
Jihan kembali ke dapur dan menangis tersedu-sedu, Aisyah yang melihatnya langsung menghampiri sang keponakan.
“Ada apa Jihan? Kenapa kamu menangis?” Tanya Aisyah heran.
“Mas Ammar ....” Jihan kembali terisak-isak.
“Dia kenapa?”
“Dia membatalkan perceraian kami dan ingin mengajakku rujuk.” Jawab Jihan dengan suara bergetar.
Aisyah terkesiap.“Ya Allah! Tapi bukannya dia sudah punya kekasih dan sedang hamil?”
Jihan menggeleng. “Kekasihnya itu seorang laki-laki, dan dia sudah membohongi semua orang termasuk Mas ammar.”
Aisyah semakin bingung. “Maksud kamu kekasih Ammar itu banci?”
Jihan mengangguk.
“Astaghfirullah! Kamu serius, Jihan?”
Jihan kembali mengangguk. “Iya, Bule. Dia teman sekolah kami yang ingin balas dendam dengan Mas Ammar karena dulu pernah mem-bullynya, dia sengaja memanfaatkan keadaan Mas Ammar yang hilang ingatan. Dia juga penyebab semua kesalahpahaman di antara kami.”
“Lalu sekarang bagaimana?”
“Aku juga enggak tahu, Bule. Aku bingung harus bagaimana?” Jihan kembali menangis, dia tak pernah menyangka kenyataan mengejutkan ini harus datang menjelang hari pernikahannya dengan Radit.
“Sekarang Ammar mana?”
“Sudah aku usir, Mak.” Sela Asep yang tiba-tiba muncul sembari membawa mangkuk-mangkuk kotor ke dapur.
Jihan tercenung mendengar jawaban Asep.
“Berarti dia sudah pergi?” Aisyah memastikan lagi.
“Sepertinya begitu.” Sahut Asep.
Aisyah menatap Jihan yang masih sesenggukan. “Sebaiknya sekarang kamu pulang dan ceritakan masalah ini pada Abi dan Ummi kamu, siapa tahu mereka punya solusinya. Biar Bule dan anak-anak yang jaga warungnya.”
“Iya, Bule. Kalau begitu aku pulang dulu.”
“Yuk, aku antar!”Ajak Asep.
Jihan mengangguk, dia mengusap air matanya dan bergegas meninggalkan warung bubur itu.
Asep memacu sepeda motornya setelah Jihan naik, walaupun jarak warung ke rumah Arif tidak terlalu jauh, tapi Asep tak sampai hati membiarkan Jihan berjalan kaki apalagi dalam kondisi sedih seperti ini. Memang dibandingkan Joko, Asep lebih perhatian pada sepupunya itu.
Namun tanpa Jihan dan Asep sadari, Ammar yang sejak tadi menunggu tak jauh dari warung, mengikuti mereka. Ammar tentu tak akan menyerah begitu saja, dia penasaran kenapa Jihan menolak rujuk dengannya. Dia juga sudah menghubungi Anita dan menceritakan semuanya, serta memesankan bubur untuk Yusuf melalui aplikasi online.
***
Jihan tiba di rumah dan segera turun dari motor Asep.
__ADS_1
“Terima kasih, Sep.”
“Sama-sama.”
Mobil Ammar juga tiba di depan rumah sederhana Arif itu, dan dia tak menyangka jika rumah yang tadi malam dia lalui ini adalah tempat tinggal orang yang paling dia cari-cari. Ammar buru-buru turun dan bergegas menghampiri Jihan dan Asep.
“Jihan!” Tegur Ammar.
Jihan sontak berbalik dan terkejut melihat kemunculan lelaki itu.“Mas Ammar?”
Jihan tahu pasti Ammar diam-diam mengikutinya tadi.
“Mau ngapain lagi?” Sergah Asep.
“Aku ingin bicara dengan jihan.” Sahut Ammar.
“Sudah aku bilang Jihan enggak mau bicara denganmu! Mending kau pergi!” Sungut Asep.
“Sep, sudah enggak apa-apa! Sebaiknya sekarang kamu balik ke warung saja!” Jihan menengahi.
Asep melirik sinis Ammar lalu memacu sepeda motornya meninggalkan dua insan itu.
Mendengar ada keributan, Arif dan Salma pun keluar, keduanya juga terkejut melihat keberadaan Ammar.
“Nak Ammar!” Seru Arif.
Ammar dan Jihan menoleh ke arah pasangan suami istri yang berdiri di teras rumah itu.
“Kenapa kamu bisa ada di sini?” Tanya Arif.
“Tadi aku bertemu Jihan di warung, dan aku mengikutinya sampai ke sini.” Jawab Ammar jujur.
Arif dan Salma terkejut, mereka tak menyangka kedua insan itu bisa bertemu dan Ammar akan mengikuti Jihan sampai ke rumah.
Di saat bersamaan sebuah mobil berhenti di depan rumah Arif, tak lama kemudian Yusuf dan Anita pun keluar dari mobil tersebut. Rupanya saat di jalan tadi, Ammar sudah menge-share lokasinya pada sang ayah.
“Jihan! Mama rindu sekali dengan kamu.” Anita sontak memeluk Jihan yang masih terpaku di tempatnya. “Kamu apa kabar, sayang?”
“Alhamdulillah, baik, Ma.” Jihan membalas pelukan Anita dengan canggung.
“Kamu kenapa menghilang begitu saja, Rif? Enggak ada kabar sama sekali, nomormu juga enggak bisa dihubungi. Padahal banyak yang ingin aku bicarakan.” Protes Yusuf.
“Maaf, ponselku hilang.” Sahut Arif. “Kalau begitu silakan masuk, kita mengobrol di dalam saja!”
"Baiklah.”
Ammar dan kedua orang tuanya melangkah masuk ke dalam rumah Arif, Salma yang kesal mau tak mau ikut masuk.
Sementara Jihan hanya bisa pasrah dengan perasaan yang campur aduk, dia sudah berusaha menghindari Ammar, tapi pemuda itu malah mengikutinya sampai ke sini. Dengan terpaksa dia pun masuk menyusul semua orang.
☘️☘️☘️
__ADS_1
“Jadi bagaimana ceritanya kalian bisa berada di Surabaya? Sedang liburan atau lagi ada pekerjaan?” Tanya Arif pada Yusuf saat mereka semua sudah berada di ruang tamu, Arif tidak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Kami sedang menemani Ammar di sini.” Jawab Yusuf.
Arif mengerutkan keningnya. “Maksudnya, Nak Ammar tinggal di sini?”
“Bukan. Jadi begini, Rif. Selama setahun ini, setiap weekend Ammar pasti datang ke Surabaya dan berkeliling untuk mencari Jihan, dan kemarin kami datang agar bisa menemaninya.” Terang Yusuf.
Arif dan Salma tertegun mendengar pengakuan Yusuf itu.
“Kenapa dia masih mencari-cari Jihan? Bukankah mereka sudah berpisah?” Sela Salma sinis.
“Ummi! Kenapa bicaranya seperti itu?” Tegur Arif, dan Salma langsung terdiam dengan wajah masam.
Ammar dan kedua orang tuanya kaget melihat sikap Salma, mereka sadar jika ibunda Jihan itu rupanya masih marah pada Ammar.
“Hem, aku ingin minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan, saat itu aku khilaf dan terbawa emosi. Aku menyesal, Ummi, Abi.” Ucap Ammar penuh penyesalan.
“Baguslah kalau kamu sudah menyesal!” Sahut Salma ketus.
Arif langsung memberikan tatapan peringatan. “Ummi!”
Salma pun kembali terdiam, sementara Jihan yang sudah mendengar semuanya hanya tertunduk membisu. Dia sungguh bingung harus berkata dan berbuat apa.
“Dan aku ke sini juga ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.” Lanjut Ammar tanpa memedulikan sungutan Salma sebab dia maklum mengapa Salma bersikap seperti itu.
Di saat bersamaan Radit datang mengunjungi kediaman Arif.
“Assalamualaikum.” Ucap Radit.
“Wa’alaikumsalam.”
Mata Jihan sontak membulat saat melihat calon suaminya itu.
“Nak, Radit? Mari masuk!” Sambut Salma senang.
Ammar serta kedua orang tuanya pun berbalik dan terkejut melihat Radit sudah berdiri di ambang pintu.
“Pak Radit?” Ujar Yusuf.
“Pak Yusuf! Ammar!” Tegur Radit yang juga terkejut melihat ayah dan anak itu.
☘️☘️☘️
Hai, BESTie...
Aku cuma mau bilang, untuk membuat novel ini aku sudah melalui riset dan mencari tahu dari berbagai sumber. Jadi bukan sekedar ngarang suka-suka hati saja. Demi novel ini aku sampai belajar tentang amnesia, transgender, nikah, talak, rujuk dan yang lainnya.
Aku cuma ingin berbagi pengetahuan saja melalui cerita ini. Jadi aku mohon bagi yang ngerasa tidak suka dengan novel ini, jangan berkomentar yang menyinggung, ya.🙏🏼
Soalnya hati aku gak sekuat baja.🤭
__ADS_1
Semoga kalian masih setia menunggu kelanjutannya.☺️