
Yusuf sudah meminta Ahmad untuk membantu mencari keberadaan Ammar, dia meminta Ahmad ke rumah Arif untuk memastikan apakah putranya itu berada di sana.
Yusuf juga berusaha menghubungi Arif, namun tak terhubung sama sekali. Sedangkan nomor Jihan tak ada yang menjawab.
Dan sialnya lagi, GPS yang terpasang di mobil Ammar sudah dimatikan oleh sang putra sejak menikah dengan Jihan.
“Sebenarnya ke mana dia? Anak ini selalu bersikap gegabah! Mana ponselnya tertinggal lagi!” Gerutu Yusuf.
“Pa, Mama semakin khawatir. Takut terjadi sesuatu dengan Ammar.” Anita tak henti-hentinya menangis menunggu kabar sang putra.
“Tenanglah, Ma. Doakan agar Ammar baik-baik saja.” Yusuf mengusap punggung belakang istrinya itu. “Papa juga terus berusaha mencarinya.”
“Bagaimana kalau kita lapor ke polisi saja, Pa?” Cetus Anita.
“Iya, nanti Papa akan minta tolong Kombes Alberto, tapi sekarang kita usahakan dulu untuk mencarinya. Siapa tahu sebentar lagi dia pulang, atau Ahmad menemukannya.”
“Iya, Pa.”
“Assalammualaikum, Pak, Bu.”Ahmad berjalan masuk ke dalam rumah Yusuf.
“Wa’alaikumsalam.” Sahut Yusuf dan Anita bersamaan.
“Bagaimana, Mad. Kamu sudah menemukan Ammar?” Tanya Yusuf.
“Belum, Pak. Tapi saya mendapatkan informasi dari tetangga Pak Arif.”
“Informasi apa? Cepat katakan!” Desak Yusuf tak sabar.
“Katanya Pak Arif beserta keluarga sudah pindah ke Surabaya tadi siang. Tadi memang Mas Ammar sempat ke sana dan bertanya tentang mereka kepada tetangganya itu.”Terang Ahmad lugas.
“Ya, Allah. Jadi mereka pindah ke Surabaya?” Ujar Anita sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.
“Iya, Bu.”
__ADS_1
“Apa kamu mendapatkan alamatnya di sana?” Tanya Yusuf lagi.
“Enggak, Pak. Tetangganya juga enggak tahu alamat mereka.”
“Pa, jangan-jangan Ammar ke Surabaya untuk menyusul mereka.”Tebak Anita.
“Tapi apa Ammar tahu alamatnya? Sedangkan tetangganya saja enggak tahu.”Sanggah Yusuf.
“Ammar pasti nekat mencari mereka meskipun dia enggak tahu alamatnya. Papa kan tahu Ammar enggak bisa berpikir jernih kalau sedang dalam situasi seperti ini.”
“Baiklah, kalau begitu kita akan ke Surabaya.” Pinta Yusuf, lalu melirik jam di dinding. “Kalau dilihat, Ammar baru dua jam pergi, kemungkinan dia belum terlalu jauh.”
“Ya, Allah. Tolong lindungi putraku.” Ucap Anita dengan suara yang bergetar.
Yusuf dan Anita pun bergegas pergi, namun Yusuf kembali berusaha menghubungi Arif, tapi lagi-lagi tak tersambung. Begitu juga dengan nomor Jihan, terhubung namun tetap tak ada yang menjawab sama sekali.
☘️☘️☘️
Miranda beserta Evan dan Miko tengah menyusun rencana untuk melenyapkan Ammar.
Miranda yang menyadari hal itu segera berjalan mendekati Ammar lalu berjongkok di hadapannya.
Dengan perlahan Ammar membuka matanya dan berusaha memfokuskan pandangan.
“Kau sudah bangun rupanya?”
“Di mana aku?” Ammar mengedarkan pandangannya, dan mendapati Evan serta Miko yang sedang berdiri tak jauh darinya. Rahang Ammar sontak mengeras saat melihat wajah Miko, dia memberontak tapi sia-sia, sebab tangan dan kakinya terikat.
“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku, berengsek!” Bentak Ammar.
“Melepaskan mu? Jangan harap! Kau sendiri yang datang ke sini, jadi seharusnya kau berusaha sendiri untuk keluar.”
“Miranda, aku enggak akan membiarkanmu hidup tenang kalau sampai aku bebas. Aku akan memberimu pelajaran!” Ancam Ammar geram.
__ADS_1
“Wow, aku takut.” Ejek Miranda berpura-pura takut. “Bermimpi lah untuk bisa bebas dariku, karena sebentar lagi aku akan mengirimkan mu ke neraka.”
“Sebenarnya apa mau mu? Kenapa kau melakukan semua ini?” Tanya Ammar.
Miranda tak langsung menjawab, dia sejenak melirik ke arah Evan dan Miko. “Kalian bisa keluar sekarang! Ini bagian ku.”
Kedua pasangan homo seksual itu pun keluar, meninggalkan Ammar dan Miranda di dalam kamar.
Miranda kembali memandang Ammar. “Mungkin sekarang sudah saatnya aku membongkar semua ini, agar kau tahu tujuanku selama ini adalah ingin menghancurkan kau secara perlahan, membuat kau enggak pernah merasakan kebahagiaan sampai kau mati.”
“Kenapa kau lakukan itu? Apa salahku padamu?”
“Karena kau juga telah menghancurkan hidupku dan juga keluargaku!”
Ammar menaut kedua alisnya. “Kapan aku menghancurkan hidup kalian?”
“Dua tahun yang lalu. Karena perbuatan mu dan Irvan, aku harus kehilangan adikku untuk selamanya dan setelah itu aku juga harus kehilangan Ibuku yang bunuh diri karena depresi atas kematian adikku. Kalian membuatku hidup sebatang kara dalam sekejap!” Ujar Miranda penuh emosi.
“Apa maksudmu? Kenapa kau menyalahkan kami atas kematian adik dan ibumu? Sebenarnya siapa kau ini?” Cecar Ammar semakin bingung.
“Mungkin kau enggak ingat, dua tahun yang lalu kau dan Irvan mengurungku di dalam kelas kosong. Saat itu aku memohon agar kalian melepaskan aku, karena aku harus menjemput adikku. Tapi kalian malah meninggalkan aku di ruangan yang terkunci.”
Mata Ammar membulat, darahnya seolah mengalir lebih cepat. “Abbas? Kau ini Abbas?”
“Iya, aku Abbas! Orang yang kalian panggil banci. Yang selalu kalian bully dan perlakukan dengan buruk. Padahal aku enggak pernah berbuat kesalahan kepada siapa pun. Aku juga manusia, aku punya perasaan sama seperti kau dan yang lainnya! Tapi sedikit pun kalian enggak pernah menghargai ku. Aku menderita dan tertekan karena perbuatan kalian! Bahkan karena ulah kalian waktu itu, adikku tewas tertabrak mobil saat hendak pulang sendiri. Kau dan Irvan membunuh adikku!” Ungkap Miranda penuh emosi, sampai-sampai dia tak menyadari sesuatu.
“Ini enggak mungkin! Kau pasti sedang berbohong dan mengarang cerita!” Sanggah Ammar, apa yang dia dengar sungguh tak bisa dia terima begitu saja. “Kalau kau Abbas, lalu siapa yang ditemui Jihan di kafe waktu itu.”
“Siapa lagi kalau bukan Miko, kekasihnya Evan. Dia punya bakat akting yang bagus. Bahkan Jihan saja percaya kalau dia itu adalah Abbas.” Beber Miranda bangga.
Ammar menggeleng. “Aku enggak percaya. Kau pasti bersekongkol dengan Abbas, kan?”
“Kalau kau masih enggak percaya aku ini Abbas, aku bisa buktikan.” Miranda berdiri lalu beranjak menjauh dari Ammar.
__ADS_1
☘️☘️☘️