
Jihan sedang mengupas bawang di dapur bersama Salma dan Aisyah, sementara Arif lagi mencuci sepeda motornya di halaman depan.
“Jihan.”
“Iya, Ummi.”
“Tadi ada seorang pemuda yang datang, dia menyampaikan niat ingin meminang kamu.” Beber Salma.
Jihan sontak tertunduk diam dan menghentikan aktivitasnya, jantungnya seketika berdebar kencang.
“Abi dan Ummi sih setuju.”
Jihan mengangkat kepalanya dan tercengang. “Abi dan Ummi setuju?”
Salma mengangguk. “Iya, besok malam Insha Allah dia dan keluarganya akan datang melamar.”
“Haa, besok? Tapi aku kan belum menyetujuinya, Ummi! Seharusnya Abi dan Ummi tanya aku dulu!” Protes Jihan.
Aisyah hanya diam menyimak pembicaraan ibu dan anak itu.
“Kamu pasti setuju kalau lihat orangnya.” Jawab Salma enteng.
“Ummi, tapi ....”
“Sudah, Nak! Ummi enggak mau dengar protes kamu lagi! Pokoknya besok malam kami siap-siap, kita akan menyambut calon suami kamu dan keluarganya.” pungkas Salma yang tak memberikan Jihan kesempatan untuk bicara.
Wajah ayu Jihan berubah murung, dia sedih dan menolak. Tapi dia tak berani melawan kehendak orang tuanya itu. Rasanya saat ini Jihan ingin menangis, seketika dia terbayang wajah Ammar. Apakah dia memang benar-benar kehilangan lelaki itu.
Jihan pun melanjutkan pekerjaannya mengupas bawang merah, matanya mendadak perih dan dengan cepat digenangi cairan bening. Salma melirik putrinya sembari tersenyum samar.
Satu jam kemudian, Jihan menemui Arif yang tengah duduk sendiri di teras rumah sambil menikmati kopi dan memandangi sepeda motornya yang sudah mengkilap. Jihan duduk di samping sang ayah dengan wajah sendu.
“Abi.”
“Iya, ada apa, Nak?” Tanya Arif.
“Kenapa Abi dan Ummi memutuskan menerima lamaran orang itu tanpa meminta persetujuan aku dulu?”
Arif mengembuskan napas. “Abi enggak tega menolaknya, Nak. Abi tahu pemuda itu sangat menyukaimu, dia juga sudah lama berusaha mendapatkan kamu.”
Jihan menatap penuh selidik. “Memangnya siapa, Abi? Orang kampung sini juga? Apa aku kenal orangnya?”
“Iya, kamu kenal. Tapi dia bukan orang sini, dia anaknya teman Abi.”
“Siapa, Abi?”
__ADS_1
“Abi, tolong bantu Ummi di dapur sebentar!” Salma tiba-tiba datang dan mengajak Arif ke dapur sebelum suaminya itu sempat menjawab pertanyaan Jihan.
“Iya, Ummi.” Arif beranjak dan meninggalkan Jihan begitu saja.
Jihan merasa semakin galau, sikap Abi dan Ummi nya benar-benar membuat dia dilanda perasaan sedih.
☘️☘️☘️
Besoknya, Jihan beserta kedua orang tuanya sudah bersiap menyambut kedatangan tamu mereka.
Jihan yang memakai gamis Ceruti berwarna coklat susu dan hijab hitam sejak tadi duduk sendiri di dalam kamar dengan gelisah dan wajah sendu, andai dia bisa, ingin rasanya dia menolak semua ini.
Sementara itu di luar sudah ramai, Aisyah dan beberapa kerabat Jihan mulai berdatangan, sepertinya Arif yang mengundang mereka.
“Assalammualaikum.”
“Wa’alaikumsalam, mari masuk!”
“Kenapa belum datang, ya?” Tanya Aisyah.
“Mungkin macet, kita tunggu sebentar.”
Tak lama kemudian rombongan mobil memasuki halaman rumah sederhana Arif. Beberapa pria dan wanita keluar dari mobil sambil membawa hantaran lamaran lalu berjalan masuk.
“Assalamualaikum.” Ucap mereka.
Mereka pun masuk dan mengambil posisi duduk masing-masing, kemudian sepasang suami-istri beserta putra mereka menyusul dan masuk setelah mengucapkan salam.
“Wah, kita akhirnya bertemu lagi.”
“Ini sudah takdir.” Jawab Arif.
Di dalam kamar Jihan semakin deg-degan, tangannya dingin dan gemetaran. Dia penasaran siapa sebenarnya calon suaminya itu? Jihan sudah berusaha bertanya pada kedua orang tuanya, tapi sejak semalam mereka selalu menghindar.
Acara pun di mulai, seorang pria yang menjadi juru bicara sedang menyampaikan maksud kedatangannya, lalu disambut pria lain dan kemudian terdengar suara tawa semua orang. Jihan tidak bisa terlalu jelas mendengarnya karena pintu kamar tertutup rapat.
Tak berapa lama Aisyah membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. “Jihan, ayo keluar!”
Wajah Jihan berubah tegang. “Bule, aku tidak mau!”
“Eh, kamu lihat dulu calon suamimu, pasti kamu enggak akan menolaknya.”
“Tapi, Bule ....”
“Sudah, ayo! Kamu ditungguin itu!” Desak Aisyah sembari menggamit lengan Jihan dan menariknya keluar kamar.
__ADS_1
Dengan jantung berdebar dan perasaan berkecamuk, Jihan melangkah keluar kamar. Namun begitu melihat siapa yang datang, Jihan terperangah dan sontak menghentikan langkahnya.
“Mas Ammar?” Gumam Jihan dengan mata melotot, dia terkejut dan tak menyangka ada mantan suaminya itu. Bahkan Yusuf dan Anita pun juga ada di sana.
Ammar tersenyum menatap Jihan, hatinya sangat bahagia karena Allah akhirnya menjawab doa-doa dan harapannya selama ini.
“Mari sini duduk, Nak!” Salma menarik Jihan duduk di sampingnya, Jihan yang masih kebingungan hanya menurut.
“Maaf karena kami diam-diam merencanakan semua ini dari kamu.” Bisik Salma, membuat Jihan kian kebingungan.
“Benar ini calon mempelai wanitanya, Mar? Enggak salah?” Tanya seorang pria tua.
Ammar mengangguk. “Enggak, Opa! Benar dia calon bidadari surga aku.”
“Ciieee, gayamu itu!” Ledek si pria tua dan mengundang tawa semua orang.
Sekarang Jihan mulai paham dengan apa yang terjadi, tapi dia masih bingung kenapa Salma tidak keberatan Ammar melamarnya kembali?
“Eh, tapi tanya dulu dengan calon mempelai wanitanya, mau enggak menikah dengan kamu, Mar?” Sela seorang pria paruh baya yang duduk di samping Ammar.
Dengan malu-malu Ammar menatap Jihan dan bertanya. “Jihan, aku sangat mencintaimu. Bersediakah kamu menikah denganku, menyempurnakan agama serta ibadahku, menjadi ibu dari anak-anakku dan melangkah bersamaku menuju Jannah?”
Jihan tertegun dengan kepala tertunduk, dia semakin gugup dan gemetaran.
Salma menggenggam tangan putrinya itu dan berucap pelan. “Nak, jawab!”
Cairan bening seketika menggenangi mata Jihan, dia terharu sekaligus bahagia. “Bismillah, Insha Allah aku bersedia, Mas.”
“Alhamdulillah!” Seru semua orang.
Jihan mengusap air matanya yang jatuh menetes, dia masih tak menyangka hari ini Ammar akan melamarnya kembali.
Salma yang melihat Jihan menangis sontak memeluk putrinya itu. Jihan membalas pelukan sang ibu dengan erat dan menumpahkan rasa bahagia serta harunya.
Rupanya Salma yang merencanakan semua ini, dia sengaja ingin membuat kejutan untuk Jihan. Dia memang sempat tidak setuju karena terlalu kecewa, tapi begitu melihat perjuangan Ammar dan perubahan pada pemuda itu, Salma pun akhirnya luluh.
Salma tahu Jihan juga masih mencintainya Ammar, makanya dia merencanakan semua ini tanpa meminta persetujuan sang putri dulu. Syukurnya, Arif, Ammar serta semua orang setuju dan berhasil membuat acara malam ini sukses.
Hanya Jihan yang tidak tahu apa-apa, dia sempat merasa sedih meskipun saat ini rasa itu berubah menjadi bahagia yang tak terkira.
Mereka pun menentukan hari pernikahan, dan Ammar yang sudah tidak sabar minta agar pernikahannya dan Jihan diadakan secepatnya setelah mereka mengurus berkas rujuk ke pengadilan agama.
Ternyata manusia hanya butuh sabar, yakin dan berusaha untuk mendapatkan apa yang menjadi haknya dari Allah.
Jika sesuatu telah ditakdirkan untuk kita, maka sampai kapanpun tidak akan pernah menjadi milik orang lain.
__ADS_1
Dan Allah tak pernah kehabisan cara untuk menyatukan yang berjodoh serta memisahkan yang tak berjodoh. Jadi sebaiknya sebagai manusia kita tak perlu merisaukan perihal jodoh.
☘️☘️☘️