
Setelah memastikan bahwa Ammar sudah benar-benar pingsan, Evan pun bergerak menjauhi lelaki itu dan menatap Miranda.“Jadi sekarang apa yang harus kita lakukan?”
“Buka ikatan di kaki dan tangannya!” Pinta Miranda. “Kita enggak mungkin membawa dia keluar dengan keadaan terikat.”
“Tapi kita juga enggak bisa membawanya keluar dalam keadaan pingsan begini! Sekuriti dan orang-orang pasti curiga.” Bantah Evan.
“Kau tenang saja. Tunggu di sini!” Miranda berjalan keluar kamar, lalu kembali lagi dengan sebotol minuman keras.
Miko menautkan alisnya. “Untuk apa itu?”
“Lihat ini!” Miranda pun menuangkan minuman keras itu ke baju dan mulut Ammar. “Kita tinggal bilang saja kalau dia mabuk berat dan kita akan mengantarnya pulang.”
“Kau benar-benar licik, Mir.”
Ujar Evan.
“Aku anggap itu pujian.” Miranda membalas ucapan Evan. “Sudah cepat buka ikatannya, kita harus segera membawa dia pergi dari sini!”
Evan dan Miko bergegas membuka ikatan di tangan dan kaki Ammar.
“Sekarang papah dia dan masukkan ke dalam mobilnya. Kalian berdua yang akan membawanya, sementara aku akan mengikuti kalian dari belakang dengan mobilku. Saat sampai di tepi jurang, kalian segera keluar dan pindahkan dia ke jok depan. Kita akan membuat mobilnya jatuh ke jurang, seolah-olah dia kecelakaan karena mabuk.” Miranda mengatur rencananya.
Miko menatap Miranda dengan ragu. “Kau yakin ingin membunuhnya? Apa ini enggak terlalu berisiko? Bagaimana kalau dia enggak mati dan melaporkan kita ke polisi?”
“Ini bukan yang pertama kali aku ingin membunuhnya. Dua tahun yang lalu aku berhasil menyabotase mobilnya sampai dia kecelakaan parah, tapi sayang dia masih selamat. Tapi kali ini aku pastikan dia akan mati.” Miranda menyeringai dengan sorot penuh kebencian.
“Kau benar-benar gila, Mir! Kau psikopat!” Miko geleng-geleng kepala.
“Iya, kau transgender terkejam yang pernah aku kenal.” Sambung Evan.
“Sudah-sudah! Kenapa jadi pada mengobrol, sih? Cepat kerjakan yang aku suruh tadi!”
“Iya-iya!”
Evan dan Miko segera mengangkat tubuh Ammar lalu memapahnya keluar dari apartemen. Sementara Miranda membuntuti mereka dari belakang.
Dan benar dugaan Evan, saat mereka berjalan menuju parkiran, seorang sekuriti yang memang sudah mengenal Ammar pun menghampiri mereka.
__ADS_1
“Kenapa dia?” Sekuriti itu menunjuk Ammar yang terkulai di antara Evan dan Miko.
“Dia lagi mabuk berat, Pak. Mau kami antar ke rumahnya.” Kilah Evan.
“Astaga! Ya sudah, cepat antar pulang!” Ujar sekuriti itu, dia bisa mencium aroma alkohol yang tajam dari tubuh Ammar.
“Iya, Pak. Permisi.” Balas Miko dan Evan bersamaan lalu bergegas membawa Ammar.
Evan dan Miko memasukkan Ammar ke dalam mobil dan meninggalkannya di jok belakang. Lalu keduanya masuk dan duduk di kursi depan. Mobil Range Rover Velar hitam milik Ammar yang dikemudikan oleh Evan melesat meninggalkan parkiran apartemen, disusul oleh Miranda yang mengemudikan mobilnya sendiri.
☘️☘️☘️
Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai Evan melaju kencang menuju puncak, setelah tadi sempat terjebak macet hampir satu jam karena terjadi kecelakaan di ruas jalan tol.
“Akhirnya bisa jalan juga!” Ucap Evan lega.
“Iya, aku sempat khawatir kalau macetnya lebih lama lagi, bisa-bisa dia sadar sebelum sampai tujuan.” Sahut Miko sembari melirik ke jok belakang, tempat di mana Ammar masih tergolek tak sadarkan diri.
“Aku juga cemas tadi. Makanya sekarang kita harus cepat, takut efek obat biusnya hilang.” Balas Ammar.
Tapi sepertinya yang mereka takutkan menjadi kenyataan, tanpa sepengetahuan keduanya, Ammar mulai sadar dari pengaruh obat bius itu. Ammar membuka perlahan matanya, sejenak dia merasa linglung dan pusing, tapi begitu mendengar suara obrolan Evan dan Miko, akhirnya Ammar paham dengan apa yang terjadi. Dia tetap berbaring lalu kembali menutup matanya dan berpura-pura masih pingsan.
Ammar tercengang mendengar ucapan Evan, sungguh dia tak menyangka Miranda melakukan itu.
“Jadi itu juga ulahnya? Dasar biadab!” Batin Ammar.
“Iya, enggak heran kalau sekarang dia juga berani untuk menghabisi Ammar. Aku jadi takut berurusan dengan dia.” Sahut Miko sambil bergidik ngeri.
“Setelah ini selesai dan kita mendapatkan bayaran dari Miranda, kita akan pergi ke tempat yang jauh dan enggak akan berurusan dengan dia lagi.” Balas Evan. Miko hanya mengangguk.
“Aku belum mau mati. Aku harus melarikan diri.” Ucap Ammar dalam hati.
Tiga puluh menit kemudian, Evan menepikan mobil tersebut di rest area.
“Kok berhenti di sini?” Tanya Miko bingung.
“Aku kebelet buang air, sakit perut, sudah enggak tahan.” Jawab Evan yang buru-buru turun dan berlari mencari toilet.
__ADS_1
“Buruan!” Teriak Miko, namun Evan sudah menjauh.
Ponsel Miko pun berdering, ternyata Miranda yang menelepon.
“Halo, Mir?”
“Mau ngapain si Evan?”
“Mau buang air, katanya sudah enggak tahan.” Sahut Miko.
“Ck, ada-ada saja! Pantas aku hubungi enggak di jawab. Buang-buang waktu saja! Terlanjur bangun nanti dia.”
“Sabar, Mir. Evan pasti enggak lama, kok!”
“Ya sudah, jaga itu tawanan betul-betul!”
“Iya, kau tenang saja!”
Miranda pun mengakhiri pembicaraan mereka.
Miko pun menoleh ke jok belakang dan memastikan keadaan Ammar. “Aman, dia masih pingsan.”
Lelaki yang sedikit gemulai itu kembali memperbaiki posisi duduknya lalu fokus pada ponselnya.
Ammar membuka matanya, lalu dengan gerakan yang pelan dia bangkit dan langsung memiting leher Miko dari belakang dengan posisi siku tepat berada di depan leher lelaki itu. Ammar melakukan kuncian blood choke dalam beberapa detik dan berhasil membuat Miko pingsan tanpa perlawanan yang berarti.
Melihat kunci mobilnya masih tergantung, Ammar tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dia segera berpindah ke kursi depan dan membuka pintu sebelah kiri lalu menendang Miko keluar dari mobilnya.
Miranda yang berada di belakang mobil Ammar terkejut melihat Miko terpental keluar, dan tak lama kemudian mobil Range Rover hitam itu melaju pergi meninggalkan rest area.
“Sialan! Dia melarikan diri! Aku enggak boleh membiarkan dia kabur!” Miranda pun tancap gas menyusul mobil Ammar.
Evan yang baru selesai buang hajat kaget saat melihat kedua mobil itu melesat pergi dan Miko sudah terkapar tak sadarkan diri.
“Miko ...!” Evan sontak berlari menghampiri kekasihnya itu. “Kamu kenapa, sayang?”
“Tolong!” Teriak Evan panik dan memancing perhatian beberapa orang yang ada di tempat itu.
__ADS_1
☘️☘️☘️