Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 16.


__ADS_3

Ammar masih setia menanti Jihan bicara, menatap wanita berhijab di hadapannya itu dengan sorot penuh selidik.


“Saat sekolah, kita berteman cukup baik. Aku bahkan nyaris ikut menjadi korban kecelakaan nahas itu jika aku enggak menolak ajakan mu.” Ungkap Jihan. Dia sedikit cemas dengan reaksi Ammar.


“Kau? Apa benar begitu?” Ammar masih belum bisa percaya seratus persen.


“Iya.”


“Lalu bagaimana dengan Miranda?” Tanya Ammar.


Jihan menautkan kedua alisnya. “Miranda?”


“Iya, Miranda kekasihku. Bukankah dia juga bersekolah di tempat yang sama dengan kita?”


Jihan menggeleng dengan wajah bingung. “Tapi kita enggak pernah punya teman sekolah yang bernama Miranda. Kalau dia teman sekolah kita, aku pasti mengenalnya. Karena aku masih ingat siapa saja teman-teman kita.”


Ammar tercengang, pengakuan Jihan ini bagai batu besar yang menghantam dadanya.


“Kau yakin?” Ammar memastikan. Dan Jihan mengangguk.


“Tapi Miranda mengatakan jika dia itu teman sekolahku dan kami sangat dekat.” Ujar Ammar. Lalu menatap Jihan dengan curiga. “Kau sedang enggak mempermainkan aku, kan?”


“Demi Allah! Aku mengatakan yang sejujurnya, Mas. Kita enggak memiliki teman yang bernama Miranda! Kalau Mas mau, kita bisa tanya ke sekolah. Pihak sekolah pasti masih menyimpan data siswa dua tahun yang lalu.”


Ammar bergeming. Apa yang disampaikan Jihan benar-benar tak bisa dia terima begitu saja, dia masih berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi, tapi lagi-lagi tak ada memori apa pun yang dia dapat. Selain bayangan wajah Jihan yang samar-samar terlintas.


“Baiklah, bisa kau hubungi pihak sekolah dan meminta data siswa dua tahun yang lalu?”


“Bisa, Mas. Aku akan meminta data itu dari Pak Abdullah.” Jihan segera menghubungi Abdullah, yang tak lain adalah kepala sekolah mereka.


Setengah jam kemudian, sebuah pesan email dari Abdullah masuk ke ponsel Jihan. Wanita berhijab itu menunjukkan data-data siswa yang dikirimkan Abdullah kepada Ammar.


Ammar memperhatikan satu persatu nama siswa itu, dan tidak ada nama Miranda di sana.


Kali ini Ammar benar-benar harus percaya kepada Jihan, dia terdiam dengan perasaan tak menentu sembari mengeraskan rahangnya.


Melihat Ammar terdiam dengan wajah mengeras, Jihan mulai cemas. Dia tahu dokter melarang Ammar memaksakan ingatannya karena itu akan membuatnya stres dan kesakitan.


“Mas?” Jihan beranjak dan turun dari atas ranjang.


“Dia datang di saat aku membutuhkan seorang teman di masa-masa sulitku, dia mengatakan kami sangat dekat, bahkan aku pernah berjanji akan menjaga dan melindunginya, dan sekarang aku sedang menepati janji itu. Tapi ternyata ....” Tutur Ammar.

__ADS_1


“Astagfirullah, Mas. Sepertinya dia sudah membohongi mu.”


“Membohongiku?“ Ammar terkesiap. “Aku pikir Miranda itu wanita yang baik, karena dia selalu menghiburku dan menemaniku melewati semua ini. Aku benar-benar enggak sangka!”


“Aku rasa dia punya alasan melakukan semua ini, Mas. Dia pasti mengetahui tentang ingatanmu yang hilang dan memanfaatkannya.” Sela Jihan.


“Siapa sebenarnya dia? Kenapa dia melakukan ini kepadaku?” Ammar mulai gelisah, dia berjalan ke sana-kemari sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


“Mas, tenanglah!” Jihan mendekati Ammar.


“Aaaaarrrgghhh ....” Ammar tiba-tiba memekik kesakitan sembari memegangi kepalanya.


Melihat Ammar kesakitan, Jihan panik dan berusaha menyentuh tangan lelaki itu. “Mas baik-baik saja?”


“Kepalaku sakit sekali! Aaaaarrrgghhh ....” Jerit Ammar semakin kencang.


Melihat Ammar mengerang kesakitan, Jihan semakin panik.


“Tolong! Mama .... Papa, tolong!” Teriak Jihan. “Mas, bertahanlah! Istigfar!”


Ammar yang semakin kesakitan sama sekali tak menggubris ucapan Jihan. Dia terus mengerang sambil memegangi kepalanya.


“Astagfirullah, ada apa ini?” Arif pun ikut berlari menyusul besannya dan kaget melihat Ammar mengerang kesakitan. Sedangkan Salma segera memeluk Jihan.


“Sepertinya Mas Ammar mencoba mengingat sesuatu dan dia kesakitan.” Sahut Jihan panik. Air matanya mulai berderai.


“Panggil dokter, Ma!” Pinta Yusuf. Anita bergegas menghubungi dokter pribadi yang menangani Ammar.


“Aaaaarrrgghhh ....” Ammar kembali mengerang, dia terduduk di lantai sembari memegangi kepalanya. Tubuhnya dipenuhi keringat, urat-urat leher serta wajahnya menegang dan terlihat sangat jelas.


“Ammar, bertahanlah! Dokter akan segera datang.” Ucap Anita yang juga tak kalah panik.


Yusuf dan Arif membantu Ammar berdiri lalu memapahnya ke tempat tidur, lelaki rupawan itu terus mengerang kesakitan. Kepalanya serasa ingin pecah, sakit luar biasa.


☘️☘️☘️


Ammar sudah lebih tenang dan akhirnya tertidur setelah dokter Ali menyuntikkan obat penenang. Untung saja dokter pribadi keluarga mereka itu tinggal tak jauh dari rumah Ammar, sehingga dia bisa datang lebih cepat.


“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia bisa sampai seperti ini?” Tanya dokter Ali.


“Tadi tiba-tiba dia bertanya tentang masa-masa kami sekolah. Sepertinya dia mengingat sesuatu.” Jawab Jihan.

__ADS_1


“Dia terlalu memaksakan diri untuk mengingat semuanya. Pasti ada pemicu, mungkin saja dia melihat atau mendengar sesuatu?”


“Saya kurang tahu, Dok.” Sahut Jihan. Dokter Ali mengembuskan napas.


“Apa ini berbahaya, Dok?” Cecar Yusuf cemas.


“Berbahaya kalau terlalu sering, karena akan merusak saraf di kepalanya. Jadi sebaiknya usahakan agar dia enggak memaksakan diri untuk mengingat terlalu ekstrem sampai membuat dia stres. Biarkan ingatannya kembali secara perlahan dan bertahap.” Ungkap dokter Ali.


“Biasanya dia enggak begini. Sudah enam bulan belakangan ini dia tak pernah berusaha mengingat apa pun lagi, dia sepertinya sudah bisa menerima keadaannya. Tapi kenapa sekarang ....” Kata Anita sambil terisak-isak.


“Seperti yang saya katakan tadi, pasti ada pemicu yang membuat dia kembali berusaha mengingat masa lalunya. Coba pelan-pelan kalian cari tahu. Tapi ingat! Jangan biarkan dia memaksakan diri lagi.” Ujar dokter Ali.


“Baik, Dok.” Balas Yusuf.


“Kalau begitu saya permisi dulu. Selamat siang.”


“Terima kasih, ya, Dok. Selamat siang.”


Dokter Ali pun meninggalkan kediaman Ammar.


“Sebaiknya sekarang kamu istirahat juga, sayang. Kamu kan sedang sakit.” Pinta Anita sambil memegang tangan Jihan.


“Iya, Ma.” Sahut Jihan.


“Kami keluar dulu, ya?” Ucap Anita. Dan Jihan mengangguk.


“Kalau butuh apa-apa, panggil saja Ummi.” Sela Salma.


“Baik, Ummi.”


Kedua pasangan suami istri paruh baya itu pun bergegas keluar dari kamar Ammar, meninggalkan Jihan bersama suaminya itu.


Selepas kepergian mereka, Jihan memandang Ammar yang sedang terlelap akibat pengaruh obat, titik-titik keringat masih tampak di keningnya.


“Maafkan aku, Mas. Seharusnya aku lebih bisa menahan diri agar enggak mengatakan semuanya.” Sesal Jihan.


Jihan sengaja tak menceritakan yang sebenarnya kepada orang tua Ammar, sebab tak ingin membuat beban pikiran mereka jika mengetahui selama ini putranya sudah dipermainkan oleh Miranda.


“Sebenarnya siapa Miranda itu?” Jihan bertanya-tanya seraya terus memandangi wajah lelap Ammar.


☘️☘️☘️

__ADS_1


__ADS_2