
Setelah memastikan kondisi Yusuf, dokter pun mengizinkannya pulang dan beristirahat di rumah, meskipun dia belum boleh beraktivitas seperti biasa. Sebenarnya dokter meminta Yusuf untuk tetap di rumah sakit dua atau tiga hari lagi, tapi lelaki itu bersikeras ingin pulang.
Anita memapah Yusuf berjalan masuk ke dalam rumah lalu membantunya duduk di sofa dan memastikan posisi suaminya itu nyaman.
“Ma, Papa harus bertemu dengan Arif. Papa harus membicarakan masalah ini kepadanya, Papa merasa malu dengan sikap Ammar.” Ujar Yusuf.
“Iya, nanti kita akan menemui Mas Arif dan Salma, tapi setelah Papa sehat dulu.” Balas Anita.
“Papa sudah sehat, kok. Kalau disuruh lari, Papa juga sudah bisa.”
Anita hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
“Ammar tahu Papa sudah keluar dari rumah sakit?” Tanya Yusuf.
“Tahu. Katanya pulang dari kantor, dia mampir ke sini.” Jawab Anita.
“Mau ngapain? Papa malas bertemu dia, bikin naik darah!” Seru Yusuf kesal.
“Pa, Ammar mungkin bersalah, tapi sebagai orang tua kita enggak bisa mengabaikan dia begitu saja. Kita berkewajiban untuk terus membimbingnya, jangan sampai dia semakin terpuruk dalam kesalahan. Apalagi Ammar masih labil dan emosinya enggak stabil, Mama takut dia berbuat macam-macam dan ujung-ujungnya kita juga yang menyesal.”
“Jadi Papa harus sabar. Kita bicarakan semua ini baik-baik, dengan kepala dingin. Insya Allah ada penyelesaiannya.” Lanjut Anita.
Yusuf bergeming, dia tak membalas perkataan sang istri.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Sahut Yusuf dan Anita bersamaan sembari menoleh ke arah pintu masuk.
“Eh, kalian? Mari masuk!” Anita beranjak ketika melihat Jihan, Arif dan Salma berdiri diambang pintu.
“Wah, kau seperti punya indera keenam. Tahu saja kalau aku ingin bertemu denganmu.” Seloroh Yusuf.
“Kau sudah sembuh ternyata, buktinya sudah bisa bercanda.” Kelakar Arif.
Yusuf mengerutkan keningnya. “Kau tahu kalau aku sakit?”
Arif mengangguk. “Dan aku bisa menebak jika kau pasti enggak akan betah berlama-lama di rumah sakit, makanya aku langsung datang ke sini, karena aku tahu kau pasti sudah pulang.”
“Kau sudah hafal tabiatku rupanya.” Balas Yusuf sambil tertawa.
Jihan, Salma dan Anita hanya tersenyum melihat interaksi dua sahabat itu.
“Omong-omong, kau belum jawab, dari mana kau tahu jika aku sakit? Aku kan belum memberi kabar?”
“Beberapa hari yang lalu Jihan ....”
Kata-kata Arif terpotong.
“Selamat siang!” Tiba-tiba seseorang menyapa dari luar rumah, membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Siapa yang datang?" Tanya Anita penasaran.
Tanpa permisi, Miranda yang berpakaian minim dan seksi menyelonong masuk.
__ADS_1
“Kau ...?”
Jihan, Anita dan Yusuf terkesiap melihat kemunculannya. Sedangkan Arif dan Salma tampak bingung karena tak mengenal siapa dia.
“Maaf kalau aku mengganggu.” Ujar Miranda dengan suara yang lembut.
“Mau apa kau ke sini?” Cecar Yusuf tidak suka.
“Ada yang mau aku sampaikan, ini tentang Ammar.”
“Apa? Cepat katakan! Lalu segera pergi dari sini!” Pinta Yusuf angkuh, membuat Miranda kesal tapi dia berusaha untuk tetap tenang.
Jihan bergeming seraya berulang kali menelan ludah, dia resah sebab takut Ummi serta Abi nya tahu siapa Miranda dan apa yang telah terjadi sebenarnya.
“Aku ke sini hanya ingin mengatakan jika saat ini aku sedang hamil anaknya Ammar.” Ungkap Miranda tanpa basa-basi sembari mengelus perutnya.
“Astaghfirullahalladzim!” Pekik Salma, Arif, Yusuf dan Anita bersamaan.
“Kau jangan bicara macam-macam!” Bentak Yusuf yang kini menatap tajam Miranda.
“Pa, tenanglah. Papa belum pulih.” Anita mengusap dada suaminya itu.
“Aku serius, Om. Ini anak Ammar, cucu Om dan Tante.” Imbuh Miranda tanpa malu.
“Apa-apaan ini, Suf? Bagaimana bisa Ammar berbuat sejauh itu?” Sela Arif tak terima.
“Rif, ini pasti salah paham.”
Yusuf berusaha menyangkalnya.
Arif dan Salma tercengang, tak menyangka kenyataan ini yang mereka dapatkan. Sementara Jihan hanya tertunduk, dia pasrah dan tak tahu harus melakukan apa.
“Tutup mulutmu! Jangan bicara yang enggak-enggak!” Hardik Yusuf lagi.
“Aku bicara yang sebenarnya, Ammar bahkan berjanji akan menyingkirkan Jihan dari hidupnya jika ATM dan kartu kreditnya sudah Om kembalikan.”
“Dia juga memperlakukan Jihan dengan sangat buruk. Kalau Om dan Tante enggak percaya, silakan tanya sendiri ke Jihan.” Sambung Miranda.
Semua menatap Jihan yang kini sudah berlinang air mata, perbuatan buruk suaminya yang selama ini dia simpan dan tutupi ternyata harus terkuak sekarang.
“Benar itu, Nak? Apa Ammar memperlakukanmu dengan buruk?” Tanya Salma.
Jihan tetap bergeming dengan air mata yang jatuh menetes.
“Bicaralah, sayang. Jangan tutupi apa pun dari kami.” Pinta Anita.
“Iya, di awal pernikahan Mas Ammar ....” Jihan menjeda ucapannya, dia ragu untuk membeberkan perlakuan buruk suaminya itu.
“Jihan, bicaralah!” Desak Salma.
“Dia memang bersikap kasar padaku, tapi belakangan ini sikapnya berubah. Dia enggak kasar lagi, dia bahkan baik sekali.”
Jihan melanjutkan kata-katanya dan buru-buru membela Ammar agar orang tua dan mertuanya tidak marah.
__ADS_1
“Dia hanya berpura-pura baik padamu!” Cibir Miranda.
“Hee, diam! Pergi kau dari sini!” Yusuf kembali membentak bahkan mengusir Miranda.
“Om tega mengusir aku dan juga calon cucu kalian?” Ucap Miranda berpura-pura sedih.
“Aku bilang pergi atau aku akan memanggil sekuriti untuk menyeret mu keluar dari sini!” Ancam Yusuf tanpa menggubris ocehan Miranda.
Miranda bergegas pergi dengan perasaan puas dan senang karena berhasil mengacaukan segalanya dan membuat hubungan Ammar dengan semua orang berantakan.
Setelah kepergian Miranda, Arif memandang Yusuf dengan kecewa. “Suf, jadi Ammar menikahi Jihan karena paksaan darimu?”
Yusuf terdiam, dia merasa menyesal dan bersalah.
“Suf, katakan yang sebenarnya!”Pinta Arif.
“Maafkan aku, Rif. Aku terpaksa melakukan itu agar dia mau menikah dengan Jihan dan meninggalkan wanita itu. Tapi aku enggak sangka Ammar akan berbuat begini. Aku sungguh minta maaf.”
Sesal Yusuf.
Arif mengembuskan napas berat. “Harusnya kamu jangan memaksanya.”
“Aku hanya ingin Ammar mendapatkan istri yang baik seperti Jihan, agar bisa menuntunnya kembali ke jalan yang benar.”Terang Yusuf.
“Tapi saya enggak terima! Sebagai seorang Ibu, saya kecewa sekali putri saya diperlakukan seperti ini. Kami membesarkannya dengan penuh kasih sayang, tapi anak kalian malah menyakitinya. Dia yang berselingkuh tapi malah menuduh Jihan yang melakukan perbuatan laknat itu.” Salma menyela tiba-tiba dengan mata berkaca-kaca.
“Ummi, jangan begitu!” Tegur Arif.
“Salma, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.” Ucap Anita penuh sesal.
“Sudahlah, sebaiknya kita pergi dari sini. Ayo, Nak!” Salma menarik Jihan keluar dari rumah Yusuf.
“Ummi!” Seru Jihan, namun tetap mengikuti langkah sang Ummi.
“Astaghfirullahalladzim, Ummi.” Arif terkejut melihat sikap tak sopan sang istri.
Yusuf dan Anita hanya memandangi kepergian ibu dan anak itu dengan perasaan sedih dan penuh penyesalan.
“Maafkan sikap Salma.” Arif merasa tak enak hati.“Kalau begitu saya permisi dulu. Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam ....” Balas Yusuf dan Anita.
Arif pun bergegas menyusul anak dan istrinya pergi dari rumah orang tua Ammar itu.
Yusuf pun terduduk lemas di sofa sambil memegangi dadanya yang sedikit nyeri.
“Papa baik-baik saja?” Anita panik dan cemas.
Yusuf mengangguk.
“Tenangkan diri, Papa. Ingat kesehatan.” Anita mengelus dada sang suami untuk menenangkannya.
Yusuf hanya menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya, begitu seterusnya sampai dadanya yang sesak mulai terasa lega.
__ADS_1
☘️☘️☘️