Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 35.


__ADS_3

Jihan berjalan gontai menuju gedung Ritz Corporation, sebenarnya hari ini dia sama sekali tak bersemangat untuk bekerja, kepalanya pusing sebab semalaman tidak bisa tidur dan matanya sedikit sembab karena menangis setiap kali mengingat Ammar. Namun berdiam diri di rumah bukan solusi yang baik, dia tak ingin larut dalam kesedihan, dia harus bangkit dan tetap tegar, meskipun hatinya sangat rapuh. Dan sejak kejadian kemarin, Jihan terlihat lebih banyak diam dan murung.


Tiba-tiba seseorang menarik lengan Jihan, karena terkejut, Jihan refleks berbalik dan menepis tangan orang itu. Dan matanya membulat saat melihat ternyata orang itu adalah lelaki yang bersamanya di dalam foto itu. Jihan sontak mundur menjauhi lelaki itu.


“Kau? Apa yang kau lakukan di sini?”


Lelaki itu tersenyum dan mengabaikan pertanyaan Jihan. “Hai, Jihan sayang. Bagaimana kabarmu? Apa kau merindukanku, sayang?”


“Enggak perlu berbasa-basi! Sebenarnya kau ini siapa? Aku enggak pernah mengenalmu sama sekali!” Tanya Jihan. Jantungnya berdebar kencang, tapi dia tetap berusaha tenang.


“Aku ini orang yang sudah memberikanmu kenikmatan, apa kau lupa?” Jawab lelaki itu sembari mencolek dagu Jihan, namun Jihan buru-buru menepis tangannya.


“Jangan kurang ajar!” Bentak Jihan. “Sebenarnya apa mau mu? Kenapa kau melakukan semua ini kepadaku?”


Lelaki itu mencengkeram lengan Jihan dan mendekatkan dirinya ke wanita itu. Jihan sontak mendorongnya dengan sebelah tangan.


“Sudah kubilang jangan kurang ajar!” Jihan memberontak berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman tangan lelaki itu.


Tepat bersamaan mobil Radit memasuki pelataran parkir gedung Ritz Corporation, dan melihat kejadian itu. Radit pun bergegas keluar dari mobil dan mendekati Jihan dengan langkah yang lebar.


“Ada apa ini?” Sergah Radit.


Lelaki itu sontak melepaskan cengkeraman tangannya di lengan Jihan dan buru-buru kabur.


Jihan mengembuskan napas lega. “Alhamdulillah ....”


“Jihan, sebenarnya ada apa ini?” Radit masih bingung dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


“Hanya ada sedikit masalah, Pak.” Sahut Jihan.


“Itu tadi suami kamu?”


Jihan menggeleng dan tertunduk. “Bukan, Pak. Saya juga enggak kenal siapa dia.”


“Lantas kenapa dia bisa ada di sini?”


“Maaf, Pak. Saya enggak bisa cerita. Ini masalah pribadi saya, jadi enggak pantas kalau saya bagi ke Bapak.” Tutur Jihan. Dia tentu paham, tak boleh seorang wanita apalagi yang sudah menikah berbagi masalahnya ke lelaki lain yang bukan mahram. Terlebih Jihan tak ingin ada orang lain tahu tentang apa yang sedang terjadi.


“Oh, ya sudah. Enggak apa-apa, saya mengerti, kok.” Balas Radit. “Kalau begitu, mari masuk!”


“Iya, Pak.”


Jihan dan Radit pun masuk ke dalam gedung Ritz Corporation.


☘️☘️☘️


Ammar beranjak dan melangkah ke kamar mandi, hari ini dia tak berniat untuk datang ke kantor, dia sedang malas keluar rumah dan bertemu dengan siapa pun.


Sehabis mandi dan mengenakan pakaian rumah, Ammar pun turun ke lantai bawah. Dia berjalan ke dapur dan segera membuka lemari pendingin, lalu menenggak air dingin di dalam botol. Tapi matanya tertuju pada bahan-bahan makanan yang masih tersusun rapi di dalam kulkas, hati Ammar terasa semakin perih kala teringat saat dia dan Jihan belanja semua itu. Ammar pun sontak membanting pintu kulkas dan melangkah pergi.


Dia kembali ke kamarnya dan bermaksud memesan makanan dari aplikasi Online, Ammar meraih ponselnya yang tergeletak di meja nakas, namun dia terfokus pada sebuah pesan masuk dari nomor asing. Ammar buru-buru membuka pesan itu, rahangnya seketika mengeras saat melihat sebuah foto di mana ada Jihan dan lelaki yang waktu itu bersamanya di kamar hotel, mereka berdiri dengan jarak yang sangat dekat.


Ammar meremas kuat ponselnya setelah melihat foto itu. “Biadab! Kau benar-benar murahan!”


Dengan perasaan geram, Ammar segera menghubungi nomor asing itu. Tapi tak dijawab sama sekali.

__ADS_1


“Berengsek!” Teriak Ammar. Dia pun membalas pesan itu.


“JAWAB TELEPONKU! JANGAN JADI PENGECUT! SEBENARNYA SIAPA KAU?”


Pesan itu terkirim, tapi tak ada balasan. Ammar yang kesal melempar ponselnya ke atas ranjang dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, hatinya panas melihat semua itu.


Ponsel Ammar kembali berbunyi, sebuah pesan kembali masuk dari nomor Jihan. Sebuah foto di mana ada Jihan yang sedang tertidur tanpa pakaian dan hanya ditutupi selimut beserta sederet kata sebagai pengantar foto itu.


“TADI AKU SENGAJA MENJEMPUT JIHAN KE KANTOR DAN MENGAJAKNYA BERSENANG-SENANG. DIA SUNGGUH LUAR BIASA.”


Dan satu pesan lagi yang berisi rekaman suara kembali masuk ke ponsel Ammar dari nomor Jihan, lelaki itu langsung memutarnya. Dia terhenyak saat mendengar suara ******* seorang wanita dan seorang pria yang menyebut nama Jihan berulang kali.


“Dasar pelacur!” Ammar mengepalkan tangannya dengan kuat. Dadanya terasa sesak bagai terimpit oleh ratusan ton batu, membuat amarahnya tak lagi mampu dia bendung. Memang sejak amnesia, Ammar jadi sulit mengontrol emosinya, dia jadi gampang marah dan sulit berpikir jernih. Dokter mengatakan ini adalah efek psikologis dari apa yang Ammar alami.


Dengan perasaan marah dan emosi yang meledak-ledak, Ammar segera menghubungi Adam, yang tak lain adalah pengacara keluarga mereka.


“Halo, Pak Adam. Sekarang juga urus perceraian ku. Dan pastikan selesai secepatnya!” Pinta Ammar saat sambungan teleponnya tersambung ke Adam.


“Tapi, Mas Ammar ....”


“Urus saja secepatnya!” Ammar mengakhiri pembicaraan tanpa menunggu jawaban dari Adam.


Ammar memejamkan matanya dengan kuat, dia merasa hatinya perih dan sakit sekali.


“Aku benci kau, Jihan!” Teriak Ammar.


☘️☘️☘️

__ADS_1


__ADS_2