
Pagi ini Jihan tak sempat sarapan, sebab dia tengah terburu-buru karena kesiangan, bahkan dia hampir saja melewatkan Shalat subuh. Sebelumnya Jihan tak pernah begini, entah mengapa tidurnya terlalu nyenyak semalam, sampai tak mendengar suara azan.
Jihan bergegas melangkah menuju pintu keluar, Ammar yang baru turun pun segera memanggilnya.
“Jihan!”
Jihan berhenti dan berbalik memandang Ammar yang kini berjalan ke arahnya dengan langkah yang lebar.
“Iya, Mas?”
“Mau ke mana?”Tanya Ammar.
“Mau bekerja, Mas.”
“Memangnya kamu sudah sehat?”Ammar memastikan.
“Sudah, Mas. Badanku sudah enakkan, kok.” Jawab Jihan.
“Kalau begitu kenapa enggak menunggu aku? Kenapa kamu mau pergi sendiri?” Tanya Ammar lagi.
Jihan tercengang mendengar pertanyaan suaminya itu. “Tapi kan setiap hari aku memang pergi sendiri, Mas?”
“Kamu enggak dengar apa yang dikatakan Mama dan Papa kemarin? Mulai sekarang kamu pergi dan pulang kerja bareng aku. Aku akan antar jemput kamu!” Sahut Ammar lugas.
Jihan termangu, dia tak menyangka Ammar akan menuruti perintah Yusuf serta Anita. Dan yang membuat Jihan semakin heran karena Ammar memanggil ‘kamu’ kepadanya. Bukankah semalam suaminya itu masih menggunakan ‘kau’saat memanggil dirinya? Sungguh Jihan bingung melihat perubahan Ammar yang mendadak ini.
“Jihan? Kenapa melamun?” Ammar melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Jihan, membuat wanita ayu itu tersentak dan lamunannya seketika buyar.
“Eh, maaf, Mas.” Jihan sontak tertunduk malu. “Aku pikir Mas enggak mau pergi bareng aku.”
__ADS_1
“Kamu suudzon sama aku. Ya sudah, yuk berangkat!”
“Iya, Mas.”
Ammar dan Jihan pun berjalan keluar rumah secara bersamaan. Ammar lalu membukakan pintu dan mempersilakan Jihan masuk, kemudian memutari mobilnya dan ikut masuk. Mang Jaja terperangah menyaksikan perlakuan manis Ammar tersebut.
Tak lama kemudian mobil Ammar melaju pergi meninggalkan kediamannya setelah menegur Mang Jaja.
“Alhamdulillah, Den Ammar sudah mulai akur dengan Neng Jihan. Jadi adem lihatnya.” Celoteh Mang Jaja sambil memandang kepergian sepasang suami istri itu.
Di perjalanan, Jihan hanya tertunduk diam, dia bingung harus bicara apa. Ammar yang melihat istrinya itu bergeming, mencoba memecah keheningan.
“Kamu masuk kerja pukul berapa?”
Jihan mengangkat kepalanya dan memandang Ammar. “Pukul delapan, Mas.”
Lagi-lagi Jihan merasa tertegun dengan ucapan Ammar. “Tapi aku takut telat, Mas. Ini saja sudah kesiangan, entar enggak sempat.”
“Iya, memang enggak sempat kalau kita berhenti lama.”
Jihan mengernyitkan keningnya. “Terus bagaimana makannya kalau enggak berhenti?”
“Nanti kamu juga tahu.” Ujar Ammar yang kemudian membelokkan kemudinya dan berhenti di depan warung penjual sarapan.
“Mas ....?”
“Sudah! Kamu tunggu di sini!” Pinta Ammar dan bergegas turun dari mobilnya lalu masuk ke dalam warung itu.
Sepuluh menit kemudian, Ammar kembali dengan membawa sebuah bungkusan.
__ADS_1
“Ini aku sudah beli sarapannya. Makan, yuk?” Ammar menyodorkan bungkusan yang dia bawa kepada Jihan.
“Kita makan di mobil, Mas?”
Ammar mengangguk.
Jihan membongkar bungkusan itu dan kaget karena hanya ada satu porsi nasi uduk dan sebotol air mineral.
Jihan menatapa Ammar.“Kenapa cuma satu?”
“Satu tapi porsinya jumbo. Jadi cukup untuk kita berdua.” Sahut Ammar tanpa memandang Jihan, dia tengah fokus lanjut mengemudi.
“Tapi bagaimana Mas bisa makan? Kan Mas lagi mengemudi?” Jihan sungguh kebingungan.
“Kan ada kamu yang bisa suap aku.” Jawab Ammar enteng.
Wajah Jihan mendadak panas dan merah, sungguh dia tak menyangka Ammar mempunyai ide seperti ini.
“Mau suap atau enggak ini?” Tegur Ammar sebab Jihan hanya bergeming
“Iya, Mas. Aku suap.”
Jihan pun menyendok nasi gurih itu dan menyuapkannya ke mulut Ammar, lalu kemudian juga ikut makan. Sarapan sederhana itu terasa sangat spesial untuk Jihan, sungguh dia tak akan melupakan hari ini.
“Ternyata makan dari tangan kamu jauh lebih nikmat, ya? Besok-besok kalau makan, aku mau kamu suapi saja.” Seloroh Ammar dengan mulut yang penuh.
Jihan hanya tertawa mendengar ucapan Ammar, dia pun ikut makan dengan perasaan haru.
☘️☘️☘️
__ADS_1