Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 56.


__ADS_3

Ammar melajukan mobilnya dengan pelan menyusuri jalanan kota Surabaya sembari matanya celingukan ke sana-kemari mencari sosok yang begitu dia rindukan. Selama setahun ini Ammar selalu datang ke kota Pahlawan itu dan berkeliling demi bisa menemukan Jihan, tapi selalu tak membuahkan hasil.


“Ke mana lagi aku harus mencarinya?” Gumam Ammar lelah.


Mobil sedan mewah berwarna hitam milik Ammar terus berjalan hingga tiba di sebuah masjid yang cukup besar. Hati Ammar tergerak untuk membelokkan kemudinya ke dalam pelataran masjid tersebut, namun dia tidak langsung turun.


Cukup lama dia berdiam diri di dalam mobil, mengamati beberapa pemuda yang lalu lalang memakai sarung dan peci. Orang-orang juga ramai mendatangi masjid itu.


Ammar melirik arloji di pergelangan tangannya, tapi sekarang belum memasuki waktu shalat. Dia sedikit heran, ada apa di dalam sana.


Rasa ingin tahu menuntun Ammar untuk keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam masjid. Dia terpaku di depan pintu saat melihat orang-orang sudah ramai berkumpul, dan hampir sebagian besar jemaahnya adalah anak muda.


“Mas, mari silakan duduk! Kenapa berdiri saja?” Seorang pemuda berbaju kokoh biru cerah menepuk pelan pundak Ammar.


“Eh, maaf. Ini ada apa, ya?” Tanya Ammar bingung.


“Ada ulama besar mau datang, Mas.”


“Oh, pantas ramai.”


“Ayo, Mas.” Ajak pemuda itu.


Ammar mengangguk dan entah mengapa dia begitu saja menuruti pemuda tersebut, bergabung dengan para pria yang seusia dengannya


Tak berapa lama, seorang ulama besar yang cukup familier hadir lalu menyampaikan khotbah. Entah kebetulan atau tidak, ceramahnya tentang hijrah agar menjadi manusia yang lebih baik.


“Hijrah adalah tentang benci dan cinta. Meninggalkan yang dibenci dan menuju kepada yang dicinta. Jadi kalian meninggalkan apa yang Allah benci dan lakukan apa yang dia cintai.”


“Hijrah itu bukan hanya sekedar mengubah penampilan, tapi mengubah akhlak dan ibadah kita agar menjadi lebih baik. Karena hijrah bukan sekadar lintasan sejarah, tetapi hukum yang masih berjalan dan semua itu butuh proses serta kemantapan hati. Sebab hijrah itu bukan hanya untuk orang taat, tapi juga untuk mereka yang mau taat.”


“Karena semakin kamu berusaha menjadi orang baik, maka semakin menjauh orang-orang yang tak pantas di hidupmu. Tetaplah Istiqomah atas tujuan awal, percayalah bahwa hijrah itu akan membawa segala hal kepada kebaikan.”


Ammar mendengarkan ceramah itu dengan khusyuk dan hatinya merasa terpanggil untuk berusaha mengubah jalan hidupnya agar lebih baik. Dia merasa tertampar sebab selama ini sudah terlalu jauh dari Allah, mungkin apa yang terjadi saat ini adalah salah satu teguran dari sang maha pencipta agar dia membuka matanya untuk menyadari bahwa dia masih punya Tuhan dan agar dia berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi.

__ADS_1


Ceramah dari sang ulama besar telah berakhir dan ditutup dengan shalat Zuhur berjamaah.


Kini Ammar tengah duduk di tangga mesjid seraya memakai sepatunya, para jemaah berbondong-bondong keluar dari mesjid namun tetap tertib.


Tiba-tiba seorang wanita berkerudung kuning yang sedang menelepon ditabrak jemaah lain sehingga ponselnya terlepas dan jatuh di dekat kaki Ammar.


“Astagfirullah, ponselku!” Pekik wanita itu panik.


Ammar sigap memungut benda pipih itu sebelum terinjak oleh jamaah lain lalu berdiri dan memanggil wanita tadi. “Mbak, ini ponselnya!”


Wanita berkerudung kuning itu mendekati Ammar dan segera mengambil telepon genggam miliknya. “Terima kasih, ya, Mas.”


“Sama-sama.”Ammar tersenyum dan segera pergi.


Wanita berkerudung kuning itu terkesima melihat senyuman manis Ammar. “Wah, ganteng banget!”


Beberapa menit kemudian, Jihan dan Aisyah keluar dari mesjid itu sambil bercengkrama dengan muslimah lain.


“Annisa, kenapa bengong di sini?” Aisyah menegur wanita berkerudung kuning yang sedang memandangi mobil Ammar bergerak keluar dari pelataran mesjid.


“Astagfirullah! Kamu ini genit banget!” Cibir Aisyah.


“Ih, Bule. Itu namanya bukan genit, aku kan cuma mengagumi ciptaan Allah.” Bantah Annisa.


Aisyah dan Jihan hanya geleng-geleng kepala mendengar bantahan Annisa.


“Ya sudah, yuk pulang! Aku masih harus membantu Abi dan Ummi lagi.” Ajak Jihan.


Ketiga wanita itu pun buru-buru meninggalkan mesjid yang berjarak hanya beberapa meter dari rumah mereka. Sementara mobil Ammar sudah menjauh dari mesjid tersebut.


☘️☘️☘️


Sore ini seperti biasa, Jihan membantu Salma dan Aisyah menyiapkan bahan-bahan untuk membuat bubur besok. Sejak tadi dia lebih banyak diam dan melamun memikirkan pinangan Radit seminggu yang lalu.

__ADS_1


Salma yang memperhatikan putrinya itu pun menegurnya. “Kamu kenapa? Dari tadi Ummi perhatikan kamu melamun terus.”


“Aku lagi memikirkan pinangan Pak Radit, Ummi.” Jawab Jihan lesu.


“Kamu belum mendapatkan jawaban?” Tanya Salma lagi.


Jihan menggeleng lemah. “Belum, Ummi. Aku masih bingung harus mengambil keputusan apa? Padahal tiap malam aku sudah shalat istikharah.”


“Apa yang membuat kamu bingung? Nak Radit itu sepertinya baik dan bertanggung jawab, apa lagi yang kamu ragukan?”Cecar Salma.


“Mungkin karena akta cerai Jihan belum ada, Mbak. Jadi Jihan takut mau nikah lagi.” Sela Aisyah sok tahu.


“Kalau itu masalahnya, Insha Allah nanti Ummi dan Abi akan menemui Mas Yusuf untuk meminta akta cerai kamu.” Ujar Salma menanggapi ucapan adik iparnya itu.


“Bukan itu, Ummi!" Bantah Jihan.


Salma mengernyit. “Lalu apa?”


Jihan tertunduk, dia tak berani menyampaikan apa yang membuat dia ragu. Melihat Jihan membisu, Salma jadi curiga.


“Kamu masih mencintai Nak Ammar, ya?”Tebak Salma.


Jihan terkesiap mendengar tebakan ummi nya itu, namun dia tak berani membantah ataupun mengiyakan. Jihan tetap bergeming. Dan sikap diam Jihan tersebut membuat Salma mengerti apa yang membuat sang putri bimbang mengambil keputusan.


“Jihan, saat ini dia pasti sudah melupakan kamu dan hidup bahagia dengan keluarga barunya. Jadi buat apa lagi kamu masih menyimpan perasaan untuk dia? Lupakan dia, Nak!” Sungut Salma kesal.


Jihan dan kedua orang tua berpikir jika Ammar pasti sudah menikah dengan Miranda, karena terakhir kali yang mereka tahu, Miranda hamil anaknya Ammar.


“Ummi ingin kamu membuka lembaran baru dan hidup bahagia.” Lanjut Salma dengan mata berkaca-kaca.


Jihan yang menganggukkan kepalanya. “Iya, Ummi.”


Jihan tahu tak pantas dia masih menyimpan cinta pada Ammar, tapi dia juga tak bisa membohongi perasaannya.

__ADS_1


☘️☘️☘️


__ADS_2