
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Jihan dan kedua orang tuanya tiba di kota Surabaya tepat saat azan subuh berkumandang. Ketiganya bergegas turun ketika kereta api sudah berhenti sempurna, namun tak seorang pun menyadari jika ponsel milik Arif terjatuh lalu tertinggal di kursi penumpang kereta yang tadi diduduki oleh Jihan dan Salma.
Mereka pun Shalat subuh di masjid yang tak jauh dari stasiun. Selesai Shalat, Jihan beserta kedua orang tuanya buru-buru keluar dari mesjid dan kembali ke stasiun demi mencari keberadaan Asep, yaitu sepupu Jihan yang diutus untuk menjemput mereka.
“Itu Asep!” Jihan menunjuk seorang lelaki bertubuh jangkung yang sedang berdiri di samping sebuah mobil sedan tua. Asep celingukan sepertinya sedang mencari mereka.
Jihan dan kedua orang tuanya segera menghampiri Asep.
“Assalamualaikum, Asep.” Sapa Arif.
“Wa’ alaikumsalam, Pakde, Bude.” Balas Asep kemudian menyalami Arif dan Salma. Lalu memandang Jihan. “Hai, Jihan.”
Jihan hanya menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada sambil tersenyum kepada Asep.
“Kamu sudah lama menunggu, Sep?” Tanya Arif.
“Lumayan, Pakde.”
“Sudah Shalat subuh?” Tanya Arif lagi.
Asep meringis sambil menggaruk kepalanya. “Belum Pakde. Nanti di rumah saja, takut kelamaan.”
Arif goyang kepala mendengar jawaban keponakannya yang paling bandel itu. “Ya sudah, mari kita berangkat! Biar Asep bisa Shalat di rumah.”
Mereka berempat pun masuk ke dalam mobil, dan bergegas pergi meninggalkan stasiun.
Dua puluh menit kemudian, Jihan dan keluarganya tiba di rumah duka. Kehadiran mereka disambut isak tangis keluarga.
“Assalamualaikum ....”
“Wa’ alaikumsalam ....”
“Mas Arif!” Seorang wanita berhijab hitam yang bernama Aisyah langsung memeluk Arif.
Aisyah adalah adik kandung Arif satu-satunya yang selama ini tinggal bersama almarhumah ibu mereka dan membantu mengurus warung bubur milik sang ibunda. Aisyah adalah ibunda dari Asep dan Joko.
“Emak sudah enggak ada lagi, Mas.” Aisyah mengoceh di dalam tangis.
__ADS_1
“Yang sabar. Kita sayang pada Emak, tapi Allah lebih sayang. Kita hanya bisa pasrah saat Dia mengambil milik-Nya.” Ucap Arif sembari mengusap punggung belakang adiknya itu.
“Sudah, jangan diratapi! Ikhlaskan, biar jalan Emak lapang.” Lanjut Arif.
“Iya, Mas.” Aisyah melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Salma. “Mbak Salma.”
“Yang sabar, ya.” Salma membalas pelukan adik iparnya itu.
Arif pun mendekati ibundanya yang sudah terbujur kaku, dibukanya kain penutup dan dipandanginya wajah tua yang sudah pucat itu. Setetes air mata jatuh namun dengan cepat dia hapus. Kemudian Arif menadahkan tangannya dan membacakan doa untuk wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini.
“Allohummaghfirlahaa warhamhaa wa’aafihaa wa’fu ‘anhaa wa akrim nuzulahaa wawassi’ mudkholahaa waghsilhaa bil maa-i wats tsalji wal barod. Wa naqqihaa minal khothooyaa kamaa naqqoitats tsaubal abyadho minad danas. Aamiin.”
Arif mengusap wajahnya sehabis membaca doa lalu mencium kening dingin sang ibunda. Salma dan Jihan juga menghampiri jasad Ratih dan melantunkan doa seraya menyeka buliran air mata kesedihan yang jatuh menetes.
“Sebaiknya Mas Arif dan keluarga istirahat saja dulu di kamar Emak, pasti lelah setelah jalan jauh.” Ucap Aisyah.
“Aku mau bertemu kerabat yang lain, biar istri dan anakku saja yang istirahat.” Sahut Arif dan beranjak keluar rumah lalu bergabung bersama sekumpulan lelaki yang merupakan kerabat serta tetangga.
Jihan dan Salma pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di kamar almarhumah Ratih, tak bisa dipungkiri, tubuh mereka rasanya lelah sekali. Apalagi Jihan yang sama sekali tak sempat istirahat sejak pulang dari kantor. Jihan merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil meregangkan otot-ototnya, tiba-tiba Aisyah masuk ke kamar dengan membawa nampan berisi dua gelas teh hangat.
“Iya, terima kasih, ya.”
“Terima kasih, Bule.” Balas Jihan.
“Oh iya, kok suami Jihan enggak ikut?” Tanya Aisyah.
Jihan dan Salma sontak saling pandang, mereka bingung harus menjawab apa? Haruskah jujur?
Melihat Jihan dan Salma terdiam, Aisyah menjadi curiga.
“Kenapa? Apa ada masalah? Jihan dan suaminya baik-baik saja, kan?” Aisya memberondong pertanyaan dengan rasa ingin tahu.
Jihan bangkit dan duduk di tepi ranjang, dia tertunduk menyembunyikan matanya yang mulai digenangi cairan bening. Dia ingin sekali berdusta, tapi lidahnya terasa kaku untuk mengucapkan kebohongan.
“Mbak, apa yang terjadi?” Aisyah beralih ke Salma yang wajahnya mulai sendu.
“Aku sudah ditalak, Bule.” Sela Jihan cepat sebelum Salma sempat membuka suara.
__ADS_1
Aisyah terperangah. “Astaghfirullahalladzim! Kamu serius?”
Jihan mengangguk lemah. “Dia bahkan sudah mengurus perceraian kami.”
“Ya Allah!” Kali ini bukan Aisyah saja yang kaget, Salma juga terkejut minta ampun.
“Benar itu, Nak?” Salma memastikan.
“Iya, Umi. Tadi aku bertemu Mas Ammar dan dia mengatakan sudah mengurus perceraian kami, dia juga minta aku enggak hadir di persidangan, agar prosesnya cepat.” Tutur Jihan dengan suara bergetar. Air mata yang dia tahan akhirnya jatuh juga.
“Ummi enggak menyangka Nak Ammar akan melakukan semua ini. Kamu yang sabar, ya.” Salma berhambur memeluk Jihan.
“Sebenarnya ada apa, Mbak? Kenapa suami Jihan menalaknya? Padahal mereka belum ada sebulan menikah.” Aisyah masih penasaran.
“Ada kesalahpahaman antara Jihan dan suaminya. Maaf, Mbak enggak bisa cerita dan membeberkan masalah rumah tangga Jihan. Biarkan ini menjadi rahasia keluarga kami.” Ucap Salma hati-hati, takut menyinggung perasaan Aisyah.
“Enggak apa-apa, Mbak. Kalian berhak untuk merahasiakan masalah keluarga kalian, tapi kalau Mbak sekeluarga membutuhkan bantuan kami, Insya Allah kami siap membantu.”
“Terima kasih, ya, Aisyah.”
“Sama-sama, Mbak.” Balas Aisyah.
“Jihan, kamu yang sabar dan ikhlas, ya. Tetap berserah diri pada Allah dan jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Mungkin cara Allah memisahkan memang menyakitkan, namun jika enggak seperti ini, kamu enggak akan pernah sadar bahwa dia bukan yang terbaik untukmu.” Lanjut Aisyah sembari mengusap kepala Jihan yang kini sedang menangis di dalam pelukan Salma.
Jihan hanya mengangguk.
Seketika suasana kamar berukuran tiga kali tiga meter itu mengharu biru, bukan hanya Jihan saja, Salma dan Aisyah pun ikut berlinang air mata.
Jihan menarik dirinya dari pelukan Salma dan menatap dalam manik hitam sang ibu. “Ummi, aku mohon jangan dulu ceritakan masalah ini kepada Abi. Aku enggak ingin membuat Abi semakin sedih.”
Salma mengangguk sembari mengusap jejak air mata di pipi Jihan. “Iya, Nak. Kita akan ceritakan masalah ini pada Abi setelah keadaan tenang.”
“Iya, Bule juga enggak akan cerita ke siapa pun sebelum kamu mengizinkannya.” Sela Aisyah sembari memegang pundak Jihan.
Jihan memaksakan senyuman, kemudian beralih memeluk Aisyah. “Terima kasih, Bule.”
☘️☘️☘️
__ADS_1