
Radit sudah menceritakan keputusannya kepada Yuni, sontak membuat sang ibunda kaget dan tak terima.
“Kenapa kamu lakukan itu, Nak? Kenapa kamu ambil keputusan tanpa pikir panjang dan bicara dengan Bunda dulu? Kita kan masih bisa bicarakan hal ini baik-baik.” Protes Yuni.
“Sudahlah, Bun. Semua sudah terjadi, aku hanya bertindak sesuai naluri ku saja.”
“Nak, Jihan itu sudah memilih kamu dan menolak mantan suaminya, masa sekarang kamu malah membatalkan rencana pernikahan kalian cuma karena dia menangisi kepergian mantannya itu. Ini terlalu berlebih, sayang!”
“Bun, ini urusan hati. Walaupun Jihan memilihku, tapi cintanya untuk Ammar. Mereka masih saling mencintai, dan aku enggak mau menjadi penghalang di antara mereka.”
“Oke, mungkin Jihan masih mencintai pemuda itu, tapi dengan dia memilih kamu, itu membuktikan bahwa dia enggak mau balikan lagi dengan mantan suaminya. Berarti kamu bukan penghalang, Nak.” Sanggah Yuni.
“Bun, dia menolak rujuk dengan Ammar karena aku terlanjur mengkhitbah nya. Makanya sekarang aku lepaskan dia, karena aku enggak ingin membatasi pilihan hidupnya.”
“Lagipula aku sadar, mungkin ini cara Allah mengajariku agar lebih sabar dan ikhlas dalam hidup, meskipun sedikit sakit tapi aku harus tegar dan melanjutkan hidupku. Karena aku percaya Allah sudah menyiapkan yang terbaik untukku, dan aku hanya perlu mengikuti alur takdir yang dia tuliskan.” Ujar Radit lalu tersenyum walau tak bisa dipungkiri hatinya perih, namun dia percaya seiring berjalannya waktu, semua akan pulih dan baik-baik saja.
Yuni mengembuskan napas pasrah, dia sudah tak bisa berkata-kata lagi meskipun hatinya belum bisa menerima keputusan sang putra yang begitu mengejutkan dan menyakitkan.
“Ya sudahlah kalau memang ini yang kamu inginkan, Bunda enggak bisa bilang apa-apa lagi. Jujur Bunda kecewa dan sedih sekali, tapi mau gimana lagi? Bunda enggak ada kuasa untuk melawan takdir.” Yuni tertunduk lalu mengusap sudut matanya yang basah.
Radit merangkul pundak sang ibu dengan penuh kasih sayang. “Bunda jangan sedih! Insha Allah setelah ini Allah akan berikan sesuatu yang baik.”
“Aamiin.”
“Kalau begitu aku pamit pulang ke Jakarta, Bunda jaga kesehatan dan baik-baik di sini.” Ucap Radit sambil memeluk tubuh Yuni.
“Iya, kamu juga jaga kesehatan dan sering-sering datang ke sini!”
“Siap, Bun!” Radit melepaskan pelukannya dan mencium punggung tangan sang ibu.
Yuni mengecup pipi dan kening putranya itu dengan haru dan sayang.
__ADS_1
Assalamualaikum, Bun.”
“Wa’alaikumsalam.”
Radit beranjak dan segera masuk ke dalam mobilnya, dia meninggalkan rumah sang bunda dengan sedih. Sejujurnya dia terluka dan patah hati, tapi dia berusaha tetap tersenyum agar terlihat baik-baik saja. Radit ikhlas melepaskan Jihan dan berharap wanita itu bahagia dengan orang lain, karena level tertinggi dari mencintai adalah merelakan.
Setelah Radit pergi, Yuni pun bergegas menghubungi kerabatnya dan menyampaikan perihal pembatalan pernikahan sang buah hati.
☘️☘️☘️
Waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi, Ammar beserta kedua orang tuanya akhirnya tiba di rumah. Sejak Jihan pergi, Ammar memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya, dan membiarkan rumah yang dahulu dia tempati bersama Jihan kosong.
Ammar menghempaskan tubuh lelahnya di sofa lalu bersandar dan memejamkan mata. Hatinya masih galau dan sakit setiap kali mengingat penolakan Jihan dan membayangkan wanita itu bersanding dengan orang lain.
Melihat sang putra yang tampak hancur, Anita dan Yusuf mendekatinya.
“Sayang, kamu mau Mama buatkan sesuatu?” Tanya Anita.
“Mar, Papa tahu ini sulit, tapi cobalah untuk ikhlas menerimanya. Karena ini semua ini sudah ketentuan dari Allah, dan Dia pasti punya rencana lain untuk mu.” Ujar Yusuf.
Ammar membuka mata dan menegakkan badannya, lalu menatap Yusuf dengan mata berkaca-kaca. “Tapi rasanya sakit banget, Pa. Kenapa balasan dari semua perbuatan ku harus seperih ini? Di saat aku berjuang dan berharap Jihan kembali padaku, di saat itu dia justru mematahkan hatiku.”
“Mar, ketika kamu terlalu berharap pada manusia, maka Allah akan limpahkan kepada mu pedihnya sebuah pengharapan. Begitu pun saat kamu mencintai seseorang melebihi cintamu pada-Nya, dia akan menggoreskan luka karena cinta itu. Supaya kamu mengetahui bahwa Allah sedang cemburu.”
“Iya, sayang. Ketika kita kecewa dan terluka karena manusia, maka datanglah kepada Allah dengan doa dan ibadah yang bersungguh-sungguh, maka kau akan merasakan ketenangan dan kasih sayang dari Allah. Cobalah lebih mendekatkan diri kepada-Nya agar lebih taat.” Anita menimpali ucapan sang suami.
Ammar terdiam, mencoba mencerna setiap kata-kata nasihat yang disampaikan papa dan mamanya.
“Suatu saat nanti ada masanya kau memperjuangkan dan diperjuangkan oleh seseorang, maka bersabarlah dan fokus memantaskan diri. Yakin Allah akan memberikan penyempurna agamamu di saat yang tepat.” Ucap Anita.
“Betul yang dikatakan Mama. Bijaklah dalam penantian mu, kelak kau akan takjub, bagaimana Allah mempertemukan mu dengan jodohmu. Maka gunakanlah waktu menunggu dengan hal yang baik dan berserah diri.” Sambung Yusuf.
__ADS_1
Ammar menganggukkan kepalanya dengan lesu, dia sedang tak ingin membantah atau pun membalas nasihat kedua orang tuanya itu.
“Ya sudah, sekarang kamu istirahat, sebentar lagi adzan subuh.” Pinta Yusuf.
“Iya, Pa.” Ammar beranjak dan hendak pergi, tapi dia berhenti lalu menatap Yusuf dengan raut sendu. “Pa, tolong hubungi Pak Adam, dan minta dia mengurus perceraian ku dengan Jihan!”
“Baiklah, nanti Papa akan sampaikan ke dia.” Sahut Yusuf.
Ammar pun berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Anita memandangi kepergian sang putra dengan perasaan sedih dan prihatin. “Kasihan Ammar, ini pasti berat untuknya.”
“Semoga dengan kejadian ini, dia bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.”
“Aamiin.”
Di dalam kamarnya, Ammar berbaring dan memandangi foto pernikahannya dengan Jihan yang terpajang di dinding. Dia kembali teringat saat mereka masih SMA dan dia selalu berjanji pada Jihan akan selalu menjaga dan melindungi wanita itu, dia juga berharap bisa menjadi suami Jihan di masa depan.
Hal itu ternyata diketahui oleh Abbas dan sengaja memanfaatkan keadaan Ammar yang hilang ingatan, Abbas alias Miranda mengatakan jika janji itu Ammar tujukan untuk dia alih-alih Jihan. Makanya Ammar masuk ke dalam perangkap dan bersedia menjadi kekasihnya. Hingga kehadiran Jihan merusak semua rencana busuknya.
Ammar mengembuskan napas berat, ada rasa sesak dan sakit di dadanya. Penyesalan yang menggunung membuat hatinya begitu rapuh.
“Aku mencintaimu, Jihan. Aku enggak tahu akan berapa lama bisa menyembuhkan luka ini.” Ucap Ammar lirih.
Allahu Akbar Allahu Akbar.
Allahu Akbar Allahu Akbar.
Adzan subuh pun berkumandang, hati Ammar tiba-tiba bergetar seolah terpanggil. Dia seketika teringat pesan Yusuf dan Anita, mungkin ada baiknya dia coba mengikuti saran kedua orang tuanya itu.
☘️☘️☘️
__ADS_1