
Yusuf dan keluarganya kembali datang ke rumah Arif, sebab sejak tadi Ammar terus saja mendesak untuk menanyakan jawaban Jihan atas permintaan rujuknya. Ammar uring-uringan dan gelisah, pemuda tersebut sungguh tidak bisa terima jika wanita yang dia cintai dan dia cari-cari selama ini akan menikah dengan orang lain.
Namun kedatangan mereka bertepatan dengan Jihan dan Salma yang pergi ke tukang urut, sebab Salma mengeluh badannya sakit pasca kecelakaan itu, jadi di rumah hanya ada Arif seorang.
“Jihan kan belum menjawab permintaan Ammar, jadi kami ingin memastikan saja, biar semuanya jelas.” Ujar Yusuf setelah menyampaikan niat dan tujuan dia datang ke sini.
“Iya, Abi. Aku berharap Jihan mau membatalkan rencana pernikahannya dan kembali kepadaku.” Sela Ammar tak sabar.
Arif mengembuskan napas berat, wajah teduhnya terlihat sendu. Dia tak sampai hati menyampaikan keputusan yang sudah Jihan ambil kepada Ammar dan keluarganya, namun mau tak mau dia harus melakukannya.
“Jadi begini, Suf. Sebelumnya aku minta maaf karena mungkin ini membuat kalian kecewa.”
Ammar dan kedua orang tuanya bergeming dengan perasaan tidak enak.
“Jihan sudah memutuskan untuk tetap melanjutkan rencana pernikahannya dengan Nak Radit dan menolak permintaan rujuk Nak Ammar.” Lanjut Arif tak enak hati.
Yusuf dan keluarganya terhenyak mendengar keputusan menyakitkan tersebut.
“Enggak, ini enggak mungkin! Jihan enggak boleh menikah dengan orang lain! Aku enggak izin!” Ujar Ammar tak terima.
“Ammar, tenanglah, Nak!" Anita mengusap punggung belakang Ammar untuk menenangkan sang putra.
“Bagaimana aku bisa tenang kalau orang yang aku cintai akan menikah dengan orang lain, Ma?” Adu Ammar dengan mata berkaca-kaca.
Anita hanya mampu terdiam, cairan bening bahkan sudah merembes keluar dari pelupuk matanya.
“Nak Ammar, saya sungguh minta maaf.” Ucap Arif.
“Abi, aku mohon batalkan pernikahan Jihan! Jangan biarkan Jihan menikah dengan orang lain! Aku mohon, Abi.” Ammar memohon.
“Iya, Rif. Apa enggak bisa dibicarakan lagi? Apa Jihan sudah memikirkannya matang-matang?” Yusuf memastikan.
“Insha Allah Jihan sudah memikirkan keputusan ini matang-matang dan yakin dengan pilihannya.” Jawab Arif.
Ammar menggeleng. “Enggak! Aku yakin Jihan pasti terpaksa mengambil keputusan ini karena Ummi menentang dan marah padaku.”
“Mas, salah!” Sanggah Jihan yang tiba-tiba muncul bersama Salma.
“Jihan?”Ammar dan semua orang terkejut.
__ADS_1
“Aku mengambil keputusan ini karena Allah. Dia sudah memantapkan hatiku untuk memilih Mas Radit, bukan karena Ummi atau siapa pun.” Lanjut Jihan, sementara Salma hanya membisu dengan wajah kesal.
“Jihan, aku mencintaimu. Aku ingin kita bersama lagi, memulai lembaran baru dan hidup bahagia. Tolong batalkan pernikahan kamu dan rujuk lah denganku!” Lagi-lagi Ammar memohon.
“Maaf, aku enggak bisa, Mas. Sebaiknya sekarang Mas urus perceraian kita, dan mulailah hidup yang baru! Kita memang ditakdirkan untuk enggak berjodoh, Mas.” Tolak Jihan tegas dan segera berlari masuk ke dalam kamar.
“Jihan!” Pekik Ammar.
“Sudahlah, Nak. Jangan dipaksakan, Jihan sudah mengambil keputusannya jadi kita harus terima.” Yusuf memegangi pundak Ammar.
“Enggak, Pa! Aku enggak bisa terima begitu saja! Aku enggak izin Jihan menikah dengan orang lain dan sampai kapanpun aku enggak akan menceraikan dia!” Kecam Ammar kemudian berlalu pergi dengan perasaan hancur.
“Ammar!” Teriak Yusuf, tapi Ammar tak peduli.
Anita pun segera menyusul sang putra keluar.
Yusuf beralih menatap Arif dengan segan. “Maafkan sikap Ammar, Rif.”
“Tidak apa-apa, Suf. Bicaralah pada Ammar, dan tenangkan dia!” Balas Arif.
“Iya, Rif. Kalau begitu kami permisi dulu, assalamualaikum.”
Yusuf buru-buru mengejar anak dan istrinya tersebut.
Di dalam kamar, Jihan duduk di tepi ranjang dan menangis, sejujurnya dia merasa sakit saat menyampaikan keputusannya tadi pada Ammar, dia juga patah hati dan sedih, namun ia harus tegas agar mantan suaminya itu melepaskan dirinya.
Salma duduk di samping Jihan dan menyentuh pundak sang putri. “Kamu baik-baik saja, Nak?”
Jihan mengusap air matanya dan mencoba tersenyum. “Iya, aku baik-baik saja, Ummi.”
“Semoga saja Ammar dan keluarganya mau menerima keputusan ini dengan lapang dada dan segera mengurus perceraian kalian.” Ucap Salma penuh harap.
Jihan hanya mengangguk sambil tersenyum, dia berusaha mati-matian menahan air matanya agar tidak jatuh di hadapan sang ibu.
☘️☘️☘️
Ammar membuka pintu kamar hotel dengan kasar dan berjalan masuk dengan langkah yang lebar lalu membanting dirinya di atas sofa. Yusuf dan Anita mengikuti langkah sang putra dengan perasaan cemas bercampur iba.
Dengan hati-hati Anita duduk di samping Ammar yang sedang bersandar sembari memejamkan matanya. Bulu-bulu mata Ammar tampak basah, bukti jika dia baru saja menangis.
__ADS_1
“Sudahlah, Nak. Mungkin Jihan memang bukan jodohmu. Mama yakin Allah sudah persiapkan seseorang yang jauh lebih baik untukmu.” Ucap Anita seraya mengusap pundak Ammar.
Ammar seketika membuka matanya dan memandang Anita. “Tapi aku maunya Jihan, Ma. Aku mencintai dia, aku ingin hidup bersamanya. Kenapa Allah memisahkan kami?”
“Nak, perpisahan itu Allah berikan, agar kau tahu, masih banyak hal yang harus kau tempuh. Masih banyak kesalahan yang mesti kau rubah serta perbaiki, dan Allah juga ingin menunjukkan jika yang kau harapkan bukan yang terbaik untukmu.” Ucap Anita kemudian.
“Tapi kenapa harus dengan cara yang menyakitkan seperti ini? Padahal aku baru saja ingin mengubah dan memperbaiki semuanya. Kenapa ini yang terjadi?” Ammar mulai terisak.
“Mungkin cara Allah menegur mu memang menyakitkan. Tapi jika enggak begini, kau enggak akan pernah sadar jika sudah salah dalam melangkah. Anggap Allah sedang membentukmu agar menjadi sosok yang lebih dewasa dan bijaksana dalam bertindak. Jangan gegabah lagi, karena penyesalan itu akan datang terlambat.” Yusuf menimpali ucapan sang istri dan mencoba menasihati putranya itu.
“Aku benar-benar menyesali semuanya, andai aku enggak bertindak bodoh, pasti semuanya enggak akan seperti ini.” Sesal Ammar.
“Percayalah! Rencana Allah pasti lebih baik dari rencana mu. Cobalah bersabar dan ikhlas, karena semua itu akan Allah ganti dengan suatu kebaikan.” Pungkas Yusuf dengan nada meyakinkan.
“Iya, sayang. Mama juga kecewa atas keputusan Jihan, tapi Mama yakin Allah punya rencana yang lebih baik untukmu. Jadi Mama mohon ikhlaskan Jihan, karena semakin kau mengikhlaskan maka akan semakin tenang hatimu. Cobalah memasrahkan kehendak, bukan memaksakan kehendak-Nya.” Sambung Anita sembari mengusap air matanya.
Ammar tertunduk diam, berusaha mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut kedua orang tuanya. Karena rasanya sangat sulit untuk rela dan ikhlas melepas wanita yang dia cintai sejak SMA itu.
“Tolong tinggalkan aku!” Pinta Ammar pelan.
Yusuf dan Anita hanya saling pandang, namun tetap tak bergerak dari tempatnya.
“Nak, kau enggak akan melakukan sesuatu yang berbahaya, kan?” Anita memastikan sebab merasa khawatir.
“Aku ingin sendiri, Ma.”
“Baiklah, kami tinggal. Tapi Mama mohon jangan nekat melakukan hal yang bisa merugikan mu.”
Yusuf mengingatkan dengan tegas.
Ammar mengangguk lemah tanpa membalas ucapan sang papa.
Kedua pasangan suami istri itu pun akhirnya beranjak dan meninggalkan Ammar sendiri di kamarnya.
Ammar kembali memejamkan matanya, mencoba menikmati rasa sakit dan kecewa yang begitu menusuk hingga ke dalam relung hati yang paling dalam lalu, berbaur dengan rasa sesal yang membuat perasaannya remuk redam.
Semakin Ammar berusaha merelakan, semakin hatinya kian terasa sakit.
“Aku sangat mencintaimu. Aku sudah berjanji akan menjaga dan melindungimu, tapi kenapa kau enggak memberiku kesempatan untuk menepatinya?” Ucap Ammar lirih, tetes demi tetes cairan bening kembali jatuh dari matanya yang terpejam.
__ADS_1
☘️☘️☘️