Ammar masih saling mencintai, kembalilah kepadanya! Insya Allah saya akan ikhlas dan merelakan mu.” Sambung Radit.


Air mata Jihan sontak menetes, dia tak tahu harus berkata apa lagi? Jihan tak menyangka Radit akan membatalkan rencana pernikahan mereka.


Radit lantas mengeluarkan sebuah sapu tangan dan menyodorkannya kepada Jihan. “Hapus air mata kamu dengan ini, dan berhentilah menangis karena saya!”


Jihan menatap sapu tangan berwarna biru Dongker yang tidak asing baginya, lalu dengan tangan gemetar dia meraihnya. Dengan perlahan Jihan mengusap cairan bening yang sejak tadi membasahi pipinya.


“Mas, aku sungguh minta maaf karena sudah menyakiti perasaan kamu. Aku enggak bermaksud seperti ini.” Ucap Jihan menyesal.


“Tidak apa-apa, ini semua sudah takdir dari Allah dan saya percaya Allah selalu punya skenario terbaik untuk hamba-Nya. Saya hanya perlu bersabar dan ikhlas menerima semua ketentuannya serta bersyukur atas kebaikan dan ujian yang Dia berikan.” Balas Radit lalu tersenyum demi menutupi kepedihan hatinya.


“Semoga Mas mendapatkan jodoh yang lebih baik dan bisa membahagiakan Mas juga Bu yuni.”


“Aamiin ya Allah.”


Jihan hanya bergeming, dia begitu kagum melihat ketegaran serta keikhlasan pria di hadapannya itu.


“Sekarang saya ingin bicara dengan Abi dan Ummi kamu.”


Jihan mengangguk. Keduanya pun beranjak masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


☘️☘️☘️


__ADS_2