
Tak berapa lama, Anita kembali dengan sebuah laptop.
“Ini, Pa, laptopnya.”Anita menyerahkannya ke sang suami.
Yusuf menerima laptop yang diangsurkan Anita kepadanya. Dia menyambungkan benda petak itu ke televisi, kemudian mencolokkan flashdisk dan membuka sebuah file.
Kini terpampang jelas video sebuah kafe yang cukup ramai, mereka juga bisa melihat Jihan berjalan masuk dan duduk di depan seseorang yang memakai topi.
“Itu Jihan!”Seru Anita.
Terlihat Jihan lalu minum sesuatu yang disodorkan orang tersebut dan kembali mengobrol.
Di menit berikutnya tampak Jihan memegangi kepalanya dan seseorang itu memapahnya keluar dari kafe.
“Pasti ada sesuatu yang dicampurkan ke minuman Jihan.”Tebak Yusuf.
Kemudian video beralih ke halaman kafe, terlihat Jihan tiba-tiba terkulai lemas dan tak sadarkan diri.
“Lihat itu!” Yusuf menunjuk layar televisi. “Pantas saja Jihan mengatakan dia enggak ingat apa-apa setelah dari kafe, ternyata dia pingsan.”
Ammar mendekat dan memperhatikan layar besar itu dengan saksama.
Tak berapa lama sebuah mobil datang dan berhenti di dekat mereka, seseorang itu kemudian mengangkat tubuh Jihan dan memasukkannya ke dalam mobil.
“Sudah Papa duga, pasti ada yang enggak beres! Jihan dijebak dan difitnah oleh seseorang.”Geram Yusuf.
“Tapi jelas-jelas di foto itu Jihan berjalan masuk ke dalam hotel.” Bantah Ammar.
“Ke sini kan fotonya!”
Ammar membuka foto yang dikirimkan seseorang itu, lalu memberikan ponselnya pada sang ayah.
Yusuf memperhatikan video dan foto itu bergantian dengan saksama, bahkan dia memperbesar tampilannya agar lebih jelas.
__ADS_1
“Ini jelas bukan Jihan!” Imbuh Yusuf. Meskipun foto itu diambil dari belakang dan dengan jarak yang sedikit jauh, tapi Yusuf bisa menebak itu bukan menantunya.
“Apa?” Pekik Ammar dan Anita bersamaan.
“Dari mana Papa tahu?” Desak Anita.
“Pertama, di video pakaian yang dikenakan Jihan sedikit longgar, celananya juga pas semata kaki. Tapi di foto, pakaiannya justru terlihat ketat dan celananya di atas mata kaki. Enggak mungkinkan dalam beberapa menit Jihan bertambah gemuk dan tinggi?” Ungkap Yusuf.
Ammar tercengang, dia pun mendekati Yusuf dan memperhatikan video serta foto itu bergantian. Begitu juga dengan Anita.
“Kedua, sepatu yang Jihan pakai di video, berbeda dengan yang di foto.” Lanjut Yusuf.
Lagi-lagi Ammar ikut memperhatikan, memang benar kata Yusuf, di video Jihan memakai flatshoes, sedangkan di dalam foto justru memakai pantofel bercorak kulit ular merek brand ternama. Dan mata Ammar membulat saat dia menyadari sesuatu.
“Sepatu itu sama persis seperti punya Miranda. Atau jangan-jangan itu dia?” Ujar Ammar dengan wajah yang tegang. Karena terlalu emosi, dia sampai tak memperhatikan hal itu sebelumnya.
Yusuf dan Anita sontak memandang ke arah Ammar.
“Kau yakin?” Anita memastikan.
Ammar teringat ketika dia mendorong Miranda sampai wanita itu terjatuh di teras rumahnya, saat itu Ammar sempat melihat kaki Miranda yang katanya sakit dan mantan kekasihnya itu mengenakan sepatu tersebut.
“Sudah jelas wanita itu dalang di balik semua ini. Papa memang curiga padanya.” Sahut Yusuf.
“Dasar wanita licik! Dia pikir rencananya sudah berjalan dengan mulus, tapi dia lupa jika Allah maha melihat. Dan pasti ada saja jalan agar semua perbuatannya terbongkar.” Anita berkomentar dengan kesal.
Tiba-tiba Ammar teringat sesuatu.
“Tapi tunggu!”
“Ada apa lagi?” Tanya Yusuf.
“Beberapa hari lalu, ada yang mengirimkan foto Jihan bertemu dengan lelaki itu. Berarti itu juga ulah Miranda?”
__ADS_1
“Sudah pasti!”
“Tapi lelaki itu pernah mengirimkan pesan dari nomor Jihan, bagaimana bisa itu terjadi kalau mereka enggak lagi bersama? Apa mungkin ponsel Jihan ada pada mereka?”
“Mungkin saja! Bagaimanapun caranya, jelas semua ini hanya rekayasa untuk memfitnah Jihan. Dan dengan bodohnya kau masuk ke permainan mereka.” Sahut Yusuf mencibir, membuat Ammar digelayuti rasa penyesalan.
“Dari awal Papa sudah menduganya, Jihan enggak mungkin melakukan hal serendah itu. Tapi kau terlalu mengikuti emosimu sehingga bertindak gegabah, tanpa pikir panjang kau mengambil keputusan yang keliru.” Sambung Yusuf.
Ammar benar-benar merasa bersalah karena mendapati kenyataan yang sebenarnya. Mengapa dia tak jeli memperhatikan semua ini dari awal, dia bahkan tak berusaha untuk mencari tahu kebenarannya sebab terlalu mengikuti amarah yang membuatnya gelap mata dan tak bisa berpikir jernih.
Sehingga dengan mudahnya dia menuduh dan menghina Jihan, bahkan yang lebih parah lagi, dia telah menjatuhkan talak kepada istrinya itu.
Rasa bersalah dan penyesalan yang menggunung membuat Ammar bersikap impulsif, dia bergegas pergi dengan perasaan yang campur aduk.
“Ammar! Kau mau ke mana?” Teriak Anita tapi Ammar tak menggubrisnya.
Anita pun beralih memandang Yusuf. “Pa, jangan diam saja! Ayo kejar Ammar!”
Kedua pasangan suami istri itu segera melangkah keluar rumah, namun mobil Ammar sudah meninggalkan pekarangan kediaman Yusuf.
“Mang, buruan kejar mobil Ammar!” Pinta Yusuf pada Mang Udin.
“Siap, Pak!” Balas Mang Udin.
Mereka pun buru-buru mengejar mobil Ammar, tapi sepertinya Ammar memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, sehingga Yusuf kehilangan jejaknya.
“Maaf, Pak. Mobil Den Ammar enggak kelihatan lagi.” Adu Mang Udin.
“Kalau begitu kita balik saja!” Titah Yusuf.
“Baik, Pak!”
“Bagaimana ini, Pa? Ammar sedang emosi, dan Papa kan tahu sendiri kalau Ammar emosi, dia enggak bisa mengontrol diri dan berpikir jernih. Mama takut dia melakukan kesalahan yang lebih besar lagi.”
__ADS_1
“Tenanglah, Ma! Kita doakan semoga Ammar baik-baik saja dan kali ini dia enggak melakukan kesalahan lagi. Nanti Papa akan minta tolong Ahmad untuk mencari keberadaannya.” Ujar Yusuf berusaha menenangkan sang istri yang sudah terisak-isak.
☘️☘️☘️