
Ammar memarkirkan mobilnya di depan rumah sederhana yang ditempati Jihan dan keluarganya, dia buru-buru turun lalu melangkah tergesa-gesa. Ammar pun menggedor pintu kayu itu dengan tidak sabar.
“Jihan! Buka pintunya!” Teriak Ammar, namun tak ada jawaban sama sekali.
Tak putus asa, Ammar kembali berteriak. “Assalammualaikum, Abi, Ummi!”
Tapi lagi-lagi tak ada jawaban, pintu tetap tertutup dan hening.
Di saat bersamaan, seorang bocah laki-laki yang kebetulan sedang melintas mendekati Ammar.
“Orangnya sudah pindah tadi siang, Om!”
Ammar berbalik dan memandang bocah itu dengan kening yang mengerut. “Pindah? Pindah ke mana?”
Bocah laki-laki itu menaikkan kedua bahunya. “Entah! Aku enggak tahu. Aku cuma lihat Tante Jihan dan orang tuanya pergi naik mobil, barang-barangnya dibawa semua.”
“Apa orang-orang di sini tahu mereka pindah ke mana?”
“Enggak tahu. Coba saja Om tanya sendiri.”
Bocah lelaki itu pun berlalu pergi meninggalkan Ammar.
Ammar merogoh sakunya berniat ingin mengambil telepon genggamnya untuk menghubungi Yusuf. Tapi apes, ternyata benda pipih itu tertinggal di rumah sang papa.
“Sial!”Umpat Ammar. “Ponselku ketinggalan lagi!”
Tak ingin menyerah, Ammar mendatangi rumah yang berada di samping rumah Arif.
“Permisi, assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Terdengar suara seorang wanita menyahut dari dalam rumah.
Tak berapa lama, seorang wanita tua berjalan tergopoh-gopoh menuju pintu.
“Kamu ini kan suaminya Jihan? Ada apa, ya?” Tanya wanita tua itu.
Ammar mengangguk. “Maaf, Bu. Saya mau tanya, Ibu tahu enggak Jihan dan keluarganya pindah ke mana?”
__ADS_1
“Oh, kalau enggak salah katanya ke Surabaya.”
“Ibu tahu alamatnya di Surabaya?”
“Aduh, Ibu enggak tahu, Nak. Bu Salma hanya bilang mau pindah ke Surabaya. Tapi kamu kan suaminya, masa enggak tahu? Memangnya Jihan enggak bilang mau pindah ke mana? Aneh sekali? Kalian lagi ada masalah, ya?” Wanita tua itu memberondong pertanyaan sebab merasa penasaran dan ingin tahu.
“Enggak, Bu. Ya sudah, kalau begitu terima kasih. Permisi.” Pungkas Ammar dan bergegas pergi karena tak mau meladeni ocehan wanita itu.
Ammar kembali ke mobilnya, dia benar-benar merasa bingung, dan tak tahu harus melakukan apa?
“Kenapa kamu pindah? Aku harus mencari mu ke mana?”
Tiba-tiba Ammar teringat sesuatu.
“Tunggu! Kalau Jihan pindah sejauh itu, dia pasti mengundurkan diri dari pekerjaannya. Mungkin aku bisa mendapatkan informasi dari sana.”
Ammar bergegas tancap gas menuju gedung Ritz Corporation.
Tak berapa lama, dia pun tiba di perusahaan milik Radit itu, dia buru-buru turun dari mobil dan berjalan masuk dengan langkah yang tergesa-gesa. Waktu sudah menunjukkan jam pulang kantor, para karyawan mulai berjalan keluar gedung dan kebetulan Ammar melihat Tasya yang juga memakai seragam kerja seperti Jihan.
Ammar berlari menghampiri Tasya, membuat wanita itu terperanjat kaget karena seseorang tiba-tiba menghadang langkahnya.
“Kau kenal aku?” Tanya Ammar bingung karena Tasya mengenalnya.
“Ya, kenal lah! Mas Ammar kan suaminya Jihan, aku juga datang loh ke pernikahan kalian. Masa Mas Ammar enggak ingat?”
“Maaf, aku enggak ingat.”
Tentu saja Ammar enggak ingat, karena saat itu dia sama sekali tak memperhatikan siapa saja yang datang atau lebih tepatnya tak peduli dengan para tamu undangan.
Tasya menghela napas lalu ngedumel dalam hati. “Begini amat nasib orang jelek.”
“Oh iya, aku mau tanya sesuatu.”
“Apa, Mas?”
“Jihan ada ke sini?” Tanya Ammar.
__ADS_1
“Ada, Mas. Tadi siang Jihan datang ke sini dan mengundurkan diri. Memangnya kenapa, Mas?" Tasya mulai penasaran.
Ammar termangu, benar tebakannya jika Jihan berhenti dari pekerjaannya.
“Kalau begitu kau tahu enggak Jihan pindah ke mana?”
“Loh, bagaimana bisa Mas enggak tahu? Mas kan suaminya. Aneh sekali! Masa suami enggak tahu istrinya pindah ke mana? Suami macam apa itu?” Cibir Tasya, persis seperti ocehan wanita tua tadi.
Ammar yang merasa kesal, membalasnya dengan penuh penekanan serta tatapan tajam. “Kau tinggal jawab saja, enggak perlu komentar macam-macam!”
“Mas kenapa jadi nyolot, sih? Kalau Jihan saja enggak memberitahu Mas, aku juga enggak akan bilang.” Sungut Tasya yang juga ikut kesal dengan sikap kasar Ammar.
“Itu berarti kau tahu alamatnya? Cepat katakan!” Desak Ammar.
“Enggak, aku enggak akan mengatakannya! Mas cari saja sendiri!” Tasya beranjak pergi, Tapi Ammar buru-buru mencekal dan menarik lengannya.
“Kau mau ke mana? Kau enggak bisa pergi sebelum mengatakannya!” Ujar Ammar dengan nada mengancam.
“Lepaskan! Atau aku akan teriak!”Ancam Tasya sembari memberontak.
“Ada apa ini, Tasya?”Seorang karyawan pria menghampiri Ammar dan Tasya.
Tak lama kemudian beberapa karyawan lain mulai berkumpul memperhatikan mereka dengan raut wajah penasaran.
Melihat orang-orang mulai berkerumun, Ammar pun melepaskan cekalan tangannya di lengan Tasya lalu bergegas meninggalkan gedung Ritz Corporation sebab tak ingin membuat masalah baru.
Ammar segera melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan milik Radit itu, namun baru beberapa meter, dia kembali berhenti di tepi jalan. Ammar benar-benar merasa kesal.
“Berengsek!” Ammar memukul kemudi berulang kali untuk melampiaskan perasaan marahnya.
Ammar menyandarkan punggungnya lalu memejamkan mata sembari menghela napas berat. “Aku harus mencari mu ke mana?”
Rasa bersalah dan penyesalan semakin menghantui hati Ammar, dia tak menyangka semua akan serumit ini.
Ammar membuka matanya yang merah dan rahangnya sontak mengeras. “Ini semua gara-gara Miranda! Dia harus mendapatkan pelajaran yang setimpal.”
Dengan emosi yang meledak-ledak, Ammar kembali memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen Miranda.
__ADS_1
☘️☘️☘️