Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 44.


__ADS_3

Jihan beserta Arif dan Salma tiba di rumah mereka, selama di perjalanan, ketiganya hanya diam dengan pikiran masing-masing, sebab tak enak jika membahas masalah ini di hadapan si sopir taksi.


“Jihan, Ummi mau bicara sama kamu!” Ujar Salma sembari duduk di atas sofa usang mereka.


Jihan pun bersimpuh tepat di depan sang Ummi dengan kepala tertunduk. “Iya, Ummi.”


“Sekarang kamu jawab jujur, apa selama ini kamu tahu jika Ammar masih berhubungan dengan kekasihnya?” Tanya Salma.


Jihan bergeming, dia takut untuk mengatakan yang sebenarnya tapi dia juga tak ingin berbohong.


“Jihan! Jawab Ummi!”


“Ummi, tenanglah!” Arif mencoba menenangkan istrinya itu.


“Ummi ingin tahu, Abi!”


Sungut Salma.


“Iya, tapi jangan seperti ini. Kita bisa bicara pelan-pelan.” Lanjut Arif.


Salma kembali menatap Jihan yang masih tertunduk membisu. “Nak, kalau kamu diam begini, itu berarti benar selama ini kamu tahu jika Ammar masih menjalin hubungan dengan kekasihnya. Iya, kan?”


Jihan mengangguk lemah dengan air mata yang jatuh menetes.


“Subhanallah!” Ucap Arif dan Salma bersamaan.


“Sejak kapan kamu tahu, Nak?” Arif bertanya dengan lembut.


“Sejak pertama kali aku menginjakkan kaki ke rumah itu, Abi. Mas Ammar yang mengatakannya sendiri, bahwa dia memiliki kekasih dan sejujurnya enggak menginginkan pernikahan kami.” Jawab Jihan masih dengan kepala yang tertunduk. Air matanya semakin deras mengalir.


“Ya, Allah, Nak! Berarti saat itu tebakan Ummi benar jika Ammar melakukan kesalahan, makanya kamu bertanya begitu?” Salma memastikan.


Jihan mengangguk pelan. “Iya, Ummi.”


Arif mengembuskan napas panjang, dia sungguh tak pernah menduga jika kehidupan rumah tangga putrinya sangat menyedihkan.


“Mengapa kamu enggak pernah mengatakan semua ini kepada kami, Nak?” Cecar Salma.

__ADS_1


“Aku hanya enggak ingin membuka aib suamiku, Ummi.” Sahut Jihan.


“Ummi, Jihan enggak salah. Sebagai seorang istri dia hanya berusaha menutupi keburukan suaminya dari orang lain.” Sela Arif.


“Tapi ini sudah keterlaluan! Ummi kecewa sekali.” Balas Salma.


“Maafkan aku, Ummi. Aku enggak ingin membuat beban pikiran untuk Ummi dan Abi serta mertuaku, makanya aku simpan sendiri. Lagi pula aku yakin, suatu saat Allah akan menyadarkan Mas Ammar dan mengubah hatinya. Insya Allah rasa sabar dan ikhlas ku digantikan dengan kebahagiaan.”


“Masya Allah, Nak. Hatimu begitu mulia, kamu begitu tabah menghadapinya.” Arif mengusap pucuk kepala Jihan.


“Tapi tetap saja Ummi enggak bisa terima anak Ummi satu-satunya diperlakukan seperti ini! Ummi kecewa sekali kepada Ammar, Ummi enggak menyangka dia melakukan hal seburuk itu. Tahu begini, Ummi enggak izinkan kamu menikah dengan dia! Ummi menyesal!”


“Astagfirullah, Ummi! Semua sudah terjadi! Jangan menyesali takdir dari Allah, Dia pasti tahu yang terbaik. Sebagai hambanya, kita hendaknya selalu sabar dan ikhlas.”


“Tapi Ummi sakit hati, Abi!”


“Istighfar, Ummi! Jangan biarkan rasa sakit merusak kebaikan hati Ummi.”


“Astaghfirullahalladzim!” Seru Salma sambil mengelus dadanya yang tertutup hijab.


Salma mengangguk dengan wajah yang sedikit masam, lalu melangkah ke dalam kamar. Sementara Jihan masih tertunduk sembari mengusap tetesan air matanya di pipi.


“Jihan, tetap jadikan sabar dan ikhlas sebagai pegangan hidupmu, tambahkan juga rasa syukur agar apa pun yang terjadi dan yang kamu hadapi enggak menjadi beban di hatimu. Jangan risau kan perihal takdir, sebab selembar daun pun sudah Allah tentukan akan jatuh kapan dan di mana.” Arif menasihati putri semata wayangnya itu.


“Iya, Abi.”


“Ya sudah, sekarang bersiaplah! Kita akan kembali ke Surabaya.”


Jihan mengangguk dan beranjak pergi dari hadapan sang ayah.


Arif kembali mengembuskan napas, sejujurnya dia juga kecewa kepada Ammar, tapi dia berusaha bersikap bijak dan tenang agar tak memperkeruh suasana. Dan dia juga dapat memahami perasaan Salma, ibu mana yang tak sakit hati jika anak yang dia lahir kan dengan bertaruh nyawa malah disakiti oleh orang lain. Namun dia tak ingin istrinya itu terlarut dalam emosi dan amarah yang berlebihan.


☘️☘️☘️


Sepulang dari kantor, Ammar mampir ke rumah Yusuf seperti janjinya pada sang Mama. Ammar melangkah masuk, tampak Yusuf sedang duduk bersama Anita di ruang keluarga.


“Ma, Pa,”Tegur Ammar.

__ADS_1


Yusuf sontak beranjak dari duduknya saat melihat Ammar, dia menatap tajam putranya itu sembari berjalan mendekatinya.


Buuughh ....


Satu pukulan keras mendarat di wajah Ammar, membuat pria itu sampai terhuyung ke belakang. Tapi rupanya Yusuf belum puas, dia kembali memukul Ammar dengan membabi-buta untuk melampiaskan rasa marah dan malu yang menyelimutinya. Meskipun sedang tidak sehat, tapi Yusuf masih mampu melayangkan bogem mentah ke wajah putranya itu berkali-kali. Ammar terkesiap dengan serangan mendadak sang papa.


“Papa, sudah! Cukup!” Anita berusaha menarik Yusuf agar menjauh dari Ammar.


Lelaki paruh baya itu pun berhenti memukuli Ammar yang sudah terduduk di lantai, napasnya tersengal-sengal dengan mata yang merah dan tajam. Adegan pemukulan itu disaksikan juga oleh Satpam dan asisten rumah tangga, tapi mereka tak berani ikut campur.


“Kenapa Papa memukulku?” Tanya Ammar sembari mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


“Kau selalu saja membuat masalah? Mau sampai kapan kau terus bertingkah seperti manusia tak bermoral, haa?” Hardik Yusuf dengan suara yang tinggi.


“Papa, tenang! Ingat, Papa sedang sakit.” Anita berusaha menenangkan suaminya itu.


“Ada apa lagi ini?” Ammar memandang Yusuf dan Anita bergantian demi meminta penjelasan.


“Jangan berpura-pura bodoh! Kau pasti tahu apa yang sudah kau lakukan. Buat malu keluarga saja!” Bentak Yusuf, kemudian berlalu pergi meninggalkan ruang keluarga.


“Pa, sungguh aku enggak mengerti maksud Papa. Bagaimana aku bisa tahu kalau Papa enggak mengatakannya.” Teriak Ammar saat melihat Yusuf pergi, tapi lelaki paruh baya itu tak menggubrisnya.


Ammar beralih menatap Anita yang masih terpaku dengan wajah sendu, matanya digenangi cairan bening yang siap menetes.


“Ma, sebenarnya ada apa? Kenapa Papa memukulku?”


Tangan Anita yang gemetar mengusap sudut bibir Ammar yang berdarah dan air matanya pun jatuh.


“Mama akan ceritakan apa yang terjadi, tapi sebelumnya obati dulu luka di bibirmu.” Anita bergegas mengambil kotak P3K.


“Ma, bibirku enggak apa-apa. Aku enggak butuh obat, aku hanya butuh penjelasan.”


“Sudah kau diam saja! Mama akan obati.”


Anita menarik Ammar duduk di sebelahnya lalu membongkar kotak putih berisi obat-obatan itu kemudian mengambil sebuah salep dan mengoleskannya ke luka di bibir Ammar, membuat lelaki berhidung mancung itu meringis karena merasa perih.


☘️☘️☘️

__ADS_1


__ADS_2