Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 18.


__ADS_3

Setelah selesai makan siang, Ammar bergegas mengajak Jihan kembali ke lantai atas, meninggalkan orang tua mereka yang masih mengobrol di meja makan.


“Sekarang juga pindahkan barang-barang mu ke kamarku! Mama dan Papa pasti memakai kamar ini nanti.” Pinta Ammar.


“Iya, Mas.” Jihan mengangguk dan segera membereskan barang-barangnya.


“Cepatlah sedikit! Sebelum mereka naik dan memergoki kita.” Desak Ammar tak sabar.


“Sebentar, Mas. Barang aku kan banyak!”


Mau tak mau Ammar pun turun tangan dan membantu Jihan memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.


“Sudah semua?” Tanya Ammar memastikan.


“Sepertinya sudah, Mas.”


“Ya sudah, sini kopernya!” Ammar merampas koper dari tangan Jihan, lalu membawanya ke kamar. Sedangkan Jihan membuntuti sang suami.


“Malam ini kau tidur di sini. Tapi kalau Mama dan Papa sudah pulang, kau bisa kembali lagi ke kamar itu.” Ujar Ammar.


Jihan sedikit tegang, dia merasa gugup karena harus tidur sekamar dengan Ammar. Tapi tak ada pilihan lain lagi, mereka harus berpura-pura menjadi suami istri yang harmonis di depan kedua orang tua mereka.


“Iya, Mas. Hem, tapi aku tidurnya di sofa saja, ya?” Ragu-ragu Jihan bertanya.


“Terserah kau mau tidur di mana saja, yang penting tetap di dalam kamar ini.” Sahut Ammar.


Jihan kembali terdiam dengan raut wajah sedih, ternyata Ammar masih saja bersikap acuh tak acuh kepadanya.


☘️☘️☘️


Hari telah berganti malam, Arif dan Salma sudah pulang sebelum Magrib tadi. Kini Jihan bersama Yusuf dan Anita sedang melaksanakan Shalat isya berjamaah, sementara Ammar lebih memilih untuk bermain ponsel di kamarnya.


Setelah selesai Shalat, Jihan mencium tangan kedua mertuanya itu.


Anita menggenggam tangan Jihan dan menatap menantunya itu penuh harap. “Sayang, Mama harap kamu selalu sabar mendampingi Ammar. Mama ingin Ammar kembali seperti dulu, jadi Ammar yang ceria dan hangat lagi. Dan Mama yakin kamu yang bisa membuatnya kembali.”


“Insya Allah, Ma. Aku akan selalu sabar menghadapi Mas Ammar dan membantu dia menjadi Ammar yang dulu.” Balas Jihan.


“Terima kasih, ya, sayang?” Anita memeluk Jihan. Yusuf hanya tersenyum melihat interaksi istri dan menantunya itu.


“Iya, Ma. Sama-sama.” Jihan membalas pelukan mertuanya itu.


Anita melepas pelukannya dan menangkup pipi Jihan dengan kedua tangannya. “Sekarang kamu istirahat, ya? Biar badannya fit lagi.”

__ADS_1


“Baik, Ma.” Jihan mengangguk patuh. “Aku ke kamar dulu, Ma, Pa. Selamat malam.”


“Iya, sayang. Selamat malam.” Balas Anita.


“Selamat malam, Jihan.” Jawab Yusuf.


Jihan beranjak dan melangkah meninggalkan kedua mertuanya itu. Badannya masih terasa tidak enak, meskipun demamnya sudah mulai turun.


Jihan membuka pintu kamar dan masuk dengan perlahan, tapi dia tak menemukan sosok Ammar di sana. Namun netranya menangkap pintu balkon kamar yang terbuka, Jihan melangkah mendekati pintu itu dan mendapati Ammar sedang duduk melamun di balkon, menatap langit malam dengan pandangan kosong dan penuh kekecewaan.


“Mas?” Tegur Jihan. “Sedang apa di sini?”


Ammar menghela napas, namun tak mengalihkan pandangannya ke Jihan.


“Aku masih enggak menyangka Miranda tega membohongiku seperti ini.” Ujar Ammar.


“Mas yang sabar. Jangan banyak pikiran, nanti sakit lagi.”


Ammar hanya diam, tak berniat membalas kata-kata Jihan. Tapi tiba-tiba Ammar menatap Jihan dengan saksama, membuat Jihan harus menelan ludah berkali-kali.


“Aku mohon bantu aku mengingat semuanya! Ceritakan tentang masa-masa sekolah kita!” Pinta Ammar.


Jihan kembali menelan ludah, dia bingung antara harus menuruti atau menolak permintaan suaminya itu. Dia tentu takut Ammar kembali kesakitan seperti tadi jika dia nekat memaksakan ingatannya lagi.


Ammar menyela cepat sehingga Jihan tak sempat melanjutkan kata-katanya. “Ceritakanlah! Aku akan baik-baik saja. Aku berjanji enggak akan memaksakan diri untuk mengingat, aku hanya ingin mendengarnya darimu saja.”


Melihat Ammar menatapnya penuh harap, Jihan tak sampai hati untuk tetap menolak. “Baiklah, Mas. Tunggu sebentar.”


Jihan beranjak dan mengambil pigura foto yang dia simpan di dalam koper karena tadi Ammar menyuruhnya pindah kamar. Jihan pun kembali mendekati Ammar dan mulai menceritakan masa-masa sekolah mereka sembari menunjukkan satu persatu teman-teman mereka yang ada di dalam foto itu, dan Ammar mulai menghafal nama teman-temannya.


Dia juga menceritakan bagaimana Ammar menggodanya setiap ada kesempatan, tingkah jahil Ammar serta almarhum Irvan. Dan di luar dugaan, Ammar malah tertawa saat mendengar kenakalannya.


“Ternyata aku senakal itu dulu?” Ammar tertawa sambil geleng-geleng kepala. Dia hanya sekedar mendengar cerita Jihan tanpa berusaha mengingat apa pun, karena tak ingin kepalanya sakit lagi.


“Mas dan mendiang Irvan bukan hanya nakal, tapi juga enggak punya perasaan.” Lanjut Jihan.


Ammar mengernyitkan keningnya. “Kenapa kau mengatakan seperti itu?”


Jihan menceritakan semua perundungan yang dilakukan oleh Ammar dan Irvan terhadap Abbas, kecuali adegan pengurungan itu, karena memang Jihan tak pernah mengetahuinya. Wajah tampan Ammar pun seketika berubah sendu mendengar cerita sang istri.


“Aku sungguh melakukan hal itu?”


Jihan mengangguk. “Iya, kalian selalu mem-bully dan menghina Abbas. Padahal dia enggak pernah punya salah. Saat itu aku juga merasa kesal dengan kelakuan kalian, tapi aku enggak bisa berbuat apa-apa.”

__ADS_1


Ammar mengembuskan napas berat. “Sepertinya aku harus meminta maaf kepada anak yang bernama Abbas itu.”


“Iya, seharusnya memang begitu, Mas.”


“Apa kau tahu di mana dia sekarang?” Tanya Ammar.


“Aku enggak tahu, Mas. Beberapa bulan sebelum kelulusan, dia menghilang. Tak ada yang tahu dia ke mana. Dan aku sempat mendengar rumor, dia pergi ke luar negeri. Tapi enggak tahu isu itu benar atau enggak.”


Ammar hanya tertunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dia merasa menyesal telah berkelakuan buruk terhadap Abbas waktu itu.


“Hemm, Mas. Ada yang mau aku tanyakan.”


“Apa?” Tanya Ammar masih dengan posisi yang sama.


“Kenapa Mas tiba-tiba ingat tentang masa-masa sekolah kita? Apa ada yang Mas lihat atau dengar sebelumnya?” Takut-takut Jihan bertanya, namun dia tetap harus mencari tahu pemicu Ammar bertanya tentang masa lalunya.


Mendengar pertanyaan Jihan, Ammar sontak mengangkat kepalanya dan menatap wanita yang sedang duduk di sisinya itu, membuat Jihan sedikit takut.


“Kau enggak perlu tahu!” Jawab Ammar datar. Dia tak mungkin mengatakan dari mana dia mengetahui semuanya, sebab tak ingin Jihan tahu bahwa dia sudah lancang masuk ke kamarnya.


Jihan hanya terdiam sambil memainkan jemarinya, dia sedikit takut kalau-kalau Ammar marah karena pertanyaannya barusan.


“Hemm, tapi tunggu! Tadi kau bilang aku pernah mengatakan jika aku akan selalu menjaga dan melindungimu, bukan?”


Jihan mengangguk.


“Kenapa sama seperti yang Miranda katakan? Dia juga bilang kalau aku berjanji seperti itu kepadanya sewaktu sekolah. Ini enggak mungkin kebetulan.”


“Kalau begitu Mas harus cari tahu. Seperti yang aku katakan, tetaplah bersikap biasa saja dan selidiki tentang dia.” Pinta Jihan.


“Iya, kau benar. Walaupun aku enggak pandai bersandiwara, tapi aku akan coba.” Sahut Ammar.


“Aku akan siap membantu jika Mas butuh.”


Ammar tersenyum manis. “Ya sudah, sekarang kau istirahat. Bukankah kau sedang sakit?”


“Iya, Mas.”


“Aku mau keluar menemui Papa dulu.” Sambung Ammar dan segera beranjak meninggalkan Jihan yang masih terkesima sebab merasa bahagia karena Ammar baru saja tersenyum begitu manis kepadanya.


Jihan mengakui, sejak di rumah sakit tadi, sikap Ammar berubah menjadi lebih lembut dan peduli kepadanya, meskipun terkadang masih sedikit menyebalkan dan terlihat acuh tak acuh. Tapi itu sudah cukup membuat Jihan bersyukur.


Jihan percaya Allah maha membolak-balikkan hati, jika Dia sudah berkehendak, apa pun akan terjadi. Dan wanita berparas ayu itu berharap ini akan menjadi awal yang baik untuk hubungannya dan Ammar. Insya Allah.

__ADS_1


☘️☘️☘️


__ADS_2